Siap Diutus

Nabi Yesaya

Sabtu 12 Juli 2014, Hari Biasa Pekan XIV
Yesaya 6:1-8; Mzm 93;1ab.1c-2.5; Matius 10:24-33

“Aku mendengar suara Tuhan berkata: Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku? Maka sahutku: Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8) 

NABI Yesaya mengalami penampakan hadirat Tuhan Allah yang memanggil dan mengutusnya. Panggilan dan perutusan yang dialaminya tidak terjadi di tengah pasar tapi di depan altar.

Inilah yang digambarkan pada Yesaya 6:1-3. “Aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.

Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan- Nya!”

Dalam suasana ibadah itulah Yesaya menerima panggilan dan perutusannya. Ia pun taat dan berkata, “Inilah aku. Utuslah aku!” Yesaya taat dan menjadi berkat bagi umat dan masyarakat.

Setiap kali kita mengikuti tata ibadah, terutama Perayaan Ekaristi, di akhir ibadah kita mendengar perutusan yang disematkan di bahu kita. “Perayaan Ekaristi sudah selesai. Pergilah kalian diutus.” Kita pun menjawab “Amin!” Artinya, kita setuju untuk diutus. Dengan kata lain, kita berkata seperti Yesaya, “Inilah aku, utuslah aku!”

Mau tidak mau, tata ibadah adalah dasar dan akar perutusan kita. Perutusan kita adalah buah dari tata ibadah. Karya dan tugas perutusan mengalir dari doa-doa dan tata ibadah kita. Karenanya, wajar bahwa Liturgi disebut sumber dan puncak seluruh kehidupan Gereja. Dari sanalah mengalir seluruh perutusan kita, baik secara diakonis, kerigmatis, maupun koinonia.

Sakramen Ekaristi pun menjadi sumber dan puncak hidup kita. Dari sanalah kita mendapatkan daya kekuatan untuk menjalankan tugas perutusan kita. Adorasi Ekaristi Abadi adalah kelanjutan dari Ekaristi Suci.

Maka, dari Adorasi Ekaristi Abadi pun mengalirlah perutusan kita untuk mewartakan dan mewujudkan kasih kepada sesama.

Tuhan Yesus Kristus, inilah aku utuslah aku menjadi rasul-rasul kemanusiaan yang bersumber dari Ekaristi dan Adorasi, kini dan selamanya. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: