Sharing Pengalaman Para Guru di Paroki Pemalang, Pekalongan

Elementary schoolTELAH lama para guru katolik se paroki tidak berkumpul. Bahkan ada yang mengatakan belum pernah berkumpul. Siang hari beberapa waktu kemarin ini, mereka diundang pastor paroki untuk duduk bersama dan sharing tentang kerasulan pendidikan di tempat mereka masing-masing. Inilah saatnya mereka bercerita dan didengarkan. Meski undangan pukul 09.30, sejak pukul 08.00 sudah ada yang datang […]

Elementary school

TELAH lama para guru katolik se paroki tidak berkumpul. Bahkan ada yang mengatakan belum pernah berkumpul.

Siang hari beberapa waktu kemarin ini, mereka diundang pastor paroki untuk duduk bersama dan sharing tentang kerasulan pendidikan di tempat mereka masing-masing. Inilah saatnya mereka bercerita dan didengarkan.

Meski undangan pukul 09.30, sejak pukul 08.00 sudah ada yang datang dari jauh, paling jauh 30 km yakni daerah Cangak, Bodeh, sampai Moga dan Bantarbolang. Memang para guru tersebar hingga ke pelosok.

Di antara mereka ada yang sudah berkarya 32 tahun dan 28 th. Itu artinya mereka sudah diterima dan berdomisili menyatu dengan masyarakatnya.

Ada yang mengisahkan bahwa ketika ia akan dipindah, kepala desanya “nggendholi” atau mempertahankan supaya jangan dipindah. Ada pula yang berpindah-pindah dan semuanya sekolah agamis yang kuat. Setiap kali memasuki sekolah yang baru sudah biasa diperlalukan sebagai orang asing apalagi dengan predikat guru nasrani.

Para murid pun mulai kasak kusuk dan bertanya apa artinya IGN di depan nama pak Guru. Pak guru pun menjelaskan,”Ign itu kependekan dari Ignasius. Itu nama baptis dan Pak Guru ini orang Katolik” demikian ungkap salah seorang guru.

Pertemuan para guru juga menjadi kerinduan gembala paroki mengingat peran Guru dalam menyebarkan kabar sukacita sungguh sentral. Kalau jumlah baptisan akhir-akhir ini menurun, tanda apakah ini?

Para guru dimotivasi untuk ikut memperhatikan “ngopeni” siswa-siswi yang beragama katolik dan tetap menjadi saksi dimana pun mereka bertugas. Kedisiplinan, kejujuran dan kelemahlembutan masih menjadi keutamaan mereka yang dipegang teguh.

Elementary school

Guru SD mengajar: Seorang ibu guru di sebuah SD Katolik tengah mengajar di luar kota Pangkalpinang, Pulau Bangka, Provinsi Babel. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Beberapa guru mengungkapkan bahwa identitas guru katolik terletak dalam sikap hidup dan keteladanannya seperti Kristus. Bahkan ada beberapa guru yang meski bukan guru agama, tetapi minta ijin kepada kepala sekolahnya untuk memberi pelajaran agama katolik pada murid di sekolahnya yang beragama katolik.

Empati untuk memelihara iman pada anak-anak masih terdengar mengharukan. Yang lain lagi mengusulkan agar paroki memberi bantuan dana pendidikan bagi para murid yang miskin. Ada yang mengungkapkan bahwa selama tiga tahun, baru bisa melunasi seluruh biaya SPP nya. Lain lagi ada yang mengusulkan perhatian dari paroki untuk para guru muda yang masih jomblo. Mereka mengkhawatirkan kalau-kalau iman mereka tidak kuat dan hanyut dalam perkawinan di luar katolik.

Masih beberapa hal lain yang dibicarakan dalam pertemuan para “bethara guru” siang ini. Kerinduan mereka untuk bertemu dan bercerita masih berujung pada usulan agar di lain kesempatan ada lagi moment semacam ini. Masih beberapa guru yang belum sempat hadir dalam pertemuan yang baru dihadiri 60 an orang ini.

Pertemuan diakhiri pukul 11.45 wib dan semua tampak lega meskipun tidak semua masalah berujung pada solusi.

Kredit foto: Ilustrasi (Anak-anak SD belajar/Mathias Hariyadi)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply