Sequence (2)

(sambungan)

Ada banyak contoh yang bisa kita pelajari lewat tokoh-tokoh di dalam Alkitab mengenai sekuens kehidupan ini. Ada yang berhasil mencapai garis akhir dengan baik, ada pula yang pada akhirnya binasa. Saul mengawali dengan baik tapi kemudian harus berakhir tragis karena sekuens-sekuens hidupnya tersusun dari pengambilan keputusan hidup yang salah. Untuk yang baik, kita bisa belajar dari Yusuf.

Mari kita lihat sekuens-sekuens dari Yusuf. Kisah Yusuf diawali dengan cerita bahwa ia diperlakukan berbeda, lebih dikasihi dibanding saudara-saudaranya. (Kejaian 37:3). Ini membuat saudara-saudaranya cemburu dan ia pun mulai dipenuhi penderitaan. Karena ia menceritakan visi Allah atas hidupnya, ia kemudian hampir dibunuh. Lepas dari masalah pembunuhan, ia dilemparkan ke dalam sumur. Selamat dari sumur, ia malah dijual sebagai budak dan dibawa ke Mesir. Yusuf kemudian dibeli oleh Potifar, seorang kepala pengawal istana raja. Posisi budak, itu artinya ia bekerja tanpa digaji. Itu bukanlah posisi strategis dan bisa dibanggakan, tapi Yusuf ternyata berprestasi dan mendapat promosi untuk menjadi orang kepercayaan Potifar dan tinggal dirumah mewah tuannya itu. Dalam sekuens ini kita mulai melihat bahwa langkah Yusuf yang tidak menyimpang dari ketetapan Tuhan membawa pencapaian baik, bahkan ketika hidup sedang berada di titik bawah. Alkitab menyebutkan hal itu dengan jelas. “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya;” (Kejadian 39:2).

Sekuens selanjutnya adalah ketika Yusuf yang gagah mulai digoda oleh istri tuannya. Tapi Yusuf tidak mau tergoda. Ia memastikan sekuens ini tetap baik seperti sebelumnya, meski penolakannya berbuah hasutan yang membawanya ke penjara. Dari budak menuju penjara, ini bukanlah peningkatan. Tapi lagi-lagi Alkitab mencatat penyertaan Tuhan membuatnya berhasil. “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.” (ay 21-23).

Berada di penjara selama dua tahun lalu menjadi bagian dari sejarah hidupnya. Singkat cerita, Yusuf kemudian berhasil mengartikan mimpi Firaun dan mendapat lompatan tinggi. Dari budak, tawanan ia tiba-tiba menjadi orang yang berkuasa atas seluruh tanah mesir (ay 40-41). Kita bisa melihat bagaimana sekuens demi sekuens yang diambil Yusuf selalu berada dalam ketetapan Tuhan. Dia tidak menyimpang sedikitpun dalam pengambilan keputusan, oleh karena itu ia bisa menggenapi visi yang telah ditanam Tuhan sejak semula. Seandainya Yusuf salah dalam melangkah, tentu kisahnya berakhir berbeda. Tapi kita bisa melihat bahwa berjalan seturut kehendak Allah dengan memperhatikan segala petunjuk, arahan maupun ketetapanNya, tidak melanggar laranganNya dan berteguh iman yang percaya kepada janji Tuhan membawa Yusuf menggenapi rencana Tuhan atasnya. Jika anda membaca kisah hidup Saul, anda akan menemukan gambaran yang sebaliknya. Both of them had sequences in their lives, the way the filled each one resulted different endings.

Maka tepatlah apabila Daud mengatakan bahwa apabila “langkahku tetap mengikuti jejak-Mu, kakiku tidak goyang.” (Mazmur 17:5). If my steps held closely to God’s paths, my feet wouldn’t slipped. Daud juga mengingatkan bahwa “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya.” (37:23).  Jadi penting bagi kita untuk memastikan bahwa kita memiliki cara dan gaya hidup yang berkenan kepada Tuhan agar dalam setiap langkah kita dibimbing langsung oleh Tuhan.  Being directed and established by God Himself. Itulah yang akan membuat kita tidak terjatuh dalam pengambilan keputusan yang keliru agar setiap sekuens tidak terbuang sia-sia atau malah mendatangkan kerugian yang tidak sedikit bagi kita.
(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: