Sesingkat Bunga Matahari

Ayat bacaan: Ayub 14:2
=========================
“Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan.”

Bunga matahari adalah bunga yang cukup unik. Soal keindahannya jelas tidak perlu dipungkiri, karena warnanya yang kuning cerah dan bentuknya yang menyerupai matahari memang terlihat berbeda jika dibandingkan bunga-bunga lainnya. Selain bentuk fisiknya yang mirip matahari, ia pun selalu tumbuh mengikuti arah cahaya matahari. Hanya saja umurnya tergolong singkat, sekitar 6 bulanan saja. Begitu tidak menghasilkan bunga lagi, maka pohonnya pun akan segera mati, karena secantik apapun bentuknya, bunga matahari hanya bisa berbunga satu kali saja. Saya menanam dua bunga matahari di halaman. Biji-biji dari bunga yang tua itu jatuh ke tanah dan membentuk tunas-tunas baru, tetapi kelak tunas-tunas baru ini pun akan mati sama seperti dua bunga awal yang saya beli. Indah, namun singkat. Kemarin berbunga, besok mati. Hidup kita pun sesungguhnya terbilang singkat, dan Alkitab setidaknya dua kali menggambarkan singkatnya hidup kita seperti singkatnya umur bunga.

Ayub mengatakan bahwa manusia itu selain singkat umurnya tapi juga dikatakan penuh problema. “Sejak lahir manusia itu lemah, tidak berdaya; hidupnya singkat serta penuh derita.” (Ayub 14:1 BIS). Kemudian Ayub menganalogikan usia manusia itu seperti bunga. “Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan.” (ay 2). “He comes forth like a flower and withers; he flees also like a shadow and continues not”, he said. Dalam kitab Mazmur bunga kembali dipakai sebagai analogi usia manusia yang singkat tersebut. “Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.” (Mazmur 103:15-16). Seperti itulah dikatakan singkatnya usia kita. Musa menyebutkan masa hidup manusia idealnya tujuh puluh tahun, jika kuat, delapan puluh tahun. Katanya: “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” (Mazmur 90:10). Disamping itu, pada suatu hari nanti langit dan bumi pun akan lenyap. Tidak seorang pun yang tahu kapan hari itu tiba. Malaikat-malaikat tidak, Anak pun tidak. Hanya Bapa yang tahu. (Matius 24:36).

Dalam singkatnya umur manusia, pada suatu saat nanti kesempatan kita dalam menuruti perintah dan rencana Tuhan pun akan berlalu. Terkadang kita terlena dalam hidup, menyia-nyiakan waktu yang ada, menunda-nunda untuk mengulurkan tangan buat membantu orang lain dan berlambat-lambat untuk merubah pola hidup kita agar sejalan dengan kehendak Tuhan. Kita sering menganggap bahwa masih ada banyak waktu untuk itu. Kita kan masih muda, buat apa repot-repot dari sekarang?  Ini masih saatnya untuk menikmati hidup sepuasnya. Seperti itulah kita sering berpikir. Yakobus mengingatkan mengenai hal ini. “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” (Yakobus 4:13-14). Yakobus mengingatkan kita untuk tidak membuang-buang waktu untuk melibatkan Tuhan dalam menjalani kehidupan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah kita masih diberi kesempatan untuk hidup atau jangan-jangan sudah tidak ada lagi di dunia. Tidak ada yang tahu, kecuali Tuhan. Itulah hidup yang menurut Yakobus bagaikan uap, hanya sebentar saja kelihatan, kemudian lenyap. Lantas bagaimana sikap kita seharusnya? Yakobus melanjutkan: “Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (ay 15). Itulah yang harus kita lakukan, menjalani hidup sepenuhnya sesuai kehendak Tuhan, mematuhi Tuhan secara serius dan sungguh-sungguh selama kesempatan itu masih kita miliki. Janganlah menggunakan hari-hari dengan sombong dan memegahkan diri, karena hal itu adalah salah. (ay 16). Yakobus menutup bagian ini dengan “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (ay 17).

Meski hidup ini singkat, Pemazmur mengingatkan bahwa kasih setia Tuhan itu ada selama-lamanya dan berlangsung turun temurun. “Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.” (Mazmur 103:17-18). Lihatlah bahwa janji Tuhan yang indah ini hanya berlaku bagi orang-orang yang takut akan Dia, berpegang pada perjanjianNya dan taat melakukan perintahNya. Jika kesempatan masih ada saat ini, alangkah baiknya jika kita memakainya dengan baik. Menjalani hari demi hari mengikuti apa rencana Tuhan dalam hidup kita, dan hidup dengan mengikuti segala ketetapanNya. Memang Tuhan selalu memberi kesempatan bagi kita untuk merubah pola hidup kita yang salah, Tuhan selalu membuka tangan menerima pertobatan kita, Tuhan selalu menyambut kita yang memutuskan untuk memuliakanNya lewat pikiran, perkataan dan perbuatan kita. Tapi ingatlah bahwa kesempatan kita untuk melakukan itu terbatas. Terlena dalam kenikmatan hidup, menunda-nunda kesempatan, itu merupakan sifat negatif yang mungkin ada dalam diri setiap manusia. Karena itu Musa pun berdoa “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12).

Adakah sesuatu yang Tuhan ingin anda lakukan saat ini dalam namaNya? Sudah berapa lama anda tunda hal itu sejak Tuhan menanamkannya dalam hati anda? Mungkin kita terlalu sibuk sehingga lupa untuk melakukan perintah Tuhan yang penting. Namun ingatlah bahwa waktunya akan tiba. Kesempatan kita sungguh terbatas. Seperti bunga matahari yang singkat waktunya, demikian pula dengan hidup kita. Akan tiba saat dimana kita tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Karenanya, jika kita masih diberi kesempatan saat ini, pergunakanlah dengan baik. Mulailah menata hidup yang mencerminkan terang Kristus dalam segenap aspek kehidupan. Ulurkan tangan untuk membantu orang lain demi kemuliaanNya. Jadilah terang dan garam yang bermanfaat bagi banyak orang, dan hidupi bentuk hidup yang menuju keselamatan seperti yang diinginkan Tuhan bagi setiap kita. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi?

Berbenahlah dari sekarang sebelum terlambat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: