Setengah Penuh atau Setengah Kosong?

Ayat bacaan: Bilangan 13:27
=====================
“Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya…”

setengah penuh setengah kosong

Sebuah ungkapan tentang pandangan kita terhadap sesuatu sering digambarkan orang lewat contoh gelas yang setengah penuh/setengah kosong. Half empty and half full glass. Gelasnya sama, setengahnya berisi air. Apa yang anda lihat dari gambar di sebelah kiri, gelas setengah kosong atau setengah penuh, itu menggambarkan cara pandang anda terhadap sebuah situasi. Dalam meliput sebuah acara saya kerap menyaksikan perbedaan pandangan seperti ini. Ada wartawan yang menganggap bahwa penonton memenuhi sebagian dari ruangan, sebagian lagi menyebutkan bahwa hanya setengah ruangan yang terisi. Ruangannya sama, waktunya sama, tetapi cara pandangnya bisa berbeda terhadap orang yang berbeda. Pertanyaan tentang cara pandang terhadap gelas yang setengah berisi setengah kosong ini bisa dipakai sebagai sebuah tes kecil bagaimana sikap kita dalam memandang hidup. Orang yang punya pola pikir positif atau optimis akan melihatnya sebagai gelas yang setengah penuh, sebaliknya mereka yang pola pikirnya negatif atau pesimis akan melihatnya setengah kosong. Dalam sebuah gambar dengan kondisi yang sama, kesimpulan bisa berbeda, tergantung dari pola pikir yang mendasari diri seseorang.

Kita bisa melihat contohnya dalam sebuah kisah dalam kitab Bilangan pasal 13, yaitu ketika Musa mengutus 12 orang untuk mengintai tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan lewat Abraham (Kejadian 17:8). Pengintaian mereka selama 40 hari menyimpulkan hal yang sama, yaitu bahwa tanah yang dijanjikan Tuhan memang tanah yang makmur, berlimpah susu dan madunya. “Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya…” (Bilangan 13:27). Sampai di sini kesimpulan yang diperoleh kedua belas pengintai adalah sama. Tapi selanjutnya terjadi perbedaan pendapat dengan persentase yang tidak sebanding. 10 orang berkata bahwa bangsa yang tinggal disana adalah raksasa-raksasa yang jauh lebih kuat, menjadikan bangsa Israel hanya seperti belalang kecilnya dibanding mereka. “Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.” (ay 28-29). “Tidak ada harapan, tidak ada peluang..there’s no chance at all” itu kira-kira yang dikatakan 10 orang. Hanya Kaleb dan Yosua yang berpandangan beda dengan iman yang teguh pada Tuhan. Karena tanah itu adalah tanah yang dijanjikan Tuhan, maka ada penyertaan Tuhan yang akan membuat mereka PASTI (bukan mungkin atau mudah-mudahan) mampu menduduki tanah terjanji itu. “Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (ay 30). Dua belas pasang mata mengarah pada satu tempat yang sama selama 40 hari, tetapi kesimpulan akhir yang diperoleh berbeda. Sayangnya suara terbanyak yang pesimis lah yang akhirnya didengar. Bagaimana akibatnya? Itu menjadi keputusan yang fatal. Yang menjadi konsekuensinya tidak main-main: mereka harus berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun sebelum akhirnya bisa memasuki Kanaan. Sebuah fakta lain, diantara orang-orang yang ketika itu sudah dewasa sebelum mengalami 40 tahun di padang gurun, hanya Yosua dan Kaleb lah yang kemudian berhak memasuki tanah Kanaan.

Jika kita fokus pada Kaleb, kita melihat bahwa Kaleb mempunyai sikap positif dengan dasar iman teguh yang percaya sepenuhnya pada Tuhan. Ketika ia diutus untuk mengintai usianya masih 40 tahun. 45 tahun berikutnya, ketika usianya telah menginjak 85 tahun ia ternyata masih tetap bersikap sama, memiliki iman yang tetap percaya penuh pada Tuhan. Pada usia 85 tahun dia masih siap dengan semangat tinggi untuk menduduki Hebron yang banyak raksasanya. 40 tahun berada di padang gurun tidak sedikitpun meruntuhkan imannya. Kaleb memiliki mental seorang pemenang, penuh sikap positif karena imannya sangat kokoh. “Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini;pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.” (Yosua 14:10-11) Apakah Kaleb kemudian memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan? Tentu saja. Iman yang ia miliki mengantarnya untuk memperoleh keberhasilan tepat seperti apa yang telah dijanjikan Tuhan sebelumnya.

Kita tentu sudah sering mendengar janji-janji Tuhan mengenai keselamatan, perlindungan dari bahaya, kelepasan dari kesesakan dan lain-lain. Semua itu tidaklah baru lagi dalam pendengaran kita. Tapi seberapa banyak diantara kita yang bisa bersikap seperti Kaleb? Apakah kita mampu selalu menghadapi setiap permasalahan dengan sikap positif, mempercayai semua janji Tuhan secara penuh seperti halnya Kaleb atau kita masih lebih banyak bersikap pesimis dengan mental kalah sebelum bertanding seperti 10 pengintai lainnya? Lihatlah bahwa pandangan pesimis dari 10 orang pengintai bukan saja berakibat hanya pada mereka, tapi juga berdampak pada konsekuensi sangat berat dan fatal yang harus ditanggung seluruh bangsa Israel. Hari ini marilah kita belajar dari sikap positif Kaleb karena sikap tersebut akan memberikan perbedaan yang nyata ke arah yang lebih baik bukan saja kepada diri sendiri, tapi juga pada orang lain. Mari kita belajar memandang gelas di atas sebagai gelas yang setengah penuh, bukan setengah kosong.

Miliki sikap positif yang berasal dari iman yang teguh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: