Sidang Tahunan KWI 2013: Jangan Biarkan Indonesia Dikuasai Orang tak Bermutu (2)

PADA kesempatan homili Misa Penutupan Sidang KWI 2013, Uskup Agung Palembang Mgr. Aloysius Sudarso SCJ juga menyitir soal Tahun Politik 2014 yang menurutnya sangat strategis dalam menyosong perjalanan Indonesia menuju masa depan.

Intinya, kata Monsinyur, Gereja Katolik Indonesia harus terlibat aktif untuk “mengawal” perjalanan strategis masa depan Indonesia yang terjadi melalui mekanisme pemilihan umum.

KWI, tanda Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, sangat mengharapkan partisipasi aktif dari seluruh anggota Umat Katolik Indonesia untuk peduli dengan peristiwa politik yang amat penting dan strategis demi masa depan bangsa dan negara Indonesia ke depan.

Gereja Katolik Indonesia –melalui KWI—dengan sangat mengimbau segenap umat katolik Indonesia yang merupakan bagian atau “anak” Bangsa Indonesia ini agar ikut mengawal perjalanan bangsa dan negara kita ini menuju masa depan yang lebih baik.

Caranya?

Mgr. Aloysius Sudarso dalam homilinya jelas mengatakan, bentuk partisipasi politik secara publik dari Umat Katolik Indonesia dalam Tahun Politik 2014 adalah dengan mengikuti proses politik dan menggunakan hak politiknya sebagai warga negara yang baik. Singkat kata, nyoblos dan nyontreng adalah hal yang sangat dianjurkan oleh KWI kepada segenap Umat Katolik Indonesi dimana pun berada.IMG_9431 Misa Penutupan Sidang KWI 2013 ok

“Dasarnya adalah menggunakan hati nurani yang jernih serta memilih figur-figur calon pemimpin/wakil rakyat yang integritas pribadi dan komitmen politiknya teruji dan dapat diandalkan,” kata Mgr. Aloysius Sudarso SCJ.

Dengan gamblang, Uskup Agung Palembang ini menjelaskan argumen KWI bahwa nyoblos atau nyontreng itu baik dan sebaiknya dilakukan oleh segenap anak bangsa, termasuk Umat Katolik Indonesia. Dengan menggunakan hak (politik)  warga negara yakni memilih wakil-wakil rakyat di Parlemen, maka umat katolik sudah berpartisipasi untuk mengawal perjalanan Republik ini secara bertanggungjawab.

Dengan menggunakan hak pilihnya secara tepat, cerdas dan bertanggungjawab, maka Umat Katolik Indonesia –tandas Monsinyur– itu sama artinya “Kita tidak ingin membiarkan bangsa dan negara Indonesia ini diperintah atau dikelola oleh orang-orang yang tidak bermutu”.Pancasila Garuda

Maka dari itu, jelas Monsinyur,memilih secara cerdas, tepat dan bertanggungjawab itu sangat mutlak. Misalnya, kita sebaiknya memilih orang-orang yang punya komitmen politik jelas untuk “setia” pada pilar kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana para Bapak Pendiri Bangsa ini sudah memformulasikannya.

Meski tidak menyebut terang-benderang, arah imbauan moral KWI ini sangat jelas. Yakni, semua umat Katolik di Indonesia dimana pun berada sebaiknya memilih calon-calon anggota Parlemen yang setia pada pondamen bangsa dan negara ini. Dan itu tiada lain adalah Pancasila dan UUD 1945. (Bersambung)

Photo credit: Misa Konselebran Penutupan Sidang KWI Tahun 2013 (ki-ka: Uskup Diosis Denpasar Mgr. Sylvestar San Pr, Uskup Agung Palembang Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo Pr, Uskup Agung Diosis Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, dan Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta Pr)  – Mathias Hariyadi

Tautan:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: