Seperti Apakah Gerakan Tahun Syukur KAJ 2015? (1)

komsos kaj romo samuel pangestu

BERIKUT ini acuan kerangka berpikirnya sebagaimana dibagikan oleh Ketua Komisi Komsos KAJ RD Harry Sulistyo di forum pertemuan para penggiat Komsos Parokial se-KAJ di Aula Katedral, Minggu siang tanggal 30 November 2014 lalu. (Baca juga:  Satukan Semangat Misioner Penggiat Komsos Parokial se-KAJ)

Tahun 2015, demikian papar RD Harry Sulistyo dalam forum pertemuan antar penggiat Komsos parokial se-KAJ Minggu lalu, merupakan tahun terakhir periode implementasi Arah Dasar Pastoral (ArDasPas) KAJ 2011-2015.

Mengutip paparan dari Vikjen KAJ RD Samuel Pangestu, setelah sosialisasi ArDasPas KAJ pada tahun 2011 maka di tahun-tahun berikutnya umat KAJ diajak memusatkan gerakan berpastoral pada ketiga pilar utama cita-cita Gereja KAJ, yakni “… semakin memperdalam IMANnya akan Yesus Kristus, membangun PERSAUDARAAN sejati dan terlibat dalam PELAYANAN kasih di tengah masyarakat.”

Berikut ini adalah rangkaian tema pastoral di KAJ setiap tiap tahunnya:

  • Tahun 2011 : Tahun Sosialisasi ArDasPas KAJ
  • Tahun 2012 : Tahun Iman (sekaligus Tahun Ekaristi)
  • Tahun 2013 : Tahun Persaudaraan
  • Tahun 2014 : Tahun Pelayanan
  • Tahun 2015 : Tahun Syukur

Pada tahun 2015 sebagai tahun terakhir periode implementasi ArDasPas, Gereja KAJ hendak BERSYUKUR melalui gerakan Evaluasi-Refleksi ArDasPas KAJ 2011-2015, Pengembangan Kerasulan Awam dan Hidup Bakti, serta Kaderisasi Rasul Awam.

2015 sebagai Tahun Syukur

Bersyukur adalah sikap dasar penting bagi umat beriman. Dalam sejarah keselamatan kita menimba pengalaman bahwa kurangnya rasa syukur kepada Allah sebagai Penyelenggara Ilahi telah menyebabkan bangsa pilihan menyeleweng dengan berpihak dan membawa persembahan mereka kepada illah-illah lain (bdk. Ul 10:12-22).

Yesus bergembira dalam Roh Kudus dan berkata “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, …” (Luk 10:21). Kepada para murid-Nya Yesus mengajarkan doa Bapa Kami yang diawali dengan bersyukur, memuji dan memuliakan Allah.

Mengucap syukur juga adalah sikap dasar dari Jemaat Perdana yang membuat mereka menjadi Gereja yang disukai oleh banyak orang (Kis. 2:41-47). Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi berkata “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.” (Fil 1:3)

Mendiang Mgr. Vrancken, Vikaris Apostolik kedua dari Batavia pada tahun 1856 silam telah mengundang para suster Ursulin untuk membuka karya misi pendidikan. Selanjutnya datang pula Bruder-bruder Aloysius (1862) yang menjalankan misi pendidikan bagi para pemuda, dan kemudian para Suster Fransiskanes dari Heythuysen yang melayani rumah yatim piatu, rumah sakit, dan sekolah (1870 di Semarang; 1879 di Larantuka).

Sejak saat itu semakin banyak tarekat hidup bakti yang berkarya di Jakarta.

Partisipasi kaum awam
Perjuangan mereka membangun umat Allah telah terwujud sampai saat ini, didukung oleh partisipasi kaum awam yakni umat pada umumnya, dalam semangat kolegialitas dengan para imam, biarawan, dan biarawati.

Namun tentunya disadari pula bahwa besarnya partisipasi kaum awam dalam rupa-rupa pelayanan Gereja KAJ perlu dipelihara dan ditingkatkan dengan pelbagai upaya, salah satunya melalui kaderisasi awam di segala bidang, yang memungkinkan Gereja untuk terus-menerus melaksanakan panggilannya membangun Kerajaan Allah melalui penginjilan, pengudusan, dan pembaruan tata dunia (Apostolicam Actuositatem 6-7).

Perjalanan Gereja KAJ selanjutnya akan ditentukan oleh gerakan-gerakan umat saat ini, apakah masih akan melanjutkan pola keberhasilan yang sudah dicapai oleh para pendahulu atau menemukan bentuk-bentuk kerasulan baru yang lebih menjawab tantangan zaman.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: