Sepkiran dan Seperasaan (1)

Ayat bacaan: Filipi 2:5
=================
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”

“Saya dan dia memang sehati… kita sudah saling tahu satu sama lain bahkan meski belum diucapkan.” Begitulah kira-kira kata seorang teman yang menceritakan bagaimana ia bertandem dengan istrinya secara sinergi dalam sebuah rumah tangga yang bahagia. Kata sehati alias satu hati mengacu kepada dua atau lebih orang yang hatinya tersambung, saling memahami, merasakan dan mengerti satu sama lain. Orang yang sehati tahu apa yang dibutuhkan pasangannya atau partnernya bahkan terhadap detail-detail kecil. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan orang yang sehati dengannya. Mereka bisa kompak dalam melakukan atau menghadapi sesuatu, saling mengerti pemikiran dan berbagai kedekatan lainnya yang seringkali unik. Sebuah pernikahan atau persahabatan yang sudah terjalin lama tidak serta merta membuat orang bisa sehati, karena kita perlu mengenal mereka dengan sangat mendalam terlebih dahulu dan harus pula punya kerinduan untuk itu.

Di bulan Desember ini kita sebentar lagi akan merayakan kedatangan Kristus ke dunia, sebagai wujud besarnya kasih Allah terhadap kita yang tidak ingin kita binasa melainkan beroleh kehidupan kekal (Yohanes 3:16). Bagi banyak orang, hari Natal adalah sebuah momen perayaan yang diisi dengan pesta, bertukar hadiah, liburan atau wisata dan lain-lain. Berbagai dekorasi di pusat-pusat perbelanjaan dan lagu-lagu Natal yang sudah mulai hadir membuat suasana perayaan semakin semarak. Tidak ada yang salah dengan perayaan, karena Kelahiran Yesus memang sepantasnya kita sikapi dengan sukacita. Pertanyaannya, apakah semangat Natal hanyalah berbicara atau berkaitan dengan pesta, tukar menukar kado, mendengar dan menyanyikan lagu-lagu Natal saja? Jika kegiatan kita hanya berkutat dalam hal-hal tersebut, maka itu tandanya kita belumlah sepenuhnya mengerti apa yang seharusnya menjadi semangat Natal yang sesungguhnya.

Mari kita lihat mengapa Yesus turun ke dunia. Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, Natal ada karena kasih Tuhan yang begitu besar atas kita. Tuhan merelakan AnakNya yang tunggal turun ke dunia, mengambil rupa sama seperti kita, menebus dosa-dosa kita semua agar kita tidak binasa, melainkan bisa memperoleh kehidupan yang kekal. Hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan, sehingga hari ini kita bisa “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia” (Ibrani 4:16). Ini sebuah anugerah luar biasa yang bisa kita nikmati hanya oleh penebusan Kristus.

Artinya, kedatangan Kristus bukanlah dengan maksud untuk berpesta karena esensinya jauh lebih besar dari itu, yaitu untuk membayar lunas segala pelanggaran kita, menggantikan kita agar selamat dari kebinasaan dan masuk ke dalam kehidupan kekal. Kalau esensinya disitu, maka saat kita hendak merayakan Natal, apa yang seharusnya kita lakukan adalah menaruh pikiran dan perasaan kita ke dalam Yesus. Paulus menyatakan hal itu dalam surat Filipi yang berbunyi: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5).

Pertama, lihatlah bahwa Yesus tidak menganggap bahwa kesetaraanNya dengan Allah harus dipertahankan. Yesus adalah Allah. Tapi meski demikian, Yesus “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (ay 6-7). Yesus rela mengosongkan diriNya, rela mengambil rupa seorang hamba dan dilahirkan seperti manusia. Yesus mau merendahkan diriNya untuk taat sepenuhnya menjalankan misi yang digariskan Tuhan sampai kepada kematianNya di atas kayu salib. Semua dilakukan demi kita semua manusia. “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (ay 8). Ini semua Dia lakukan atas kasih yang begitu besar kepada kita.

Sebagai manusia yang sudah ditebus, sudah selayaknyalah kita meneladani apa yang telah diperbuat Kristus untuk menjangkau sesama kita pula. Kita menaruh pikiran dan perasaan kita seperti halnya Yesus. We think the way He thinks, we give love the way He loves us. Tuhan Yesus memikirkan nasib manusia, Dia peduli dan mengasihi kita, karena itulah Natal ada. Jika Dia mau memikirkan nasib kita, tidakkah itu berarti bahwa kita pun harus merepresentasikan itu dengan mengasihi sesama kita juga? Bukankah itu seharusnya yang menjadi pusat perhatian kita dalam menyambut hari Natal? Bukan saja hanya dilakukan saat Natal, tetapi alangkah baiknya jika perenungan akan kedatangan Kristus ke dunia di bulan Desember ini menjadi sebuah batu pijakan bagi kita untuk hidup seturut kehendakNya, sepikir dan seperasaan, menempatkan kasih di atas segalanya sebagaimana halnya Yesus sendiri.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: