Seri Pastoral OMK: Pesan “Sahabat Sepeziarahan“ (3)


BUKU Sahabat Sepeziarahan (Pedoman Karya Pastoral Orang Muda Katolik Indonesia) terbitan Komisi Kepemudaan KWI merupakan acuan dalam pelayanan dan pembinaan kepada orang muda.


Yesus Kristuslah alasannya


Dalam buku tersebut ditandaskan alasan pokok melayani orang muda adalah Yesus Kristus.  Sahabat Sepeziarahan mengajak para pembina untuk memurnikan motivasi dasar pelayanan kepada OMK.


Seperti yang ditulis di dalamnya bahwa pelayanan kepada OMK mengantar mereka kepada perjumpaan dengan Yesus.  Kegiatan-kegiatan yang diprogramkan oleh Seksi Kepemudaan atau kelompok rohani harus berujung kepada perjumpaan personal antara si OMK dengan Yesus, Sang Tuhan.


Seorang aktivis OMK dari suatu keuskupan berbagi cerita tentang perdebatan antara anggota seksi kepemudaan di keuskupannya.  Salah seorang mati-matian mengusulkan pentingnya melakukan kaderisasi untuk mencetak OMK yang militan dan terlibat dalam hidup masyarakat.


Sementara yang lain menegaskan kebutuhan OMK di keuskupan itu adalah networking antar paroki.  (Kedua belah pihak bisa saja benar tetapi juga bisa keliru.)


Pertentangan semacam itu perlu dan wajar, namun harus selalu dipertemukan dengan arah dasar semua pembinaan.


Discernment atau penjernihan motivasi para perancang arah pendampingan di keuskupan serta program merupakan hal yang mutlak agar masing-masing pembina atau tokoh OMK yang diberi tanggungjawab tidak mengedepankan ambisi atau minat pribadi dalam pembinaan OMK.


Baik kaderisasi atau pun networking sebagai sarana tentu dapat mengantar OMK sampai pada pengalaman iman sebagai gereja muda yang kontekstual.  Namun bila fokusnya adalah individual interest atau concern maka perjumpaan dengan Yesus akan sulit terjadi.


Evangelisasi


Discernment membantu untuk mengarahkan OMK, dengan apa pun metode yang tepat dan relevan, pada evangelisasi atau pewartaan Kabar Gembira.  Ketika para pembina mulai berbicara tentang tentang cara mendampingi (metode) maka sesungguhnya mereka tengah berpikir tentang pendekatan/metode evangelisasi kepada OMK yang cukup beragam.


Sejauh penulis kenal, terdapat beragam pendekatan seperti pertemanan, pendalaman Kitab Suci, teater rakyat, worship, pelayanan, analisis sosial, penyadaran rohani, creating community dan sebagainya.  Semua metode tadi dapat dijadikan sarana atau model berevangelisasi kepada orang muda.


Mengingat terdapat banyak cara berevangelisasi, para pembina tidak perlu menjadi fanatik dengan salah satu model saja.  Semuanya dapat dijalankan seturut konteksnya.  Namun yang mesti diingat adalah semua harus menghantar orang muda kepada Kristus.


Dalam suatu ekaristi di pertemuan dengan orang muda pada tahun 2000, Santo Yohanes Paulus II dalam homili meringkas maksud evangelisasi tersebut:


“Bagaimana orang muda dapat menjaga jalan kemurnian (Mzm 118:9)?  Yakni dengan bimbingan sabda.  Gereja telah memberikan banyak jalan dalam mengusahakannya dan yang paling agung ialah dengan bersatu dengan Kristus.  Yesus Kristus sangat memaklumi keterbatasan, pengingkaran atas Ia seperti yang terjadi pada Petrus.  Yesus tidak menanyakan apa talenta, ketrampilan, kehebatannya agar Petrus setia, tetapi Ia bertanya, “Simon. anak Yohanes. apakah engkau mencintai-Ku?” (Yoh 21:16)  Kita diundang untuk menjawab dengan mencintaiNya.”


Pesan JP II menegaskan ada banyak jalan dalam Gereja untuk bersatu dengan Kristus. Hendaknya segala jalan/usaha tadi membuat OMK mengalami Tuhan dalam hidup mereka dan menemukan makna hidup dalam terang Kristus.


Tiga sasaran


Oleh karena itu, Sahabat Sepeziarahan menulisk tujuan evangelisasi orang muda meliputi tiga sasaran utama:

Membangun dan memperkokoh relasi orang muda dengan Yesus (Spiritual).Membantu orang muda menjadi dewasa (Personalitas).Mendukung orang muda untuk terlibat dalam komunitas entah itu komunitas iman maupun masyarakat (Komunitas) .

Pentingnya Kombas


Pun Sahabat Sepeziarahan menggarisbawahi fungsi pokok dari komunitas basis dalam pelaksanaan evangelisasi bagi orang muda.  Pendampingan orang muda mesti memperhatikan konteks kehidupan komunitasnya entah itu paroki, wilayah, lingkungan ataupun komunitas kecil lainnya.


Apa yang dimaksud dengan komunitas basis ini?


Komunitas, singkatnya, yaitu kesatuan dari orang muda beriman yang bertekad untuk mendalami Kristus lewat sabda dan diteguhkan dalam Ekaristi.  Kesatuan ini diikat oleh tali batin yakni iman yang sama.


Paroki sebagai komunitas umat beriman harus memperhatikan di wilayahnya bahwa dari level paroki sampai dengan lingkungan dapat menjadi wadah yang jitu untuk mempersatukan orang muda.


Selain itu, Gereja sangat terbuka dan mendukung kehadiran aneka komunitas berbasis kategorial (non teritorial). Komunitas orang muda seperti Magis, Bosconian, atau Dehonian harus dipandang positif bagi pengembangan spiritualitas kristiani dalam kehidupan orang muda.


Peran komunitas ini jelas-jelas menawarkan pengalaman akan Allah dengan pendekatan spiritualitas yang dihayati oleh kongregasi atau tarekat religius.  Paroki bersama dengan komunitas orang muda semacam ini harus bergandengan tangan dan berkolaborasi dan sebaliknya.


Agen perubahan


Dalam salah satu bagiannya, Sahabat Sepeziarahan menambah pesan KWI tentang panggilan orang muda yang selalu diserukan sejak Pernas dan SAGKI 2005, yakni untuk menjadi agen perubahan bagi negeri ini.  Orang muda diundang untuk terlibat dalam menanggapi persoalan gereja dan bangsa (pro ecclesia et patria).  Untuk menjadi agen perubahan, maka orang muda harus mendasarkan diri pada nilai-nilai kristiani/injili yang termuat pula dalam ajaran sosial gereja.


Penutup


Tentu masih banyak hal lain yang dipaparkan dalam Sahabat Sepeziarahan tetapi beberapa poin di atas dirasakan perlu untuk menjadi perhatian bersama.  Sebagaimana telah dibahas di atas buku ini memberi pencerahan tentang motivasi pembinaan (evangelisasi), pentingnya komunitas umat beriman bagi pembinaan, dan harapan untuk menjadi agen perubahan.


Cukup asik bila para pembina dan semua yang terlibat dalam pembinaan orang muda katolik di segala lini bisa menyempatkan diri membaca buku ini.  Setidaknya pastoral orang muda di Indonesia memiliki kesamaan visi.


Selamat berjuang.


Imam SCJ; usai studi Ilmu Pastoral di EAPI, Ateneo de Manila, sekarang tugas di Rumah Pembinaan Pondok Kristopel di Jambi.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply