Sia-sia Mencinta

mencintai tuhan by pastor paul

MALAS rasanya aku bangun dari tempat tidurku padahal sudah waktunya bangun dan bersiap-siap ke kampus. Hari ini aku malas sekali seperti telah melihat kabut hitam yang menyelubu- ngi hariku. Setanpun seakan-akan semakin semangat membujukku untuk tetap diam di atas ranjang tanpa harus pergi ke kampus dan melakukan aktivitas lain. Meski dengan sedikit rasa malas, aku bangun, membereskan tempat tidurku dan pergi mandi untuk bergegas ke kampus karena akibatnya fatal jika terlambat, ada dosen killer. “aku harus semangat, tetap semangat dan selalu semangat” batinku menyemangati diriku, aku tidak boleh malas! Dengan sedikit malas, berusaha pergi setengah jam sebelum mulai perkuliahan.

Suasana kampus masih sepi, hanya terlihat beberapa teman yang sudah hadir sejak pagi tadi.

“ hai, selamat pagi semuanya” sapaku pada mereka dan dijawab dengan senyum dan sapaan hangat. Aku bergegas ketempat dudukku, beristirahat sejenak  sambil  menunggu kedatangan teman-temanku. Agaknya perkuliahan hari ini ditunda sejam dari semestinya. Aku bersama teman-teman yang telah hadir juga berdiri di pelataran ruanganku dan terlihat olehku sebuah pemandangan baru yang mengubah rasa malasku, suatu penglihatan yang membahagiakan.

Aku terpana memandang dia yang jauh di sana… “siapakah dia yang kulihat itu?” batinku bertanya-tanya. Saking terpana, aku tidak mengalihkan pandanganku dan tidak menyadari jika dosen sudah ada dalam ruangan dan siap memberi materi. Pemandangan itu seakan menghipnotisku sehingga selama perkuliahan berlangsung pikiranku tak bisa kembali ke arah dosen. 1001 macam pertanyaan muncul dalam benakku tanpa ada jawabannya sama sekali. “ mengapa hanya melihatnya saja aku langsung mengagumi dirinya, siapakah dia?” Tampak olehku ketulusan hatinya….

“ dari mana datangnya sosok misterius itu sehingga baru saja nampak?” tanyaku di sore itu sambil menatap indahnya langit.

“ Mir..Mir, awas rasa kagum itu berubah jadi rasa cinta” kataku mememukul-mukul keningku.

Bukankah rasa cinta itu bisa menyerang siapa saja? Cinta itu seperti embun yang jatuh, di mana saja ia menginginkannya dan bisa hilang ketika matahari telah terbit? Jika pun aku jatuh cinta, mungkin cinta ini tetap terbelenggu karena aku tak mampu berbuat apa-apa selain menanti datangnya hati. “ akh, dasar gadis pemimpi bangunlah dari tidurmu!”

Hari masih begitu pagi, aku sudah selesai berpakaian untuk pergi ke kampus, jam menunjukkan pukul 07.00 itu berarti masih ada sejam lagi. “tak apalah aku pergi lebih awal, siapa tahu aku bisa melihat sesuatu yang membahagiakan” kataku sambil menuju “si putih” yang selalu siap mengantarku kapan saja dan ke mana saja.

Dengan santainya aku melaju disepanjang jalan sambil bernyanyi gembira. Keadaanku berbeda 100% dari hari kemarin. Tentunya suasana masih sunyi, hanya terlihat beberapa karyawan yang sedang membersihkan teras dan halaman kampus.

“selamat pagi pak”

“selamat pagi non, masih pagi-pagi sekali sudah datang?” tanya bapak senang sambil menunjukkan wajah bingung karena tidak biasanya aku datang sepagi ini.

“ ada urusan penting yang harus kuselesaikan pak makanya aku datang sepagi ini” jawabku sembari mohon pamit. Aku menuju ruang kelasku melewati beberapa ruang kosong. Tiba-tiba, aku berhenti  di depan sebuah ruangan karena terlihat olehku seseorang yang  tertunduk seperti sedang membaca tapi tidak terlihat jelas olehku siapakah dia. Aku memberanikan diri untuk menyapa karena pasti dia pasti seorang mahasiswa tingkat atas.

“ hai, selamat pagi kakak” kataku ramah. Tidak ada jawaban…. mungkin  karena suaraku yang terlalu kecil sehingga tidak didengarnya atau…akh, aku berdiri menanti jawabannya. Tak ada jawaban maupun reaksi lain, aku langsung beranjak pergi dengan perasaaan kecewa. Aku melangkah pelan berharap ada suara yang memanggilku dari belakang, tapi sungguh sebuah penantian  yang sia-sia.

Jam istirahat pun tiba, aku bersama beberapa temanku berdiri berdiri di pelataran ruangan, sekali lagi terlihat olehku sosok pribadi itu, ia tertunduk penuh konsentrasi, entah apa yang ia lakukan…..  membaca buku atau membaca sms dari seseorang. Dia yang tadi pagi kusapa. Ada 2 rasa yang muncul saat melihatnya, rasa kecewa karena sikap cueknya pagi tadi dan juga ada rasa yang lain. Aku terpesona melihatnya dari kejauhan, dia begitu jauh sehingga sulit ku raih. Meski cinta dapat mempersatukan tapi semuanya kurasakan mustahil.

Aku sendiri tidak mengerti, apa yang sedang terjadi dengan diriku, sepertinya rasa kagum itu membawaku pada rasa cinta, memberi ruang yang telah lama tertutup didalam kehidupanku. “Mir , bangunlah masa hanya depan melihatnya kamu bisa jatuh cinta?! Kadang penampilan luar berbeda dengan dalamnya, menipu” kataku pada diri sendiri menghilangkan rasa aneh yang muncul.

Dear diary,

Aku tidak mengerti dengan perasaanku sekarang . aku jatuh cinta, setelah sekian lama  mati rasa- rasaku. Aku jatuh cinta pada dia yang tidak kukenal, tapi aku tidak tahu apakah rasa itu muncul dari hati ataukah hanya karena obsesiku memiliki dia. Aku tidak ingin jatuh cinta lagi, setelah kehilangan dia yang aku cintai, aku tidak ingin terluka lagi karena mencintai. Kalaupun aku benar-benar jatuh cinta, buang rasa cinta ini,karena aku tidak ingin  mencintai sampai terluka. Meski rasa ini semakin kuat saat melihatnya, tapi aku tidak ingin lagi ada ruang untuk cinta dalam hati.

Waktu teruslah berjalan, aku belum juga mengetahui identitas sosok misterius itu. Sikap opti- mis dan pesimis bejalan seiringan: ingin rasanya ku mengenal lebih dia lebih dalam, tapi sikap acuh tak acuhnya membuatku tidak berusaha mencari tahu siapa dia.

Seperti biasa, aku berangkat lebih awal pagi ini, bukan sebagai detektif sosok misterius itu tapi untuk menyelesaikan tugas yang sempat tertunda. Aku sudah menyerah pada perasaan ini dari pada aku terbelenggu didalamnya. Aku menuju ruang kelasku dengan terburu-buru agar semuanya bisa terselesaikan sebelum banyak orang bermunculan. Tiba-tiba.. “ hai”, ada suara yang dan menyapa. Aku menoleh dan mendapatkan dia berdiri memandangku sambil tersen -yum manis. Antara bahagia dan malu….

“hai juga”

“ pagi-pagi begini sudah ada di kampus?

“ hmmmm, iya, kebetulan ada tugas yang harus kuselesaikan”

Kami berdua pun tenggelam dalam lautan cerita perjumpaan hari ini. Karena begitu bahagianya, aku sampai lupa tujuan awalku datang pagi ke kampus, tapi tak apalah ini juga anugerah Sang Kuasa. Semuanya sudah diatur indah oleh Tuhan, biarlah kunikmati saat ini dan di sini tanpa kuatir akan saat kemudian karena Ia yang merencanakan semuanya dan Ia pula yang menghendaki semuanya terjadi. Ku lirik jam tanganku, satu jam sudah kami lalui bersama, mau tak mau harus pergi….

“ Fadit, aku harus pamit…. terima kasih untuk perjumpaan ini”  untuk pertama kalinya aku menyebut namanya.

“ ok, Mira, selesaikan tugasmu dulu…senang bertemu dirimu” untuk pertama kali pula ia menyebut namaku…. Apakah ini untuk pertama dan terakhir kalinya ataukah akan disebut lagi?

Dengan tergesa-gesa aku menuju ruang kelasku dan beberapa teman sudah datang pula, aku bergabung bersama mereka agar tugas itu lebih cepat selesai. Semuanya terselesaikan dengan baik dan aku dengan rasa bahagiaku menemukan apa yang selama ini ku nanti melewati hari itu. Bahagiaku tak sempurna itulah yang kurasakan karena seakan-akan masih ada seseuatu yang belum lengkap yang diingini hatiku. Keinginan biarlah keinginan dan tiada tetaplah tiada.

Rasa kagum memenuhi hatiku setelah kejadian yang tiba-tiba itu. Tapi aku tidak ingin terpenjara dalam perasaan ini. Semakin kumenjauh darinya semakin kuat tali cinta ini men-gikat, bila ku mendekat rasa sakitlah yang menyerang tubuhku karena karena tak ingin melihatnya ada bersama orang lain. Aku berada dalam kedilemaan: melihat adanya aku ingin mendapati dia dan bercerita bersama tentang perasaan ini tapi ketika melihat acuhnya yang tingkat tinggi aku malas mendekat… dia terlalu asyik dengan dirinya. Sakitnya hati ini saat ia menjauh…. bukankah aku melihatnya dari kejauhan? Sekarang aku juga akan mencintai dia dari kejauhan. Mengapa rasa cinta ini hurus muncul? Mengapa? Kini kumemandang dia bukan lagi sebagai sahabat melainkan musuh yang harus ku taklukan. Dia yang dulu ku kagumi, harus kuhindari karena rasa ini… mengapa aku harus jatuh cinta lagi dan mengapa harus dia? Bukankah rasa ini sudah lama mati, tapi kini ada dia di sini untuk kucintai lagi… betapa sakitnya hati ini! Mengapa aku harus jatuh cinta? Ku pikir cinta itu membahagiakan seumur hidup namun ternyata aada ruang untuk sakit… sangat sakit bila mencintai dalam kesia-siaan.

Waktu berjalan terus dan hari berganti, aku tetap terpenjara dalam perasaan ini, ku menanti dalam kesia-siaan uluran tangan seseorang untuk mengeluarkanku dari penjara ini. Tidak ada sinyal-sinyal khusus, apa yang harus kulakukan, berdiam menanti sambil mencintai dalam hati ataukah ku hampiri dirinya dan memberitahukan perasaan ini? Tak ada jalan yang kutemui, diam dan merasakan sakitnya disia-siakan… Aku tidak ingin berharap pada kesia-siaan, lebih baik kulupakan perasaaan ini meski sakit harus kurasakan sedetik dari pada seumur hidup akan kurasakan. Tapi cinta ini tak bisa dikhianati meski sudah disembunyikan!! Ku menanti dan terus menanti walau dalam kesia-siaan sampai datangnya cahaya cinta yang membebaskan untuk menikmati indahnya mencintai dalam ketulusan.

 

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: