Siap untuk Mati = Siap untuk Hidup

< ![endif]-->

2 November: Peringatan Arwah Orang Beriman

2 Mk 12:43-46; 1Kor. 15:12-34; Yoh. 6:37-40

Kita berdoa untuk yang sudah meninggal.

Kenangan akan yang sudah meninggal mengingatkan kita bahwa hidup itu akhirnya akan selesai, akan mati. Kenangan akan yang sudah meninggal mengingatkan kita akan pergulatan dan jatuh bangun mereka yang kita kasihi, semasa hidupnya di dunia.

Ada yang kita kenangkan dengan penuh syukur karena hidupnya berjalan baik, perjuangannya menjadi peneguhan iman bagi kita; kita boleh berharap dan yakin bahwa dengan apa yang sudah diperjuangkan di dunia, yang kini kita doakan, akan dan sudah berbahagia di surga. Tetapi ada juga orang yang kita doakan, memang sungguh-sungguh kita doakan, karena kita merasa dia ini butuh doa-doa kita agar kemurahan Allah sungguh dicurahkan di atas dia.

Karena ulah lakunya semasa hidupnya, tidak menunjukkan kedekatannya dengan Tuhan dan kesungguhannya untuk menyelamatkan dirinya untuk hidup kekal. Apa pun doa kita untuk yang meninggal, kita diingatkan bahwa hidup kita sekarang ini juga. Kepada kita dapat diajukan pertanyaan yang sama: hidup kita sekarang ini, hidup yang dapat disyukuri, karena hidup ini diberkati Tuhan dan berjalan di jalan Tuhan; atau hidup ini perlu sangat didoakan karena yang kita lakukan jauh dari Tuhan?

Dalam Injil Yoh. 6:40, kita baca:  Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman. Kita yang percaya, mendapat hidup kekal dan jaminan pasti akan bangkit pada akhir zaman. Dengan bahasa yang lebih sederhana: kita yang percaya kepada Yesus sudah dijamin selamat! Jadi kenapa kita susah? Ngapain juga kita hidup susah-susah? Kan sudah dijamin selamat? Seandainya setiap anak sekolah sudah dijamin pasti lulus Ujian Nasional, apakah mereka mau belajar untuk ujian?

Untuk lulus UN dengan sistim pendidikan yang perduli hasil, tanpa perduli ilmu, untuk tidak lulus, lebih sulit daripada lulus. Karena untuk tidak lulus, harus extra nakal, extra malas, sehingga tidak dapat ditolong lagi. Kalau kita jadi murid biasa-biasa, pasti akan dibantu untuk lulus. Tapi lulus untuk apa? Untuk keluar dari sekolah yang sekarang, tidak tahu akan diterima di mana, pada jenjang yang lebih tinggi.

Pikiran seperti itu, adalah pola pikir bahwa keselamatan, seperti juga kelulusan, adalah sesuatu yang ditambahkan dari luar kedalam hidup kita. Hidup dibiarkan jalan seperti yang sudah-sudah, ada usaha khusus, atau jaminan dari luar bahwa hasil akan baik.

Saya percaya bahwa Yesus mengasihi orang yang percaya kepadaNya dan tidak akan meninggalkan mereka. Tetapi apakah orang yang percaya, sekedar basah kepala, tidak sampai basah hati; kalau meninggal dapat masuk surga?

Pengalaman ibu Maria Sima yang bertemu dengan jiwa-jiwa di api pencucian; jiwa-jiwa itu bukan ditolak masuk surga. Tetapi ketidak pantasan mereka semasa masih hidup, menghambat mereka untuk dapat berjalan terus menuju surga. Mereka sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tapi belas kasih Tuhan, dapat menyentuh mereka melalui doa-doa kita.

Doa kita dalam Misa Arwah hari ini, memberi indulgensi penuh kepada satu jiwa yang kita doakan. Kita tentu mendoakan dalam keadaan pantas, tanpa dosa berat. Kesempatan ini masih berlangsung sampai tgl. 8 yad.

Sesudah itu, jiwa yang kita doakan mendapat indulgensi sebagian.

Tetapi ada murid yang belajar bukan untuk ujian, tetapi belajar untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Lulus bagi mereka adalah kesempatan untuk naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, kesempatan untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Lulus dengan baik, karena menguasai apa yang dipelajari adalah jaminan untuk masa depan; jaminan keselamatan di masa tua.

Ada sebuah cerita dari seorang dukun suku Indian. Dalam hati manusia, ada dua serigala. Satu hitam dan yang lain putih. Kedua serigala itu mewakili sisi baik dan buruk dalam hidup kita. Keduanya terus menerus berkelahi, mencoba saling mengalahkan. Demikian perkelahian itu berlangsung sampai kita mati. Ada seorang anak yang bertanya: “Akhirnya serigala mana yang menang?” Dukun itu menjawab: “Yang menang, serigala yang paling sering kita beri makan.”

Hari ini, bersama dengan mereka yang sudah mendahului kita, kita diingatkan. Hidup ini adalah suatu perjalanan menuju akhir jaman, menuju akhir hidup. Diujung hidup ini tersedia pilihan: surga atau neraka. Tuhan Yesus sudah memberi kita jaminan, yang percaya kepadaNya akan dibangkitkan pada akhir jaman, akan selamat. Kita memilih jadi murid pemalas, penerima janji lulus yang kosong?

Itu memberi  makan serigala hitam. Kita memilih belajar dan berjuang untuk mengisi hidup demi masa depan kita? Itu memberi makan serigala putih. Pilihannya terserah kita. Tuhan senantiasa mendampingi dan siap memberi berkatNya kepada kita. Amin.

Photo credit: Mendoakan arwah semua orang beriman (Ilustrasi/Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: