Sepikiran dan Seperasaan (2)

(sambungan)Sepikiran dan seperasaan dengan Yesus, itu wajib kita jalankan. Masalahnya, mampukah kita, manusia yang punya banyak kekurangan, lemah dan terbatas ini untuk bisa sepikiran dan seperasaan dengan Yesus? Secara logika mungkin tidak, tetapi Alk…

(sambungan)

Sepikiran dan seperasaan dengan Yesus, itu wajib kita jalankan. Masalahnya, mampukah kita, manusia yang punya banyak kekurangan, lemah dan terbatas ini untuk bisa sepikiran dan seperasaan dengan Yesus? Secara logika mungkin tidak, tetapi Alkitab sudah memberitahukan caranya. “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:22-24).

Caranya adalah lewat pertobatan kita meninggalkan kehidupan lama kita yang penuh noda untuk diperbaharui dalam roh dan pikiran,  dan menggantikannya dengan sebentuk hidup sebagai manusia baru yang telah sesuai kehendakNya dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya sesuai kehendak Tuhan. Be constantly renewed in the spirit of your mind. Roh kita sudah diperbaharui, maka pemikiran kita pun seharusnya mengikuti itu. Ironis sekali jika kita yang seharusnya sudah diubahkan menjadi manusia baru tapi masih juga belum bisa menanggalkan berbagai pemikiran-pemikiran lama, masih terpusat pada kepentingan dan hal-hal yang menyenangkan atau memuaskan secara pribadi saja, belum tergerak untuk memiliki bentuk pemikiran dan perasaan Kristus yang didasari kasih, belum pula tergerak atau digerakkan oleh kasih untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan nyata sebagai hamba Tuhan. Sebuah pembaharuan dalam roh dan pikiran, sebagai manusia baru, yang tidak lagi berjalan dalam ketidakpastian tetapi sekarang hidup menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Apabila kita hayati dengan baik, maka disanalah kita akan mampu berjalan sepikir dan seperasaan dengan Yesus.

Seperti halnya dengan sesama manusia, kita tidak akan bisa sehati apabila kita tidak mengenal pribadi mereka secara mendalam dan punya kerinduan untuk itu. Demikian pula halnya dengan hubungan kita dengan Yesus. Agar bisa sepikir dan seperasaan atau sehati, kita harus punya kerinduan untuk lebih dalam lagi mengenal Kristus secara sungguh-sungguh. Sebab bagaimana mungkin kita bisa seperti itu kalau kenal saja tidak atau hanya sekedarnya saja? Bagaimana kita bisa sehati kalau sifatNya dan tujuanNya datang ke dunia saja tidak kita pahami?

Kedatangan Kristus lahir ke dunia adalah sebuah momen yang layak dirayakan, tetapi jangan letakkan esensinya disana melainkan renungkan dan resapi baik-baik tujuan kehadiran Yesus turun ke tempat dimana kita ada, mengosongkan diri dan mengambil rupa layaknya manusia biasa. Yesus sudah melakukan itu semua lewat kedatanganNya ke dunia ini, sudahkah kita merepresentasikan semangat Kristus itu bagi sesama kita? Apakah kita mau merendahkan diri kita juga untuk berkorban, melayani dan membantu saudara-saudara kita yang sedang menderita seperti halnya Yesus? Itulah yang menjadi semangat Natal yang sesungguhnya. Memasuki Natal tahun ini, marilah kita lebih peka dan peduli lagi terhadap sesama kita. Tidak akan ada perayaan Natal jika Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus kita.

Semangat Natal sesungguhnya adalah semangat yang meneladani Kristus, dimana kita mau meluangkan waktu, tenaga dan sebagian dari yang kita miliki untuk membantu sesama kita yang menderita, menaruh pikiran dan perasaan kita ke dalam Yesus. Ada banyak orang yang saat ini tengah menanti uluran tangan kita. Mereka seperti kita ada dalam kasih Tuhan, mereka pun terlukis dalam telapak tanganNya dan tergambar dalam ruang mataNya. Tuhan mengasihi mereka sama seperti Tuhan mengasihi kita. Dan jika Tuhan saja mengasihi mereka, kita pun sudah selayaknya mengasihi mereka juga. Membantu mereka yang kekurangan, membagi sukacita dan berkat kepada mereka, sehingga mereka bisa tersenyum dan dapat merasakan kasih Tuhan lewat kita secara nyata. Tidaklah salah bagi kita untuk merayakan Natal seperti yang kita inginkan, tapi jangan lupakan mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Mumpung ini masih di minggu pertama bulan Desember, marilah kita masuki masa Natal dengan semangat Natal yang sesungguhnya.

Portret sesungguhnya dari semangat Natal tergambar dari kepedulian terhadap sesama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply