Sepucuk Surat Seorang Ibu untuk Anaknya

RENUNGAN ini atas permintaan khusus seorang ibu. Ia merasa tidak seperti ibu yang lain yang bahagia mempunyai anak-anak.

Mereka bahagia bukan karena anaknya memberinya kelimpahan materi tetapi menghargai seorang ibu yang telah memberinya “hidup”.

Namun berbanding terbalik dengan ibu ini, anaknya sama sekali tidak menghargainya sebagai orang yang pertama “mengeja” hidup baginya. Namun terlepas dari situ renungan ini berlaku bagi siapa saja supaya mengingat mereka yang telah berjasa menata hidup kita.

***

Anakku, bukan suatu kesombongan kalau ibu mu ini menguntai sejuta kisah tentangmu dan bagaimana aku merawatmu sampai dirimu tahu apa itu hidup.

Bukan juga mau menandaskan bahwa aku adalah ibu terbaik di seluruh jagad. Dan juga bukan mau berharap supaya kau membalas budiku….Bukan…bukan itu.

Singkirkan semua perasaan itu bila muncul dalam benakmu. Aku hanya mau menuturkan fakta sejarah, menghadirkan memori indah, dan mengurai nostalgia berkesan dulu bahwa aku memeliharamu dengan penuh cinta, walau derita silih ganti menerpa keluarga kita.

Dalam sudut kutermangu dan diriku berdialog dengan perasaanku sendiri, “Semoga anakku ini bertumbuh dengan baik dan penuh iman. Semoga anakku ini seperti anak-anak yang lain bisa mendapat apa yang pantas untuk ia terima, dan menerima apa yang pantas ia dambakan. Semoga anakku ini tidak minder dan ngiler bila melihat temannya mempunyai semuanya dan segalanya.” Karena itulah aku tidak pernah berpikir dua kali tentang diriku, apa yang harus aku beli untuk diriku.

Aku juga tidak pernah peduli tentang diriku, apakah kebutuhan ku sebagai seorang ibu dan sebagai insan manusia, lengkap. Tetapi aku selalu berpikir dan peduli bagaimana memenuhi semua kebutuhan hidupmu, anakku.

Anakku, bukan suatu kesombongan juga bahwa apa yang aku lakukan dan pengorbanan apa yang telah aku curahkan semata untukmu.

Aku tidak cemas, walau dapur itu tidak berasap karena besok akan membara lagi. Aku tidak pernah kuatir bila lumbung itu hampir kosong karena besok akan terisi penuh. Aku juga tidak pernah menyesali bila minyak dalam kompor itu hampir kering karena besok meluap pasti penuh.

Memang untukku kesusahan sehari biarlah untuk sehari, besok pasti ada kesusahannya sendiri. Namun aku berusaha melindungi dirimu dari semua kesusahan itu. Biarlah aku menjadi tameng pelindung untukmu. Biarlah “Sayap” hidupku menjadi tempat naungan indah bagimu, engkau hangat dan aman karena walau aku lemah secara fisik namun “kepak sayapku” dan “tameng hidupku” lebih kuat dari baja sekali pun, demi kau anakku.

Maka di atas segalanya adalah dirimu. Engkau adalah harta utama untukku kendati kelak engkau bukan milikku selamanya.

Aku sadar, engkau adalah sumber kegembiraanku, walau aku insyaf tidak selamanya engkau akan bersamaku. Aku yakin engkau adalah butir mutiara, walau aku juga pasrah, bahwa butir indah yang bertaburan pernik bening itu akan pergi dengan siapa nantinya engkau hidup bersama, dengan siapa Allah memberimu keluarga baru. Di sanalah butir mutiara indah itu bertaburan dan bersinar. Namun suka cintaku rasanya lengkap bila engkau bisa bahagia entah di mana, bersama siapa dan entah jauh dari pelupuk mataku. Memang itulah misiku membesarkanmu, KECAPLAH BAHAGIAMU.

Anakku, aku memang menanamkan nilai hidup dalam dirimu dengan penuh perjuangan dan bahkan bercucuran air mata. Karena itu buatlah aku bergembira menuai dengan bersorak sorai. Namun aku perlu tandaskan, “Aku bukan berharap engkau menjadi orang terkenal. Aku juga tidak pernah berdoa supaya engkau duduk di rumah mewah bertahta berlian.

Aku juga tidak pernah bermimpi engkau mempunyai mobil mewah. Namun aku berdoa, berharap dan mendambakan, engkau menjadi orang beriman dan peduli dengan sesama”. Inilah suka cita yang aku maksudkan….. buatlah aku bergembira karena itu anakku. Jangan lupakan sejarah keluargamu; yang sederhana namun kaya akan iman. Jangan juga lupakan Allah karena Dia yang selalu menjaga dan menunjukkan jalan.

Anakku ini, inilah untaian dan cetusan terdalam dari aku ibumu. Harapku engkau mengerti akan semua curahan hati ini. Tersenyumlah, dan bahagialah bila engkau telah membacanya karena sekali lagi, aku bahagia bila engkau bahagia entah dengan siapa pun nantinya Allah memberimu pasangan hidup. Anakku doaku tidak pernah lepas dari perjalanan hidupmu. Dan jangan cemas bila aku tinggal sendirian di rumah mungil. Aku bahagia di sana karena di rumah mungil nan sederhana itulah aku bisa mengeja kembali NOSTALGIA ITU. Anakku bila ada waktumu, mampirlah……………………. Itu juga rumahmu…………………

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: