Seri Pastoral OMK: Prinsip Kristiani di antara Kelompok OMK (4)

Ilustrasi: Rapat memperbincangkan OMK dan anak-anak bina iman remaja di Aula Sekolah Bruder MTB Pontianak. (Mathias Hariyadi)

DI  tulisan sebelumnya telah diulas tentang visi pembinaan orang muda berdasarkan buku Sahabat Sepeziarahan.  Tentu pada realitanya usaha penerapan visi tersebut akan berhadapan dengan aneka situasi dan tantangan yang membuat para pembina orang muda harus lebih bijaksana.


Visi tersebut pun harus diaplikasikan dalam aneka aliran kelompok atau komunitas OMK.  Maka visi tersebut harus disesuaikan dengan konteks.   Bisa terjadi semua idealitas tidak bisa diwujudkan secara sempurna.


Berhadapan dengan aneka kelompok atau komunitas OMK yang nota bene masing-masing memiliki keunikan, karakter atau tekanan spiritualitas tertentu, usaha ini pastinya membutuhkan pedoman.


Untuk itu dalam seri ini, penulis menilai baik bila semua orang yang terlibat dalam proses pembinaan OMK memperhatikan prinsip-prinsip yang dihidupi dalam Gereja Katolik berikut supaya keragaman itu menjadi berkah dan indah.


Ada tiga prinsip kristiani yang para pembina harus pegang berjumpa dengan banyak kelompok dan komunitas OMK yakni: Katolik, subsidiaritas, dan ketaatan.



Seri Pastoral OMK: Pesan “Sahabat Sepeziarahan“ (3)


Makna kata ‘Katolik’


Katolik secara harafiah berarti universal, inklusif, dan mencakup keseluruhan.  Istilah ‘Katolik’ telah dipakai oleh Gereja sejak akhir abad pertama.


Pada tahun 110, sebutan ‘Katolik’ dipakai untuk membedakan iman Kristiani dengan Yudaisme.


Yudaisme yakni agama Yahudi merangkul hanya mereka yang berasal dari keturunan Ibrani atau Israel dengan memberi tempat khusus terhadap kota Yerusalem, Bait Allah dan Tanah Terjanji.


Sedangkan iman Kristiani yang baru berkembang dengan menyebut ‘Katolik’ hendak mengatakan bahwa Kristen itu berbeda dari Yudaisme: berada di mana pun, tidak dibatasi oleh kelompok, bangsa, dan bahasa tertentu.


Dalam “Syahadat Iman Panjang”,  ‘Katolik’ menjadi salah satu sifat dari Gereja selain “satu, kudus, dan apostolik.”


Pada syahadat tersebut, ‘Katolik’ merupakan sifat gereja yang menekankan inklusivitas atau merangkul semua orang dari segala bangsa.


Prinsip Katolik menegaskan bahwa Gereja itu universal dan merangkul aneka golongan.  Gereja bukan promotor perpecahan.


Prinsip ini membantu para pembina OMK untuk selalu mengusahakan persatuan aneka golongan OMK dan membangun jaringan antar mereka.

Ilustrasi: Sekelompok OMK Keuskupan Agung Pontianak tengah berlatih menyiapkan acara untuk Jambore Nasional SEKAMI 2018 di Pontianak. (Mathias Hariyadi)

Aneka kelompok orang muda dalam paroki atau keuskupan yang dapat hidup kebersamaan merupakan tanda bahwa gereja sungguh Katolik.  Oleh karenanya sikap inklusif terhadap kelompok lain itu mutlak.


Prinsip Katolik jelas menolak sikap dan ujaran yang menghantar kebencian, perpecahan dan anti terhadap kelompok OMK lainnya.  Ia merangkul dan menghargai perbedaan-perbedaan yang ada dalam komunitas OMK.


Pembina OMK mengarahkan orang muda untuk menjadi orang Kristen yang terbuka terhadap keragaman spiritualitas dan karakter komunitas yang ada.  


Subsidiaritas


Gereja Katolik mengajarkan prinsip subsidiaritas seperti yang dituangkan dalam ajaran sosial Gereja.  Prinsip ini biasanya disandingkan dengan solidaritas.  Prinsip subsidiaritas diajarkan agar manusia menyadari kodratnya sebagai mahkluk sosial untuk mewujudkan kehidupan bersama yang lebih baik.


Paus Pius XI dalam Quadragesimo Anno menjelaskan bahwa kebaikan setiap individu dalam komunitas itu penting.  Kelompok kecil pun memiliki kontribusi bagi komunitas yang lebih luas.  Dengan prinsip itu Gereja sungguh-sungguh memberi ruang kepada kelompok atau komunitas rohani untuk mengurusi rumah tangganya dengan potensinya selagi mampu.


Lahirnya inspirasi dari bawah jangan dipithes (dimatikan) selagi benar dan baik.


Dengan prinsip ini, keuskupan dan paroki melalui seksi kepemudaan bersama para pembinanya terus mendukung segala usaha pertumbuhan di level kecil ataupun komunitas pemula.  Gereja memberi ruang bagi bertumbuhnya cita-cita injili di antara orang muda untuk mewujudkannya sejauh sejalan dengan visi gereja paroki dan ajaran Gereja.


Para pembina berani memberi kepercayaan dan tanggung jawab kepada kelompok orang muda yang baru memulai, kurang popular dan anggotanya sedikit.  Juga prinsip senioritas dimana senior (OMK yang berusia tua dan lama berkecimpung di komunitas) berkuasa atas junior jelas kurang serasi dengan prinsip subsidiaritas.


Menerapkan prinsip subsidiaritas kepada kelompok-kelompok OMK adalah tepat dan benar. Biarlah mereka mengerjakan hal-hal yang bisa mereka kerjakan sendiri dan tak perlu kita bantu. Memberi ruang gerak dan kebebasan sejauh mereka bisa melaksanakan sendiri tanpa bantuan pihak lain adalah perlu dan penting. (Mathias Hariyadi)

Ketaatan


Ketaatan termasuk dalam salah satu keutamaan kristiani.  Ketaatan bukan sekedar kaul para religius (suster, bruder dan imam religius) kepada pimpinannya.  Tetapi ketaatan adalah sikap iman yang telah diwahyukan oleh Yesus Kristus.


Yesus Kristus selama hidupnya taat kepada kehendak Bapa untuk karya penebusan manusia.


Ketaatan kepada Allah diekspresikan dengan ketaatan kepada kebenaran ilahi yang telah diwahyukan oleh Yesus di dalam Gereja Katolik.  Kebenaran tersebut termuat dalam Kitab Suci, ajaran, Tradisi dan perayaan-perayaan iman.  Ketaatan kepada gembala setempat juga mengungkapkan sikap iman orang kristiani. Lewat ketaatan itulah umat beriman membuka diri untuk dibimbing dan diarahkan kepada rumput yang hijau (kebenaran sejati yakni Kristus, kerajaan Allah).


Prinsip ketaatan pun diterapkan dalam pembinaan orang muda.  Kelompok OMK bersedia dibimbing oleh Bunda Gereja.  Setiap kelompok harus sedia dibimbing oleh gembalanya (secara langsung melalui seksi kepemudaan) agar memperoleh perkembangan iman.


Kelompok atau komunitas OMK pun perlu rendah hati untuk direvisi ajaran, praktek pembinaan dan visi yang kurang sesuai dengan iman kristiani.  Pembina bukan malah memprovokasi OMK untuk berseberangan dengan hirarki atau DPP dan anti struktur gerejani.


Ketiga prinsip di atas diharapkan dapat membantu para pembina dalam pelayanannya ketika berhadapan dengan beragam komunitas OMK.  Baik bila para pembina turut menanamkannya kepada orang muda Katolik.


Semoga dengannya beragam komunitas OMK yang ada dalam paroki atau keuskupan saling menopang dan menghormati satu sama lain.



Imam SCJ; usai studi Ilmu Pastoral di EAPI, Ateneo de Manila, sekarang tugas di Rumah Pembinaan Pondok Kristopel di Jambi.


Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: