Sidang KOPTARI 2014 di Malino: Menelisik Kembali Sejarah Panggilan Hidup Religius (2B)

Koptari suster taviana cb OKPANGGILAN religius bisa disebabkan oleh kemiskinan material yang membuat anak-anak muda berani untuk menjalani hidup membiara, karena sudah terbiasa dengan hidup yang sulit. Dalam kasus ini, kemiskinan bisa menjadi berkat yang tersembunyi (blessing in disguise) yang dipakai Tuhan untuk memanggilnya. Namun sering terjadi pula bahwa orang muda dari daerah miskin, menjadi “lahan pencarian panggilan” oleh […]

Koptari suster taviana cb OK

PANGGILAN religius bisa disebabkan oleh kemiskinan material yang membuat anak-anak muda berani untuk menjalani hidup membiara, karena sudah terbiasa dengan hidup yang sulit. Dalam kasus ini, kemiskinan bisa menjadi berkat yang tersembunyi (blessing in disguise) yang dipakai Tuhan untuk memanggilnya.

Namun sering terjadi pula bahwa orang muda dari daerah miskin, menjadi “lahan pencarian panggilan” oleh tarekat dari luar negeri, biarpun tarekat itu tidak bekerja di Indonesia.

Tarekat menjadi semacam penyaluran tenaga kerja. Bahkan pernah terjadi, bahwa pencari panggilan itu adalah suster-suster palsu dari luar negeri yang mencari gadis-gadis dari Indonesia untuk dipekerjakan di rumah-rumah tua di sana.

Namun panggilan bisa juga muncul di wilayah negara yang maju dan makmur, dimana orang-orang muda yang sudah mengalami kelimpahan material itu sampai pada kesadaran bahwa materi tidak bisa memuaskan kerinduan terdalam hati manusia akan kebahagiaan sejati. (Baca juga: Sidang KOPTARI 2014 di Malino: Menyadari dan Mensyukuri Penyelenggaraan Tuhan (2A)

Ada data bahwa panggilan di Korea Selatan yang kaya dan maju itu justru semakin meningkat.

Paus Fransiskus ketika bertemu dengan para Superior General Tarekat Religius seperti dilaporkan oleh P. Antonio Spardaro, SJ, menyatakan: “Gereja berkembang berkat kesaksian, bukan karena proselitisme. Kesaksian yang memiliki daya pikat itu berkaitan dengan sikap dan tingkah laku yang tidak biasa: jujur, rendah hati, sederhana, bermurah hati, lepas bebas, rela berkorban, berani melupakan diri untuk melayani sesama.

Itulah “kemartiran” hidup religius. Kesaksian semacam itu akan “berdering” bagaikan alarm yang membangunkan masyarakat. Kaum religius hendaknya membuat orang-orang bartanya:

“Apa ini? Sesuatu yang baru? Hal yang seperti ini belum pernah kita lihat. Orang-orang itu hidup di dunia ini namun sepertinya melampaui hal-hal yang duniawi.”

Dalam konteks masyarakat Indonesia, menghormati kebebasan beragama adalah sangat penting. Dalam terang ajaran Yesus, Konsili Vatikan II, dan Paus Fransiskus, maka menghormati kebebasan beragama bukan hanya atas dasar politis atau sebuah strategi saja: supaya bisa hidup berdampingan secara damai; melainkan hal itu sungguh sesuai dengan prinsip ajaran iman kita bahwa iman adalah urusan seorang manusia dengan Tuhan dan jawaban bebas manusia.

Koptari malino 3 OK

Suasana Sidang KOPTARI di Malino, Sulsel: Inilah suasana pertemuan konferensi nasional KOPTARI di Malino, Makassar, Sulsel. (Dok. Romo Albertus Sujoko MSC)

Iman dan panggilan

Soal iman adalah wilayah kekuasaan Roh Kudus dan hak prerogatif Allah Bapa di surga. Soal dialog dan relasi dengan umat beragama kita sungguh memiliki landasan iman dan teologis yang jelas dan kuat. Kita perlu menjadi promotor kerukunan hidup beragama di Indonesia. Kita ingin menjadi 100 % katolik dan 100 % Indonesia untuk membangun Indonesia yang sejahtera dan maju.

Dalam teologi positif Karl Rahner kita dapat mengatakan, kalau secara sosio-historis agama katolik belum memungkinkan di suatu komunitas manusia tertentu, maka agama yang ada di situlah yang dipakai oleh Allah untuk menyelamatkan mereka. Kalau mereka menghidupi nilai-nilai manusiawi yang juga dihayati oleh umat kristiani, seperti: belas kasih, kejujuran, saling menolong, pengampunan dan cinta kasih, maka mereka bisa disebut kristen anonim; atau kristen tanpa nama; karena semua yang humanum (manusiawi) adalah juga christianum (kristiani).

Secara politis, kedudukan agama minoritas di Indonesia juga sudah terlindungi dengan 4 pillar kesepakatan nasional: UUD 45, Pancasila; Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Empat pilar itu melindungi kita dari bahaya: gerakan Piagam Jakarta dan perjuangan terbentuknya Negara Islam Indonesia.

Tantangan panggilan yang semakin merosot: kita berhadapan dengan tipe baru orang muda zaman ini. Karena setiap manusia adalah anak zamannya, maka tipe baru itu bukan seluruhnya kesalahan mereka, melainkan pengaruh lingkungan sosial dan media sosial.

Dan lingkungan itu adalah: mentalitas masyarakat yang ditunjukkan oleh para pemimpin yang mengejar kekayaan dan kenikmatan; pornografi lewat media sosial yang menampilkan mitos dan penipuan terhadap realitas kehidupan seksual yang nyata.

Kita sering membaca berita kekerasan seksual yang begitu memilukan: orang yang sudah tua memperkosa anak-anak; ayah menghamili anak kandungnya; anak remaja laki-laki memperkosa teman remaja putri. Perselingkuhan dan perceraian marak terjadi dalam keluarga-keluarga.

Dan anak-anak selalu menjadi korban pertama yang harus menanggung akibat perceraian orangtua mereka.

Diusulkan supaya dibuat penelitian tentang panggilan supaya ada gambaran seperti apa profil psikologis para imam dan anggota lembaga hidup bakti di Indonesia itu. Apakah mereka cukup bahagia atau tidak dalam hidup panggilan mereka? Atau diperlukan pula seleksi panggilan secara psikologis supaya menghasilkan anggota yang mantap untuk siap diutus.

Formasi religius

Karena formation is for mission. Formasi untuk Gereja dan dunia. Formasi untuk misi.

Kebingungan dan kekosongan batin anak-anak muda yang sedang mencari indentitas diri lalu dihadapkan pada tawaran-tawaran kebahagiaan semu dari lingkungannya, kemudian berujung pada pelarian: narkoba, balapan liar dan seks bebas. Nafsu mengejar kenikmatan membutuhkan biaya dan untuk itu timbullah kejahatan yang menjadi ikutannya: korupsi untuk yang memungkinkan bisa korupsi; merampok untuk yang menganggur; dan dibuka lapangan kerja baru sebagai pemuas nafsu itu dalam: perdagangan perempuan; tempat-tempat prostitusi, penggundulan hutan, pencemaran lingkungan hidup, sampah, KLMTD, dll.

Secara moral, yang bisa mengejutkan dan mengherankan bagi kita adalah: dosa tidak disebabkan oleh maksud hati yang jahat, melainkan oleh maksud hati yang baik untuk melakukan apa yang ia anggap baik, tetapi bukan baik yang sesungguhnya. Kalau para pelaku korupsi, perampok, germo dan penyalur perdangan wanita itu ditanya: mengapa kamu melakukan hal itu? Maka jawabannya adalah: untuk mencari makan; untuk melayani permintaan pasar; untuk membantu ekonomi keluarga di kampung; dll.

Jadi motivasi adalah selalu baik; setan pun punya motivasi yang baik; kesalahan terletak pada: menganggap baik apa yang sesungguhnya jahat.

Kita, para religius sering tidak berdaya menghadapi masalah-masalah sosial yang begitu banyak. Kita tidak mempunyai dana, personalia, dan strategi yang cukup untuk mengatasi hal-hal itu. Namun, sebagai religius kita memiliki modal sosial yang cukup kuat. Kita adalah orang-orang yang dikenal baik dan dipercaya, yang dapat kita pakai untuk menjalin jaringan-jaringan.

Zaman sekarang: jika anda tidak memiliki jaringan, maka anda tidak bisa bekerja. If you have no net-working; you are not working. (Baca juga: Kabar dari Malino, Sulsel: Laporan tentang KOPTARI dan 64 Pemimpin Religius se-Indonesia Sidang Tahunan di Sulsel).

Maka dalam menghadapi masalah-maslah sosial dalam masyarakat, kita perlu membuka jaringan (komunikasi–koordinas–kolaborasi) dengan: penguasa pemerintah; anggota legislatif; partai politik; polisi; pengusaha; bahkan mungkin dengan para bos pelaku kejahatannya itu sendiri supaya bisa memberantas sampai pada akarnya. Dan dalam intern kita sendiri perlu kerjasama antar tarekat; antar paroki; antar keuskupan; Ada pula masalah sosial yang sangat dekat dengan kita semua yaitu kesejahteraan para karyawan di pastoran, susteran, dan biara-biara kita sendiri.

Kredit foto:Ketua IBSI yang baru St. Carolina CB (Provinsial Suster-suster CB Provinsi Jawa) bersama koleganya Sr. Taviana CB, Provinsial Suster-suster CB Provinsi Luar Jawa.  (Dok. Romo Albertus Sujoko MSC).

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply