Sepenggal Kisah tentang Romo J. Casutt SJ: Surat Pribadi untuk Rodion Wikanto (4)

Dalam homilinya saat memimpin misa requiem bersama Socius Provinsial Provinsi Swiss Romo Toni Kurman SJ, Rektor/Superior ATM Surakarta Romo Bambang Triatmoko SJ menyampaikan hal-hal berikut ini. Antara lain peristiwa penting tanggal 22 Agustus 1953.

Saat itu, kata Romo Moko SJ, sudah ratusan taun lamanya Serikat Jesus dilarang beraktivitas di Swiss. Larangan itu tercantum dalam konstitusi Swiss. Padahal romo SJ yang mau merayakan misa pertama di tempat kelahirannya Horgen dan telanjur masuk koran secara luas telah beredar luas. Termasuk naskah iklan koran yang diposting Romo Paroki Telle di Horgen –tempat kelahiran Romo J. Casutt—sudah beredar di masyarakat.

Semestinya, warga Horgen layak gembira, karena Romo J. Casutt termasuk ‘putra asli daerah’ yang pertama yang menjadi imam. Meski sebenarnya tidak tahu apa itu misa pertama, namun polisi setempat sudah berketetapan melarang acara ini.

Setelah nego sana-sini, akhirnya misa pertama Romo J. Casutt SJ berhasil terlaksana. Bahkan, usai misa, berita pelarangan itu makin kencang berhembus ke seluruh penjuru Swiss. Ini membuat Gereja Katolik di Swiss melakukan protes. Akhirnya setelah berjuang selama 20 tahun, maka sejak tahun 1973 larangan yang mewajibkan misa dihentikan dicabut.

Walaupun tidak pernah masuk koran sebagai berita besar, namun peristiwa pelarangan misa di Horgen itu menjadi cikal bakal sebuah perjuangan panjang hingga akhirnya Konstitusi Swiss melakukan amandemen mengubah larangan misa itu. Referendum berhasil dilakukan atas dukungan kelompok mayoritas protestan di Swiss.

Surat untuk Rodion Wikanto

Juga dibacakan sebuah surat pribadi dalam bahasa Jerman gaya Swiss kepada Rodion Wikanto, alumnus ATMI angkatan di bawah saya berikut ini:

“Dear Rodion Wikanto,
Kaum hatte ich das terrain von Jakarta betreten, als schon ein Flugblatt mich erreichte und alles
Gute zu meiner Gesudheit wuenschte.  Ja, ich war seit meiner Krankheit etwas mitgenommen worden.
Ich mochte nicht mehr essen und fuehlte,  dasss die Kraefte immer mehr abnahmen.
Mein Gewicht betrug gerade noch 54 kg. mit Kleidern und Schuhen in begegriffenn.  Dreimal stuerzte  ich zu Boden.  Das erste  mal  glitt  ich auf der steinernen Treppe von oben
nacvh unten.  Zum’Glueck konnte ich mich am Rahmen festhalten. Die zwei letzen Male stuelpteich in der Kapelle ueber die Gestuehle.  Da niemand in der Kapelle war, hatte ich die groesste Schwierigkeit wieder auf meine ‘Beine zu kommen.   Man beschloss mich in den ersten Stock zu holen, um ein gleiches abzuwenden. Zur Sicherheit musste ich nach Jogja gefahren werden, um ein Roentgenbild herstellen zu lassen.  Zum Glueck fehlte an den Knochen nicht viel, und ich musste einigemale hinhalten. Das war auch mein kleiner Ausflug nach West-Java.  Gegenwaertig “spaziere” ich an Stoecken.  Es geht auch so. Ich wuerde mich freuen, Dich wieder einmal zu sehen.
 
Mit vielen Gruessen an Dich und die Kollegen
Dein — J. Casutt.”

Perkenankan saya menerjemahkan secara bebas isi surat tersebut:

“Dear Rodion Wikanto,
Hampir tidak pernah lagi saya ada di Jakarta, selain selebaran/ berita yang saya terima dan harapan bagi kesehatan saya yang baik. Ya, sejak saya sakit, saya ditarik.  Sekarang selera makan saya hilang dan merasa tenaga saya berangsur-angsur  menurun. Berat badan saya sudah sampai 54 kg termasuk sepatu dan pakaian saya. Sudah 3 kali saya jatuh ke lantai. Pertama kali saya terpeleset di tangga batu dari atas ke bawah. Untungnya saya dapat memegang frame tangga. Kedua kali saya tersandung bebangkuan di kapel. Karena tidak ada orang di kapel, saya mengalami kesulitan untuk bangun. Untuk menghindari kejadian-kejadian itu lagi, diputuskan saya pindah ke lantai dasar.

Untuk memastikan tidak ada apa-apa pada saya, saya dibawa ke Yogyakarta untuk menjalani X-ray. Untungnya, tidak ada yang membahayakan tulang-tulang saya. Banyak hal harus saya tunda termasuk perjalanan saya ke Jawa Barat (mungkin maksudnya Cikarang – red). Sekarang saya berjalan dengan memegang tongkat. Itu baik juga. Saya akan senang bertemu kamu lagi.
 
Salam untuk kamu dan teman-teman kamu.
 
J. Casutt.”

Photo credit: Misa requiem untuk Romo J. Casutt SJ di ATMI Solo, Jumat (24/8) (Martin Teiseran)

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: