Sesudah “Soegija” (2)

FILM ini menawarkan pahlawan besar, seorang uskup pribumi pertama negeri ini, tetapi ia justru lebih banyak berbicara melalui pahlawan-pahlawan kecil (dan inilah kehebatannya!): seorang Mariyem (dengan kata-kata favorit saya sepanjang seluruh film : Saya Maria dan saya ibu semua orang yang ada di sini), penjual jamu gandring yang mengajar lelucon mengejek penjajah pada kanak-kanak yang […]

FILM ini menawarkan pahlawan besar, seorang uskup pribumi pertama negeri ini, tetapi ia justru lebih banyak berbicara melalui pahlawan-pahlawan kecil (dan inilah kehebatannya!): seorang Mariyem (dengan kata-kata favorit saya sepanjang seluruh film : Saya Maria dan saya ibu semua orang yang ada di sini), penjual jamu gandring yang mengajar lelucon mengejek penjajah pada kanak-kanak yang gegojegan, anak kuncung yang pembawa kecendekiaan (bukan manusia sempurna gagah perkasa tetapi si bocah kuncung yang punya takut dan masih asyik bermain-main di tengah peperangan), ibu ibu sepuh yang menjadi tulang punggung revolusi dan mengurai konflik-konflik kecil peperangan, perawat-perawat yang tak dikenal, dan lain-lain. Kalau film ini berbicara tentang harapan, harapan itu ada pada pahlawan-pahlawan kecil negeri ini.

Politik? Ya, film ini sangat verbal dalam politik. Bagi saya, setelah semua kontrol alur yang sangat terkendali dari awal hingga menjelang akhir, film ini akhirnya meledak dalam sebuah orasi politik Soegija di penghujung film. Dengan tanpa sopan santun estetika (“agar lebih nyeni”) Soegija berbicara kepada para penguasa zaman ini : jadi politisi harus memiliki mental politik, kalau tidak ia hanya akan menjadi benalu bagi bangsa ini.

Dan yang paling ajaib sekaligus paling saya sukai, film ini adalah tentang tokoh utama yang berwajah sangat serius, tetapi sebagian kemunculannya justru tidak serius. Ini film tentang masa perang tetapi hemat darah dan dipenuhi anak-anak yang penuh canda. Ini adalah film serius yang jenaka. Berapa banyak tokoh utama Soegija muncul tanpa mengundang tawa ? Mulai dari jubah pentahbisan yang dikatakan mirip baju barongsai, komentar tentang nyanyian koster, obrolan perjodohan koster, dan lain-lain.

Daripada sibuk merajut alur, pesan-pesan justru lebih banyak terasa masuk melalui senggakan (selingan dalam musik Jawa) adegan yang jenaka. Bagi saya inilah ciri khas dramaturgi nusantara yang dipahami betul Garin dan teman-teman : masyarakat bernyanyi, masyarakat bergembira, masyarakat bercanda. Bahkan di tengah-tengah peperangan dan lemah terbaring para korban, alunan musik dan tetembangan tak pernah putus dilantunkan. Bagi masyarakat nusantara, kegembiraan adalah doa setiap duka memiliki nyanyian dan tariannya sendiri.

Adegan-adegan parodi disiapkan: rapat persiapan Serangan Umum 1 Maret yang disela oleh antusiasme dan pertanyaan nakal gadis muda dan anak muda pejuang di dalamnya, ada gaya orasi yang nyleneh dan menyusupnya seorang pemuda lugu menghentikan pidato, ada operasi perlawanan anak-anak, dan begitu banyak kenakalan lain.

Bagi para penonton yang terlanjur bertumbuh dalam nalar urban yang serius, menatap keusilan demi keusilan semacam ini mungkin menjadi sebuah siksaan. Terlebih lagi, bagi mereka yang tak terbiasa bertemu dengan kultur komedi Jawa, mungkin akan sedikit tersedak-sedak untuk mengunyahnya. Bagaimana pun juga film ini penuh dengan “senggakan”.

Benar Parmin (Butet Kertaradjasa) memang dipasangkan menjadi panakawan Soegija, tetapi kita semua menjadi lebih pana (mengerti) ketika kita bertemu seorang remaja yang sangat bersemangat revolusi tetapi lugu, bodoh, dan buta huruf. Dan kekuatan dramatiknya tak kalah dahsyat dengan sosok Marsiyem dalam kisah ini: ia adalah metafor batin rakyat kebanyakan, yang terusik, tidak selalu mengerti apa yang terjadi, tetapi memiliki niat tulus untuk memerdekakan dirinya. Dahsyatnya, ia dipasangkan dengan seorang anak berkuncung yang sudah terdidik : intelektualitas yang tampil gembira, lincah, nakal, tulus, dan sederhana. Merekalah panakawan sejati bagi kita para penonton yang terombang-ambing di arus jaman.

Operasi-operasi visual dibuat, adegan-adegan puitis disisipkan, kalau film Garin sering disebut sebagai puisi, kali ini dia menulis prosa liris yang sangat terkendali. Prosa liris dalam dramaturgi tradisi kental yang –sebagaimana harmoni musik Jawa- menolak memberi puncak demi terpeliharanya terus pencarian. Ini bukan film yang mudah. Film ini adalah sebuah kaca patri di atas altar sejarah, wajah Soegija terpampang di sana, terpotong-potong membiaskan warna-warni cahaya. Dibingkai sejarah dunia dan catatan harian Sang Tokoh.

Film ini adalah sebuah container-kontainer yang sangat nakal, cerdas, dan jenaka. Ia suka memberi tanda-tanda, sebagai kontainer ia akan bermakna – dan hanya bermakna- ketika menemukan konteksnya. Terima kasih atas suguhan yang kaya nuansa, cerdas, jenaka, dan nakal.

Pesan berikutnya adalah tontonlah dua tiga kali untuk bisa menangkap lapisan demi lapisannya, mencerna setiap makna, mengolah setiap adegan, menemukan keasyikan-keasyikan cerdas di dalamnya. Film ini tidak boleh ditonton secara serius, juga tidak boleh memaksa diri untuk menangis, marah, atau terbawa suasana. Ini bukan film semacam itu. Anda harus menyimaknya. Tidak terbebani apapun, dan tidak mengharap apapun. Setiap harapan akan menjerat kita pada posisi tertentu yang membuat kita gagal menikmati.

Film ini adalah sebuah tanda tanya. Apa yang anda harapkan tidak selalu akan kita temukan, tetapi ia siap memberikan kejutan-kejutan nakal yang mengusik. Film ini adalah sebuah tanda tanya. Ada apa sesudah tanda tanya : kerinduan memahami lebih jauh sejarah kebangsaan, kerinduan membongkar sejarah Gereja Katolik Indonesia, kebutuhan membaca profil Soegija yang sejati, kerinduan akan sosok pahlawan, seterusnya, dalam diri setiap penonton lahirlah pertanyaan.

***

Oncek-oncek di teras rumah dengan seorang sahabat pun berakhir tepat tengah malam. Kami menutup dengan obrolan mendalam tentang Gereja Katolik Indonesia. Ibu yang misterius itu.

Di balik perubahan Mariyem menjadi Maria, ada rasa cinta kepada sang wartawan di sana, ada semangat kemartiran terinspirasi Sang Bunda, juga ada narasi halus tentang leburnya yang Katolik dan yang Indonesia . Mariyem bukan hanya personifikasi heroisme Soegija, ia adalah personifikasi Gereja Katolik Indonesia. Yang bercita-cita tumbuh dewasa memberi makna, tetapi terburu-buru ditinggal mati sang kakak tercinta : semangat kebangsaan Indonesia.

Entah mengapa dalam diri Mariyem saya menemukan Gereja Katolik Indonesia, kelembutan, ketegasan, dan kelincahannya, yang kehadirannya terus-menerus menjadi sebuah kerinduan bagi saya.

Terimakasih atas gugatan yang indah atas nafsu kenyamanan saya, pertanyaan saya kepada teman-teman semua : pertanyaan apa yang kau miliki sesudah Soegija ?

Sesudah Soegija, 8 Juni 2012

Link:  http://politik.kompasiana.com/2012/06/09/sesudah-soegija/

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply