Sidang Koptari 2014 di Malino: Mistik dalam Banalitas Keseharian kita (2)

tangan tuhan by rebecca wellTEOLOG besar Karl Rahner SJ berkeyakinan bahwa setiap orang – bahkan orang yang mengaku diri tidak percaya kepada Tuhan sekalipun – yang hidup sederhana, tidak egois, jujur dan tulus, melayani sesama tanpa banyak bicara, rela berkorban dan berani menanggung penderitaan akibat melayani orang lain… itulah mistisisme dalam hidup keseharian. Di dalamnya terdapat pertalian bukan hanya […]

tangan tuhan by rebecca well

TEOLOG besar Karl Rahner SJ berkeyakinan bahwa setiap orang – bahkan orang yang mengaku diri tidak percaya kepada Tuhan sekalipun – yang hidup sederhana, tidak egois, jujur dan tulus, melayani sesama tanpa banyak bicara, rela berkorban dan berani menanggung penderitaan akibat melayani orang lain… itulah mistisisme dalam hidup keseharian. Di dalamnya terdapat pertalian bukan hanya antara kesatuan cinta Allah dan cinta sesama, melainkan juga dengan ajaran Kristus bahwa apa saja yang kamu lakukan untuk saudara-Ku yang paling hina ini kamu lakukan untuk Aku (Mat 25: 40).

Setiap orang yang melakukan hal-hal itu, biarpun ia bukan orang kristen, bahkan tidak mengenal Kristus, ia menghidupi mistik dalam hidup keseharian. Hal ini sejalan dengan teologi Karl Rahner yang disebut Kristen anonim (anonymous Christians atau semangat kristen tanpa nama kristen.

Demikianlah, bentuk terdalam dari pengalaman mistik hidup harian menurut Rahner adalah: cinta tanpa pamrih bagi sesama.  (Baca juga: Oleh-oleh dari Sidang Koptari 2014: Mistik dalam Keseharian Hidup)

Jika seseorang, tidak peduli beragama apa pun atau tidak beragama sama sekali, kalau ia dengan berani menerima dirinya dan hidupnya secara total dan penuh, meskipun semuanya nampak sia-sia dan tanpa makna atau hanya menuju kematian dan kehancuran, maka di situlah, sekurang-kurangnya secara implisit, Sang Misteri Agung itu akan mengisi kekosongan dirinya dan kehampaan hidupnya.

Dengan menerima kerapuhan kemanusiaan apa adanya, ia menerima Sang Misteri kehidupan itu sendiri.

Belajar dari Yesus

Apa yang paling mengagumkan (mukjizat dan pengajaran-Nya) dan juga yang paling menyedihkan (sengsara dan kematian-Nya di kayu salib) dalam kehidupan Yesus semuanya tetap terjadi di dalam bingkai pengalaman hidup harian. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa di dalam diri Yesus itu semua pengalaman yang sangat manusiawi mendapatkan bentuknya yang paling mendasar dan paling radikal.

Kita harus belajar dari Yesus sendiri untuk menjadi manusiawi (We have to learn from Jesus to be fully human). Di dalam diri Yesus, Allah telah merengkuh (mengenakan; merasakan; mengalami) pengalaman keseharian kita. Berkat keberadaan Yesus Putera Allah di antara manusia itu, maka mistik keseharian hidup kita menjadi sukacita dalam hidup di dunia dalam cahaya iman paskah untuk mengasihi secara penuh.

Partisipasi dalam kematian Kristus, meskipun hanya secara implisit sekalipun – karena tidak ada iman kepada-Nya – memampukan seseorang untuk mati bagi dirinya sendiri dan bagi dunia supaya menyerahkan diri kepada Sang Misteri Agung yang menyatakan diri-Nya dalam keseharian hidup kita. Dengan mengalami kematian-kematian semacam itu maka seseorang dapat mengambil bagian dalam kebangkitan Kristus. Inilah landasan kristologis dari mistik kehidupan sehari-hari.

Rahner membantu kita untuk “mengais dari sampah pengalaman yang amat biasa” (banalitas keseharian kita) untuk menemukan pengalaman rahmat dalam bentuk misalnya: merasakan pengharapan yang tumbuh dari pengalaman kesendirian dan kesepian; bertahan dalam kesetiaan doa-doa harian yang sudah membosankan dan tanpa makna lagi; berusaha untuk mengikuti bisikan hati nurani yang selalu menegur dan mengingatkan kita; tetap mengusahakan iman, pengharapan dan kasih, sekali pun di tengah-tengah tiadanya alasan untuk beriman, berharap dan mengasihi; menerima kenyataan adanya jurang perbedaan antara yang kita harapkan dan kenyataannya; dan akhirnya semua orang di dalam diam harus berhadapan dengan kematian.

Rahner menyatakan bahwa di dalam itu semua, Sang Misteri itu tetap melingkupi semua pengalaman manusiawi kita. Di mana ada ruang kosong yang menganga, misalnya akibat adanya sebuah perpisahan,atau oleh penyangkalandan penolakan, dan bahkan oleh kematian; di mana ada perasaan hampa yang tidak dapat dipenuhi oleh realitas dunia ini atau kejenuhan yang tidak bisa dihibur oleh kesibukan dan kegiatan apapun; atau oleh renungan dan santapan rohani yang paling bermakna sekalipun…di dalam keadaan-keadaan hampa itu pun…. di sana Tuhan ada.

Rahner menyebutkan sebagai contoh pengalaman teman setarekatnya Alfred Delp SJ dan beberapa temannya yang menandatangai kaul-kaul kekalnya dengan tangan yang diborgol untuk selanjutnya di bawa ke penjara Nazi Jerman kemudian mereka dihukum mati di Berlin karena menentang Hitler.

Atau seorang Jesuit lainnya yang menjadi pastor di penjara dan disambut dengan senang oleh narapidana bukan karena khotbahnya tentang Injil yang meneguhkan, melainkan terlebih karena tembakau yang dibawanya. Rahner berusaha untuk menjelaskan bahwa dalam pengalaman manusiawi yang begitu remeh dan biasa atau pengalaman yang begitu sial dan tragis, dalam segala kefanaan dan banalitasnya… di situ Tuhan ada. Kita tidak mungkin berkata bahwa di sana Tuhan tidak hadir.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply