Shiny, Happy People

Ayat bacaan: Pengkhotbah 3:22
=============================
“Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?”

shiny happy people, bergembira dalam pekerjaan

Sedianya renungan yang saya rencanakan untuk ditulis hari ini adalah mengambil tema yang lain. Saya sudah memikirkannya sejak pagi, namun pada siang hari hingga sore, Tuhan menuntun saya melihat banyak hal seragam. Seragam? Ya, seragam, seperti judul renungan hari ini. Saya melihat shiny, happy, people all around. Agak aneh, karena sepanjang siang hingga sore sebenarnya hari sangat panas. Matahari bersinar sangat terik, tapi itulah yang saya lihat. Sehingga saya pun sampai pada ayat bacaan hari ini, and here I am, writing for you a really pleasuring experience for me today.

Tidak setiap hari kita bisa melihat wajah-wajah gembira, apalagi ketika krisis menerpa hampir seluruh belahan dunia. Hidup saat ini jauh lebih sulit, dan kata banyak orang akan semakin sulit. Di koran kita melihat hampir-hampir tidak ada tulisan yang membangun lagi. Isinya adalah PHK, bangkrut, dan kemudian berita-berita kriminal. Ketika hidup sulit, biasanya tersenyum pun menjadi barang langka. Itu yang biasa kita hadapi dan alami. Tapi hari ini saya bersyukur diberikan kesempatan untuk melihat sisi lain dari sebuah senyum bahagia, justru dari berbagai profesi yang mungkin dianggap rendah bagi sebagian orang.

Saya mulai dari yang pertama, seorang supir angkot. Saya mengenal supir angkot itu. Dia pernah bercerita bahwa tadinya ia hidup mapan dengan bekerja di sebuah pabrik. Namun ketika krisis moneter tahun 1998 melanda negeri kita, ia pun terkena PHK dan kemudian menjadi supir angkot hingga kini. Terhempas, itu kata orang, namun dia kelihatan tetap bisa menikmati profesinya saat ini. Beberapa kali saya naik angkotnya, atau berpapasan dengannya, dia tetap terlihat ceria, termasuk hari ini ketika saya bertemu dengannya. Dia senang bernyanyi ketika mengemudi, dan selalu ramah pada penumpangnya. Lalu saya melihat sekumpulan pengamen. Mereka menyanyi di pinggir jalan, bukan sedang menyanyi dari mobil ke mobil, dan kelihatan gembira.Padahal saya yakin hidup seperti itu sangat berat. Bayangkan apa yang anda hadapi sebagai pengamen. Penolakan, penolakan dan lagi-lagi penolakan. Itu jadi sesuatu yang biasa bagi mereka. Ketika kita dikritik sedikit saja mungkin sudah emosi, mereka menghadapi tangan-tangan terangkat yang tidak mau memberi bahkan sebelum mereka mulai menyanyi. Tapi itulah yang saya lihat hari ini, mereka bergembira! Kemudian seorang pengendara motor yang sedang mengangkut sayur. Orangnya kelihatan lusuh, namun ketika orang memberi jalan padanya, ia mengangguk dengan sangat ramah sambil mengacungkan jempol. Lalu satpam di kampus, yang terlihat begitu gembira hari ini. Dia terus tertawa, terus tersenyum. Seorang bapak yang bekerja sebagai administrasi di kampus saya, yang biasanya raut mukanya kaku, hari ini terlihat sangat ceria. Dia membawa putranya yang masih berusia 2 tahun ke tempat kerja dan bermain bersama anaknya. What a day, dan ini memberikan saya sebuah persepsi yang sangat indah. Kegembiraan bukan mengenai tinggi rendahnya pekerjaan, bukan mengenai banyaknya penghasilan yang diperoleh lewat pekerjaan, namun bagaimana hati kita menyikapi pekerjaan itu. Whether we like our job or not, what matter most is we enjoy it and be thankful for it.

Lihatlah apa yang ditulis Pengkotbah. “Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?” (Pengkotbah 3:22). Mencintai profesi atau tidak, Pengkotbah menyimpulkan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada bergembira dalam pekerjaannya. Jika kita tidak berbahagia dengan pekerjaan, apa yang bisa kita dapatkan? Berkeluh kesah sepanjang hari? Mengasihani diri berlebihan? Emosi? Adakah itu membawa manfaat atau malah membuat etos kerja kita menurun, mengganggu orang lain bahkan mendatangkan penyakit bagi diri kita sendiri? Amsal mengatakan bahwa “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” (Amsal 15:13). Atau lihatlah ayat lain: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22). Bekerja dengan hati yang lapang, hati yang gembira, itu adalah obat yang manjur dan menjaga kita agar tetap memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik.

Mungkin ada saat ini di antara kita yang mulai merasa jenuh dengan pekerjaannya, mungkin ada yang merasa bahwa pekerjaan saat ini tidak cukup baik, namun saya ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan pernah kekurangan cara untuk memberkati kita. Yang dituntut dari kita adalah bekerja sungguh-sungguh dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23), dan alangkah sulitnya untuk bekerja dengan segenap hati jika kita tidak memiliki hati yang gembira dalam melakukannya. Tinggi rendah pendapatan bukanlah alasan untuk bergembira atau tidak, karena hari ini saya menyaksikan begitu banyak orang dengan profesi yang bagi sebagian orang dianggap rendah, namun mereka tetap bahagia dalam melakukan pekerjaannya. Sebaliknya, tidak jarang kita melihat keluarga yang hancur, hidup orang yang jauh dari bahagia, padahal mereka memiliki kekayaan yang besar. Jika demikian, mengapa kita tidak mencoba memberikan setitik cinta pada pekerjaan kita, apapun itu, mengucap syukur atas pekerjaan itu kepada Tuhan, memberikan yang terbaik dari kita, dan melihat bagaimana luar biasanya Tuhan bisa memberkati kita lewat apapun yang kita kerjakan? Mari, kita belajar untuk bersyukur dan menikmati pekerjaan kita bersama Tuhan. Let’s become the shiny happy people!

Bergembira dan mengucap syukurlah senantiasa atas berkat yang diberikan Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply