Seperti Apa Nama Kita Akan Dikenang?

Ayat bacaan: Amsal 22:1
==================
“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.”

nama baik, dikenang

Bagi orang yang berkecimpung di dunia jazz seperti saya, tentu nama Duke Ellington bukanlah nama yang asing. Duke (1899-1974) adalah komposer, pianis dan band leader/konduktor/dirijen asal Amerika Serikat yang hingga kini diakui dunia sebagai salah satu tokoh penting musik jazz. Meski Duke sudah tiada sejak 35 tahun yang lalu, karya-karyanya banyak yang abadi, masih berulang kali dibawakan para penyanyi/musisi dari masa ke masa. Ambil contoh, lagu “Take the ‘A’ Train”, yang aslinya bukan merupakan karangannya, tapi versinya adalah versi yang menjadi standar acuan para musisi di seluruh dunia. Lagu-lagu lain dari Duke yang menjadi klasik antara lain “In a Sentimental Mood”, “Caravan”, “It Don’t Mean a Thing If I Ain’t Got That Swing”, “Sophisticated Lady”, “Do Nothing Till You Hear From Me” dan banyak lagi. Menjelang kepergiannya tahun 1974, Duke sempat mengatakan demikian: “Music is how I live, why I live and how I will be remembered.” Ia ingin dikenang selamanya sebagai sosok pemusik besar, seperti apa yang telah ia lakukan sepanjang hidupnya. Ia mendapatkannya. Hingga hari ini namanya tetap harum dan besar bagi musik dunia, terutama jazz.

Seperti apa kita akan diingat ketika kita sudah tidak lagi ada di dunia ini? Ketika mendengar nama kita, apa yang akan dikenang orang? Kebaikan atau kejahatan? Sosok dengan kontribusi penting atau trouble maker? Orang yang mengasihi atau penuh kebencian? Orang yang bersih atau koruptor? Orang yang jujur atau penipu? Diingat atau dilupakan? Nama kita akan dikenang orang sesuai dengan bagaimana kita selama hidup. Jangan lupa bahwa nama ini akan kita wariskan pula ke anak cucu kita. Betapa kasihannya jika anak kita akan dikenal sebagai anak koruptor, penipu, penjahat dan sebagainya. Sesuatu yang bukan kesalahan mereka, namun mereka harus menanggungnya sepanjang hidup mereka. Karena itu, nama baik adalah hal yang sangat penting untuk selalu kita jaga. Karena itulah salah satu Amsal Salomo berkata “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” (Amsal 22:1).

Mari kita lihat beberapa tokoh Alkitab. Paulus tadinya adalah seorang pembunuh/pembantai, namun kemudian ia menjadi pewarta Injil yang radikal hingga akhir hayatnya. Matius tadinya dikenal sebagai pemungut cukai, yang mendapat cap orang berdosa, tapi kemudian ia dikenal sebagai murid Kristus yang luar biasa, bahkan sebagai salah satu dari 4 penulis Injil dalam Alkitab. Dari sosok wanita? Lihat latar belakang Rut. Rut terlahir sebagai perempuan bangsa Moab. Bangsa Moab dikenal sebagai bangsa yang menyembah dewa-dewa atau allah-allah lain seperti Kamos (Bilangan 21:29) dan Baal Peor (Bilangan 25:1-3). Tapi kemudian Rut dikenang sebagai sosok sangat penting karena keteguhan dan kesetiaan imannya. Rut adalah nenek buyut Daud, dan dari garis keturunannyalah Yesus lahir ke dunia. Ada begitu banyak lagi contoh bagaimana tokoh-tokoh Alkitab bisa mengalami transformasi dari kegelapan menjadi terang, sehingga nama baik mereka dikenang sepanjang masa. Mereka bisa saja menolak karunia Tuhan dan akhirnya memiliki akhir yang berbeda. Tapi mereka memilih taat dan setia, sehingga nama mereka pun menjadi nama yang harum hingga hari ini. Bandingkan dengan nama-nama seperti Saul, Firaun, Pilatus, dan sebagainya. Tuhan memberikan kesempatan yang sama bagi siapapun, namun pilihan kita sungguh menentukan untuk membuat bagaimana dan sebagai apa nama kita dikenal.

Ketika kita menerima Kristus, kita pun menjadi ciptaan baru. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17). Ada transformasi, ada pemulihan disana, dari lama menjadi baru. Sosok masa lalu kita yang kotor dan penuh noda dosa ditransformasikan menjadi sosok ciptaan baru yang bersih. Itu idealnya. Tapi manusia bisa kembali mengotori hidupnya dengan berbagai bentuk dosa, kebiasaan-kebiasaan buruk di masa lalu, atau godaan-godaan kedagingan. Akibatnya ciptaan baru ini pun bisa kembali rusak seperti halnya yang lama, bahkan mungkin lebih parah. Alangkah ironisnya ketika image diri kita dipulihkan Tuhan menjadi ciptaan baru yang bersih tidak kita syukuri dan pakai sebagai awal baru untuk melangkah dalam ketaatan iman. Tidak peduli siapa dan apa masa lalu kita, Tuhan menjanjikan awal baru bagi siapapun yang menerima Kristus secara pribadi. Sungguh disayangkan apabila kita masih juga berakhir dengan nama buruk setelahnya.

Seperti apa nama kita akan diingat orang? Seperti apa kita akan dikenang orang? Semua itu adalah pilihan, dan pilihan itu tergantung kita sendiri. Menjadi sosok dengan nama harum, yang dikenal orang dari masa ke masa, yang akan dengan bangga disandang anak cucu kita, atau sosok dengan nama buruk yang akan menjadi bagaikan kutuk untuk disandang kepada keturunan kita? Satu hal yang penting untuk diingat, lewat kita pun nama Tuhan bisa dikenal orang. Bagaimana sosok Kristus yang tercermin dalam diri kita anak-anakNya? Apakah Kristus sebagai Tuhan yang penuh kasih, atau Kristus sebagai Tuhannya orang-orang munafik? Lewat diri kita nama Tuhan bisa dimuliakan, bisa dikenal orang dan sejalan dengan itu bisa menjangkau jiwa-jiwa untuk diselamatkan, tapi sebaliknya lewat perilaku kita yang jelek nama Tuhan pun bisa dipermalukan. Sedianya nama Tuhan itu indah. Pemazmur mengatakan: “Pujilah TUHAN, sebab TUHAN itu baik, bermazmurlah bagi nama-Nya, sebab nama itu indah!” (Mazmur 135:3). Apakah kita bisa menjaga keindahan nama Tuhan lewat perilaku kita, atau malah mencemari nama Tuhan, itu semua tergantung bagaimana kita hidup. Menjaga nama baik Tuhan, juga menjaga nama baik kita, itu sungguh penting. Hidup dengan benar dalam ketaatan dan iman teguh akan membuat kita pergi dengan terhormat ketika saatnya tiba. Tidak heran jika Pengkotbah mengatakan “Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran.” (Pengkotbah 7:1). Seperti apa nama kita akan diingat, sebagai apa kita akan dikenang, seperti apa reputasi kita, itu tergantung diri kita sendiri. Tidak ada kata terlambat untuk berubah selama kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan. Karena itu, marilah kita menjaga nama baik kita agar tetap harum sampai kepada keturunan-keturunan kita, dan muliakanlah nama Allah di dalamnya.

Nama baik yang harum merupakan salah satu warisan berharga kepada anak cucu kita

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: