Sesama Bus Jangan Saling Mendahului

bus kota by merdeka“Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya.” (Mrk 3, 26) DALAM bodi sebuah bus tertulis, “Sesama Bus Cepat B… Satu Trayek Dilarang Saling Mendahului.” Tulisan seperti ini juga pernah ada, “Sesama Bus Kota Dilarang Saling Mendahului.” Tulisan-tulisan tersebut mengingatkan para sopir atau petugas lain bahwa mereka adalah satu keluarga bus tertentu; bekerja pada satu perusahaan yang sama; menjalankan kendaraan dari perusahaan yang sama. Mungkin mereka juga mempunyai semangat, tujuan atau visi yang sama; mempunyai ketentuan dan kebijakan yang sama. Atas dasar berbagai kesamaan tersebut, mereka seharusnya saling mendukung, saling membangu, mampu bekerjasama. Mereka seharusnya tidak perlu untuk bersaing, rebutan penumpang, saling mendahului atau saling menjatuhkan. Sikap seperti ini akan membahayakan bagi para penumpang maupun perusahaan dan orang lain. Apa yang tertulis di dalam bus tersebut sebenarnya juga relevan dan perlu ditulis juga di dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, atau tempat ibadat. Sikap dan kecenderungan untuk ‘saling mendahului’ nampaknya bisa terjadi di tempat-tempat seperti ini dalam berbagai bentuk. Dalam konteks ini, pertanyaan Yesus menjadi relevan juga, “Bagaimana Iblis dapat mengusir iblis? Bagaimana Iblis dapat memberontak sesama iblis?” Pertanyaan ini bisa dilanjutkan, “Bagaimana mungkin sesama penegak hukum bisa saling tangkap? Bagaimana sesama saudara kandung bisa saling mengusir? Bagaimana mungkin sesama religius bisa saling memecat? Bagaimana mungkin sesama umat beriman dalam satu tempat ibadat bisa saling membenci dan mendengki serta menjatuhkan? Bagaimana mungkin orang sekantor bisa saling memfitnah?” Dan masih bisa dilanjutkan dengan berbagai pertanyaan lagi. Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang berasal dari satu keluarga, tempat kerja, organisasi, parpol, kelompok agama, bisa ‘saling mendahului’ satu dengan yang lain, sehingga kehidupan bersama menjadi tidak enak dan tidak nyaman. Teman-teman selamat siang dan selamat beristirahat. Berkah Dalem. Photo credit: Ilustrasi (Merdeka)  

bus kota by merdeka

“Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya.” (Mrk 3, 26)

DALAM bodi sebuah bus tertulis, “Sesama Bus Cepat B… Satu Trayek Dilarang Saling Mendahului.” Tulisan seperti ini juga pernah ada, “Sesama Bus Kota Dilarang Saling Mendahului.”

Tulisan-tulisan tersebut mengingatkan para sopir atau petugas lain bahwa mereka adalah satu keluarga bus tertentu; bekerja pada satu perusahaan yang sama; menjalankan kendaraan dari perusahaan yang sama.

Mungkin mereka juga mempunyai semangat, tujuan atau visi yang sama; mempunyai ketentuan dan kebijakan yang sama. Atas dasar berbagai kesamaan tersebut, mereka seharusnya saling mendukung, saling membangu, mampu bekerjasama. Mereka seharusnya tidak perlu untuk bersaing, rebutan penumpang, saling mendahului atau saling menjatuhkan. Sikap seperti ini akan membahayakan bagi para penumpang maupun perusahaan dan orang lain.

Apa yang tertulis di dalam bus tersebut sebenarnya juga relevan dan perlu ditulis juga di dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, atau tempat ibadat. Sikap dan kecenderungan untuk ‘saling mendahului’ nampaknya bisa terjadi di tempat-tempat seperti ini dalam berbagai bentuk.

Dalam konteks ini, pertanyaan Yesus menjadi relevan juga, “Bagaimana Iblis dapat mengusir iblis? Bagaimana Iblis dapat memberontak sesama iblis?” Pertanyaan ini bisa dilanjutkan, “Bagaimana mungkin sesama penegak hukum bisa saling tangkap? Bagaimana sesama saudara kandung bisa saling mengusir? Bagaimana mungkin sesama religius bisa saling memecat? Bagaimana mungkin sesama umat beriman dalam satu tempat ibadat bisa saling membenci dan mendengki serta menjatuhkan? Bagaimana mungkin orang sekantor bisa saling memfitnah?”

Dan masih bisa dilanjutkan dengan berbagai pertanyaan lagi. Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang berasal dari satu keluarga, tempat kerja, organisasi, parpol, kelompok agama, bisa ‘saling mendahului’ satu dengan yang lain, sehingga kehidupan bersama menjadi tidak enak dan tidak nyaman.

Teman-teman selamat siang dan selamat beristirahat. Berkah Dalem.

Photo credit: Ilustrasi (Merdeka)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply