Sharing Perjumpaan dengan Mgr. Johannes Pujasumarta

Mgr. Johannes Pujasumarta (ketiga dari kiri) dan teman-teman

HARI ini, dari pukul 08.55 – 10.55, saya berkunjung ke RS. Elisabeth, menengok Mgr. Johannes Pujasumarta. Berita-berita yang beredar simpang-siur tidak karuan tentang Mgr. Johannes Pujasumarta membuat beliau tersenyum dan bertanya, “Kok ada berita-berita seperti itu ya? Saya malah tidak tahu dari mana asalnya.”

Kondisi sebenarnya saat ini
Saat ini, Mgr. Johannes memang sakit dan sedang dalam pemantauan dan perawatan medik oleh Tim Dokter RS Elisabeth Semarang. Proses pemantauan dan perawatan dilakukan sebagai berikut sesuai dengan yang beliau BBM-kan pada hari Senin (30/06): “Rencana: Senin, 30 Juni 2014, jam 05.00 dari RS Elisabeth saya berangkat menuju bandara. Lalu, jam 06.00 pesawat tinggal landas menuju Jakarta. Saya diantar oleh Dr. Krispranarka, Dr. Mario dan Rama Aria Dewanto untuk mengadakan pemeriksaan di RS Gading Pluit. Petang nanti kembali ke Semarang. Doakanlah saya. Salam, doa ‘n Berkah Dalem +”

Atas BBM tersebut, yang saya terima persis sesaat setelah saya keluar dari jaga bakti (adorasi) di Kapel Adorasi Ekaristi Abadi Kebon Dalem, saya jawab demikian, “Injih Monsinyur, sejak pukul 03.55-04.55 tadi saya sudah mendoakan secara khusus untuk Monsinyur. Doa-doa kami selalu menyertai Monsinyur. Tuhan memberikan yang terbaik seturut kehendak-Nya. Sugeng tindak. Hasil pemeriksaan terbaik. Mukjizat Tuhan selalu nyata. Berkah Dalem.”

Mgr. Johannes menjawab, “Matur nuwun, Rama. Berkah Dalem +”

Dalam kunjungan saya hari ini, Mgr Johannes memang tidak tampak seperti orang sakit. Tak infus, tak ada respirator. Meski berat badan turun 4 kg, beliau begitu cerah ceria menyambut saya. Beliau mengenakan baju kotak-kotak. Beliau juga bilang, “Tulung berita-berita yang simpang siur itu diklarifikasi ya.” Lalu beliau menceritakan kondisi kesehatannya sebagai berikut.

Menurut diagnosa Tim Medik RS Elisabeth Semarang, ada “suatu massa” di lambung bagian kiri yang mendesak ke arah punggung. Itu yang memberi efek rasa sakit pada punggung. “Massa” itu DIDUGA kanker stadium empat yang merembet ke arah paru-paru.

Atas DIAGNOSA itu, maka dicarilah second opinion di RS Gading Pluit di Jakarta pada tanggal 30/6 lalu. Dilakukanlah yang disebut Pet (positron emission tomography) scan, yang hasilnya masih dikonsultasikan ke Kalbe (?) dan butuh waktu lima hari, terhitung sejak 30/6. Itu berarti hasil pastinya dan langkah terapi apa yang harus ditempuh selanjutnya baru besok (Jumat 04/7) akan diketahui.

Jadi kalau selama ini ada berita-berita yang simpang siur mengatakan Mgr. Johannes kena kanker paru-paru merembet ke tulang sungsum dan getah bening, berita itu TIDAK BENAR atau sekurang-kurangnya tidak searah dengan proses pemeriksaan yang sedang berlangsung dan hasilnya baru akan diketahui besok (Jumat 04/07).

Pihak RS Elisabeth (melalui Sr Vick pun) mengatakan bahwa RS Elisabeth tidak pernah mengeluarkan statement tentang hasil pemeriksaan selama ini. Maka, Sr Vic juga heran, dari mana berita itu berasal.

“Aku rapopo”
Selama beberapa jam bersama beliau hari ini, beberapa kali saya mendengar beliau beberapa kali mengucapkan kalimat “Aku rapopo…” untuk menyambut para tamu yang datang membezoek.

Saat saya tiba di kamar beliau Anna 405, saya mengetuk kamar sambil bilang, “Saya Monsinyur… Kula nuwun.” Mendengar suara saya, beliau langsung menjawab, “Romo Budi ya…” “Injih Monsinyur… Bagaimana kabarnya?”

Beliau pun lalu menceritakan kondisi kesehatan beliau seperti yang saya sampaikan tadi, termasuk bertanya, tentang berita-berita yang beredar sementara beliau sendiri tidak tahu-menahu dari mana asalnya. Beliau malah bertanya, “Kanker getah bening ki kepiye ta (Kanker getah bening itu seperti apa/bagaimana ta)?” “Wah saya juga tidak tahu Monsinyur” jawab saya.

“Aku ora ngrokok kok kena kanker paru-paru ya. Padahal yang merokok kamu…” Seloroh beliau sambil tertawa. “Saya juga sudah mengurangi rokok kok Monsinyur. Kalau bisa ya berhenti.” Kami sama-sama tertawa.

Sementara itu, datang rombongan Mbak Ning CS (bertiga) dari Penerbit Kanisius Yogyakarta). Mbak Ning CS pulang, datanglah Rm Tri Hartono bersama seorang Suster AK masuk. Kami bersalaman. Ngobrol ngalor-ngidul tentang usia dan Romo-Romo yang meninggal pada usia 65-an.

Tak lama setelah itu datanglah Rombongan para Suster dari Yogya. Para Suster Alma (?) dari Brebah. Setelah itu rombongan para Suster AK. Lalu datanglah Suster Susana dan Suster Vic OSF. Para Suster datang dan pergi. Di antara itu datanglah Pak Adi (lawan main bulutangkis saya 10 tahun silam di Katedral Semarang) dan kami pun malah foto-foto bersama Monsinyur. Foto terlampir.

Selama menerima tamu Mgr. Puja berkata, “Wah, biasanya kalau di Wisma Keuskupan tamu saya tidak banyak. Sekaramg di sini tamu saya banyak.”

Sr Vic pamitan dengan pesan, Monsinyur harus istirahat. Agar Monsinyur bisa beristirahat, maka tamu akan dibatasi. Oleh karena, pintu kamar akan dikunci dari luar hahaha. Saya bercanda, “Suster saya siap jadi satpam di depan pintu. Tapi harus ada SK hahaha…”

Begitulah, setelah Sr Vic keluar kamar pintu pun mulai dikunci dari luar, tinggallah kami bertiga: Mgr. Johannes, saya dan salah satu adik beliau yang menjaga Bapak Uskup.

Kami berdua ngobrol tentang situasi politik menjelang Pilpres yang kian panas. Kami juga ngobrol tentang Adorasi Ekaristi Abadi. [Pada hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang lalu, Mgr. Johannes masih mengirimkan BBM kepada saya sbb: “Rama Budi Purnomo, terimakasih atas ketekunan dan kesetiaan Rama menyebar-luaskan devosi Ekaristi Sakramen Mahakudus. Selamat Hari Raya Tubuh n Darah Kristus. Berkah Dalem!+”

Sementara itu, saat kami ngobrol, ada pembezoek yang mau masuk tapi tidak bisa karena pintu sudah terkunci dari luar. Setelah saya lihat, ternyata Rm Prasetya dari Kendal mau bezoek tidak bisa masuk. Saya memberi kode bahwa pintu dikunci dari luar, kunci dibawa perawat.

Syukurlah, perawat membuka pintu dan Rm Pras bisa masuk. Ternyata Rm Pras datang bersama dua orang ibu. Monsinyur pun mempersilahkan dua ibu tersebut ikut masuk setelah beberapa saat merek menunggu di luar.

Setelah itu, datang juga seorang bapak, Bp Paulus Herwono utusan dari Pak Dibyo pemilik bus Bandung Express. Melalui perangkat komunikasi Pak Herwono, Mgr Puja berbicara dengan Pak Dibyo. Pak Dibyo menawarkan akan mengirimkan susu kambing Etawa dari Bandung.

Monsinyur juga bercerita tentang Pak Dibyo dan hutan serta ternak kambing Etawanya di Bandung dan tentang bunga Kanthil yang ditanam Pak Dibyo dan juga antara lain ada di Gua Maria Kerep Ambarawa.

Beberapa saat setelah itu Rm Pras dan rombongannya pamit. Saya pun mohon pamit. “Terima kasih Romo Budi sudah menemani…” Beliau masih sempat ngendika (berkata), “Adorasi jalan terus ya…”

Saya jawab, “Baik Monsinyur!”

Begitulah sedikit cerita tentang Bapak Uskup Agung Semarang per hari Kamis, 3 Juli 2014 hingga kurang lebih pukul 11.00 WIB, hari ini.

Apa pun keadaan Mgr. Johannes Pujasumarta dari hasil pemeriksaan Pet scan besok, kita tetap berdoa agar kesehatan beliau pulih seperti sedia kala.

Pada prinsipnya: beliau menyerahkan seluruh proses perawatan dan pengobatan ini kepada Tim Medik. Ada beberapa alternatif untuk proses penyembuhan atas diagnosa tersebut, yang utama akan ditempuh adalah jalur medik. Semua diserahkan kepada Tim Medik. Itulah beberapa hal yang bisa saya sharingkan sekaligus moga-moga bisa menjadi klarifikasi atas berita-berita/sms/BBM yang beredar.

Bagaimana pun, Mgr. Johannes tetap berterima kasih atas doa-doa yang dipersembahkan umat kepada Tuhan untuk kesehatan beliau.

Baiklah saya akhiri sharing saya ini dengan mengutip lagu yang beliau buat dan nyanyikan dalam Album Kolaborasi yang kami launching beberapa waktu lalu dalam rangka Pembangunan Wisma TOR Sanjaya Jangli.

“Pie Pellicane Iesu Domine
Me imundum munda Tuo sanguine
Cuius una stilla salvum facere
Totum mundum quit ab omni scelere

Burung Pelikan Yesus Kristus Tuhan
Dengan Dara-Mu bersihkanlah aku
Setetes Darah-Mu selamatkanlah
Sluruh muka bumi dari dosa”

Kredit Foto : Mgr. Johannes Pujasumarta (ketiga dari kiri) dan teman-teman  (Al.Budi Purnomo)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: