Setia Hingga Akhir

Ayat bacaan: 2 Korintus 4:18
=======================
“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”

setia hingga akhir, fokus pada Yesus

Setelah membaca kisah Henokh kemarin, mungkin ada sebagian dari kita yang berpikir bahwa tantangan hidup di masa Henokh dan masa kini sudah jauh berbeda. Pada jaman Henokh hiburan belumlah sebanyak sekarang, teknologi belum secanggih saat ini, fasilitas-fasilitas dan kebutuhan belum sekompleks jaman sekarang. Tantangan hidup saat ini mungkin lebih berat, mungkin juga tidak. Saya tidak tahu, seperti apa hidup di masa Henokh. Mungkin setiap jaman memiliki kesukarannya sendiri, tantangan sendiri dan permasalahannya sendiri. Yang pasti, siapapun manusia, di masa manapun, berbagai kesulitan hidup akan terus hadir. Menjalani hidup sulit bukanlah alasan untuk meninggalkan kesetiaan kita kepada Tuhan. Saya yakin jika Henokh bisa, kita pun bisa. Jika Henokh mampu melepaskan kedagingannya, kita pun pasti bisa. Karena Henokh dan kita adalah sama-sama manusia juga.

Berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan dunia yang begitu penuh gejolak ini mampu meruntuhkan kepercayaan kita dan membuat kita kehilangan pengharapan. Banyak orang yang akhirnya berubah meninggalkan Tuhan akibat tekanan bertubi-tubi yang tidak lagi mampu ia hadapi. Penderitaan hidup, kemiskinan, terlilit hutang, penyakit yang tidak sembuh-sembuh, kepahitan, kemarahan, sakit hati, jodoh dan sebagainya. Di sisi lain, limpahan harta kekayaan, jabatan, popularitas, sibuk menimbun uang dan sejenisnya, juga mampu membuat manusia kehilangan arah. Menyimpang ke kanan atau ke kiri, tidak lagi lurus melangkah di jalan Tuhan. Belum lagi berbagai penyesatan dari media hiburan, pola hidup modern yang menyimpang dan sebagainya. Ada 1001 macam kejadian yang bisa membuat kita meninggalkan Tuhan jika tidak hati-hati.

Menjaga diri agar tetap setia sampai akhir dengan tetap memelihara iman akan membawa kita untuk menerima mahkota kebenaran atas karunia Tuhan. Paulus mengatakan hal itu dalam 2 Timotius 4:7-8. Kita juga telah membaca kemarin bahwa Tuhan mau kita semua bisa menjadi orang-orang yang bergaul karib denganNya. Dengan bergaul karib bersama Tuhan kita akan melihat kekudusan Tuhan dinyatakan atas kita, kemuliaanNya bisa kita saksikan (Imamat 10:3) dan perjanjianNya pun akan kita ketahui dan terima. (Mazmur 25:14). Meski sulit, namun bukan tidak mungkin. Caranya dijelaskan oleh Paulus dalam suratnya pada jemaat Korintus. Paulus menyatakan dengan jelas bahwa ia bukannya hidup nyaman dalam pelayanannya. Ia pernah memaparkan segala yang ia alami dalam pelayanan. “..Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian “ (2 Korintus 11:23-27). Ini luar biasa beratnya! Namun menarik jika melihat bagaimana Paulus memandang itu semua. Paulus ternyata menganggap itu semua sebagai penderitaan ringan! “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2 Korintus 4:17). Ia menganggapnya ringan, karena apa yang ia alami di dunia ini jika mampu ia jalani dengan benar akan membawanya untuk memperoleh kemuliaan kekal, yang jelas jauh lebih berarti dibanding segala penderitaan yang saat itu ia alami. Inilah sebuah kunci yang mampu membuat kita untuk tetap fokus dan tidak kehilangan pengharapan dalam masa-masa sulit. Mari kita lihat lanjutannya. “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. (ay 18). Memperhatikan yang kelihatan, hal-hal duniawi, segala kesulitan dalam kehidupan di dunia bisa membuat kita menjadi lemah dan kemudian menyerah. Tapi yang tidak kelihatan, mengarahkan pandangan kepada sebuah kehidupan bersama Bapa di Surga kelak, itulah yang kekal. Dan itu semua bergantung dari bagaimana kita bersikap selama masa hidup kita di dunia ini.

Salomo jauh-jauh hari pernah mengingatkan demikian. “Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.” (Amsal 4:26-27). Berhati-hatilah pada jalan yang disangka lurus, namun ternyata berujung maut. (14:12). Hal-hal seperti ini harus kita cermati secara serius. Dalam keadaan apapun, bagaimanapun, kita harus mampu untuk terus setia pada Tuhan dalam perjalanan kehidupan kita agar kita mampu beroleh mahkota kehidupan kelak di akhir perjalanan hidup kita di dunia ini. Alangkah ironisnya jika kita sudah memulai dengan baik, namun di tengah perjalanan kita ternyata menyimpang ke kanan dan kekiri, keluar dari jalur yang menuju sebuah kehidupan kekal penuh kemenangan. Oleh karena itu janganlah putus pengharapan. Tetap arahkan fokus pandangan kita kepada Yesus Kristus dan peganglah janji-janjiNya. Percayalah, Tuhan kita adalah Allah yang selalu setia. “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.” (Ibrani 10:23).

Jagalah langkah kita agar tetap pada jalur yang lurus hingga akhir

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply