Seperti Bapa Sayang Anaknya

Ayat bacaan: Ibrani 12:5-6
====================
“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

seperti bapa sayang anaknya, Tuhan menghajar orang yang dikasihinya

Hari ini saya teringat pada sebuah lagu yang juga sudah sangat populer, Seperti Bapa Sayang Anaknya. “Seperti bapa sayang anaknya, Demikianlah Engkau mengasihiku..” dan seterusnya. Lagu ini berbicara tentang betapa Tuhan mengasihi kita, seperti layaknya seorang ayah mengasihi anaknya. Seorang ayah teladan adalah ayah yang mampu meluangkan waktu untuk keluarga terlebih anak-anaknya ditengah kesibukan mencari nafkah yang menggunung, mampu menjadi imam dalam keluarganya dan mampu mendidik anak-anaknya untuk tumbuh dewasa dengan budi pekerti yang baik. Dalam mendidik anak-anak seorang ayah yang bijaksana tidak akan mungkin menuruti setiap keinginan anaknya. Hal tersebut tidak mendidik, dan akan membuat anaknya lupa diri, manja, egois dan lain-lain. Ada kalanya hukuman harus dijatuhkan, meskipun mungkin sang ayah merasa perih untuk melakukannya, dan seringkali sang anak merasa sedih kenapa ayahnya berlaku begitu kejam, karena mereka belum bisa melihat bahwa hukuman terkadang dijatuhkan atas mereka demi kebaikan mereka sendiri, agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi di kemudian hari. Pada masa kecil saya, saya masih ingat betul beberapa kali ayah saya menjatuhkan hukuman. Biasanya berupa menepuk telapak tangan saya, jika saya melakukan hal yang salah. Dulu waktu hukuman itu diberikan, saya merasa sedih dan marah. Namun hari ini ketika saya melihat ke belakang, saya bersyukur bahwa didikan yang diberikan kedua orang tua saya akhirnya berperan penting dalam membentuk saya seperti sekarang, tentunya termasuk berbagai hukuman yang dulu diberikan atas kesalahan-kesalahan saya.

Seperti bapa sayang anaknya, demikianlah Engkau mengasihiku. Kasih sayang Tuhan kepada kita hadir dalam bentuk yang begitu intim, begitu dekat, seperti kedekatan seorang ayah dengan anaknya. Daud menyadari itu, sehingga ia berkata demikian: “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” (Mazmur 103:13). Yesaya menyebutkan: “Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah “Penebus kami” sejak dahulu kala.” (Yesaya 63:16), Maleakhi menuliskan: “Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia.” (Maleakhi 3:17), atau lihatlah bagaimana Yesus selalu menyebut Tuhan sebagai Bapa. Seperti halnya ayah kita di dunia menyediakan segalanya bagi kita, melindungi kita, demikian pula Bapa di Surga. Tapi di sisi lain, ketika kita melakukan kesalahan, seperti ayah di dunia yang terkadang perlu mendisiplinkan kita melalui hukuman, demikian pula Tuhan terkadang perlu menjatuhkan hukuman untuk mengajarkan dan mendisiplinkan kita demi kebaikan kita sendiri.

Penulis Ibrani mengingatkan pula akan bentuk pendisiplinan Tuhan. “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya.” (Ibrani 12:5). Mengapa demikian? “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (ay 6). Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan lebih jauh di ayat selanjutnya. “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (ay 7-8). Jika lewat ayah kita di dunia kita didisplinkan, dan kita menghormati mereka, apalagi terhadap Bapa Surgawi kita, yang tetap mendidik kita demi kebaikan kita sendiri, agar kita layak untuk memperoleh bagian dalam kekudusanNya. (ay 9-10). Pada saat hukuman jatuh atas kita tentu menyakitkan. Tapi lihatlah hasil akhirnya, jika kita mau memperbaiki diri dan menerima hukuman itu dengan ketulusan, hasil dari hukuman itu akan menghasilkan buah kebenaran yang menyelamatkan kita.

Bentuk pendisiplinan yang terkadang hadir dalam bentuk hukuman dari Tuhan bukan terjadi atas keinginan untuk menyakiti dan menyiksa kita, tapi sebaliknya, karena Tuhan mengasihi kita dan hendak mendidik kita seperti layaknya seorang ayah mengajari anaknya. “Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.” (Ulangan 8:5). Ingatlah bahwa dalam banyak kesempatan, penderitaan yang kita lalui adalah sebuah proses pemurnian dan pendisiplinan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita sendiri juga. Hal inilah yang digambarkan oleh Yakobus. “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:2-4). Jadi ketika kita sedang dididik Tuhan, meski terkadang sakit rasanya, bersyukurlah karena itu tandanya Tuhan mengasihi kita seperti bapa yang sayang anaknya.

Tuhan mendisiplinkan kita karena Dia sangat mengasihi kita sebagai anak-anakNya

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply