Sepasang Telinga untuk Menjadi Pendengar yang Baik

Ayat bacaan: Matius 11:15======================”Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!.”Saya termasuk pengajar yang suka ngobrol dengan siswa-siswi saya. Biasanya itu saya lakukan sebelum atau sesudah jam belajar selesai. Seringkali karenanya saya p…

Ayat bacaan: Matius 11:15
======================
“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!.”

telinga untuk mendengar

Saya termasuk pengajar yang suka ngobrol dengan siswa-siswi saya. Biasanya itu saya lakukan sebelum atau sesudah jam belajar selesai. Seringkali karenanya saya pulang lebih lama dari jadwal sebenarnya. Mengapa saya senang melakukan hal itu? Karena saya suka bertukar pikiran, juga saya ingin mendengar apa saja keluhan atau kesulitan anak-anak didik saya. Kerap saya menjumpai bahwa kendala bukanlah dari kemampuan mereka baik dalam menerima pelajaran maupun mengerjakan, tetapi faktor-faktor eksternal lah yang sering menjadi penghambat. Seni berbicara itu penting dalam mengajar, tetapi seni mendengar pun tidaklah boleh diabaikan atau dikesampingkan. Masing-masing orang pasti berbeda masalahnya, dan saya harus meluangkan waktu mendengar mereka satu persatu jika saya mau melihat mereka memperoleh hasil yang terbaik. Saya membebaskan mereka bercerita atau bertanya tentang apapun diluar pelajaran, dan berusaha memberi masukan, setidaknya saya melatih diri menjadi seorang pendengar yang baik. Lalu sesampainya di rumah, saya pun harus menyediakan waktu untuk mendengar istri saya. Bagi saya itu adalah hal yang sangat penting atau bahkan boleh dikatakan sebuah keharusan. Saya tidak akan bisa menjadi suami/kepala rumah tangga yang baik jika saya tidak menyempatkan diri untuk mendengar istri saya. Mungkin ada masalah, mungkin bertanya ini itu, atau mungkin cuma menyempatkan diri ngobrol santai walaupun sebentar. Hubungan akan sulit terjalin apabila hanya berjalan satu arah saja. Karena itulah, apakah saya sedang lelah, kondisi tidak fit atau sedang santai, saya akan selalu berusaha meluangkan waktu untuk mendengarkannya.

Pernahkah anda berpikir mengapa Tuhan harus merancang kita dengan dua telinga sedang mulut hanya satu? Bayangkan jika ada dua mulut dan satu telinga. Satu mulut saja sudah sering bikin masalah kalau tidak dijaga baik-baik. Mulut cuma satu saja sudah bisa membuat orang lebih mementingkan untuk didengar ketimbang mendengar. Orang lebih tertarik untuk berbicara tapi tidak begitu berminat untuk mendengarkan. Bayangkan jika ada dua mulut, apa jadinya dunia ini? Telinga dipasang Tuhan di kiri dan kanan agar kita mau lebih banyak mendengar ketimbang terus menerus berbicara. Segala yang diciptakan Tuhan itu baik adanya, karena itu jika Tuhan memberi sepasang telinga maka itupun pasti punya tujuan, dan itu pasti demi tujuan yang baik. Maka jika kita memiliki sepasang telinga , seharusnya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk tujuan-tujuan yang baik pula.

Semakin lama orang semakin individualis dan egois. Semakin lama semakin sulit bagi kita untuk menemukan kehadiran seorang pendengar yang baik. Ada banyak orang yang sebenarnya butuh didengar lebih dari kebutuhan lainnya. Mereka merasa sendirian menghadapi sesuatu dan tidak punya orang untuk berbagi. Mereka kesepian, kesunyian dan merasa terabaikan. Ada banyak ayah yang berpikir bahwa tugas mereka hanyalah sampai sebatas mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Mereka lupa bahwa  menjadi ayah yang baik bukan hanya berbicara mengenai pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dari anak-anaknya, tapi juga harus menyediakan cukup waktu untuk mendengarkan cerita atau keluhan anggota keluarganya. Kita harus mau melatih diri untuk menjadi pendengar yang baik, baik mendengarkan apa yang Tuhan katakan maupun mendengarkan keluarga, teman-teman atau bahkan sesama kita yang tengah membutuhkan kehadiran seseorang yang peduli. Lihatlah bagaiman Tuhan selalu dengan penuh kasih meluangkan waktuNya untuk mendengarkan kita. Pemazmur menyadari dan menghargai hal itu dengan berkata: “Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.” (Mazmur 116:1-2).

Dimata Tuhan sangatlah penting bagi kita untuk menjadi pendengar yang baik. Beberapa kali Yesus menyebutkan “siapa bertelinga hendaklah ia mendengar!” seperti dalam Matius 11:15, 13:9, 13:43 atau Markus 7:16. Tidak satupun bagian tubuh kita ini diciptakan Tuhan sia-sia atau tanpa tujuan,  termasuk di dalamnya telinga. Tapi seringkali kita mengabaikan banyak fungsi penting dari telinga. Kita sering membiarkan hal-hal penting seperti nasihat atau teguran berlalu begitu saja. Masuk kiri keluar kanan, atau bahkan pura-pura tidak mendengar. Selain telinga, ketulusan hati pun diperlukan untuk bisa mendengar dengan baik. Seni mendengar yang baik bukanlah sekedar mendengar dengan telinga namun juga mendengar dengan hati. Kita mendengar dengan telinga, tapi tanpa hati yang baik, lembut dan tulus niscaya apa yang kita dengar hanyalah akan berlalu begitu saja. Dalam keluarga, hadiah yang terindah bisa jadi adalah kesediaan orang tua untuk mendengarkan anak-anaknya, begitu juga antara suami dan istri atau kakak-adik. Betapa indahnya jika komunikasi dalam keluarga bisa berjalan lancar.

Jika hari ini banyak ayah yang merasa buang-buang waktu untuk mendengarkan anak-anaknya atau merasa sudah terlalu sibuk untuk itu, Yesus menunjukkan hal yang sebaliknya. Yesus tidak menganggap anak-anak itu sebagai hal yang tidak penting, yang tidak perlu diberi waktu. Yesus sangatlah sibuk karena harus melakukan begitu banyak hal dalam masa kehadirannya yang singkat di muka bumi ini, tetapi Dia tetap bersedia meluangkan waktu untuk anak-anak. Lihatlah apa yang tertulis dalam Markus 10:13-16. Pada saat itu ada sekelompok orang yang membawa anak-anak mereka untuk diberkati Yesus. Tapi para murid menganggap itu tidak penting dan mereka pun memarahi orang-orang ini. Bagaimana reaksi Yesus? “Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (ay 14-15). Selanjutnya inilah yang dilakukan Yesus. “Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.” (ay 16). Ini salah satu contoh bagaimana Yesus mau meluangkan waktuNya yang singkat di dunia ini untuk memberkati anak-anak. Sikap yang sama ditunjukkan Yesus terhadap perempuan Samaria yang bercerita mengenai kekeringan hidupnya seperti yang tertulis dalam Yohanes 4. Sementara para suami banyak yang merasa terlalu sibuk untuk mendengarkan istrinya, ketika banyak pria berpikir bahwa mereka sudah terlalu sibuk mencari nafkah sehingga tidak punya waktu lagi untuk mendengarkan, Yesus memberi keteladanan sebaliknya. Menjadi pendengar yang baik sesungguhnya menunjukkan seberapa besar kita peduli dengan keadaan orang lain. Sebaliknya, ketika kita malas mendengar, itu menunjukkan betapa kurangnya perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Allah sendiri begitu mengasihi kita, maka Dia selalu mempunyai waktu untuk mendengarkan dan menjawab kita.

Petrus mengatakan demikian: “Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati..” (1 Petrus 3:8). Kita tidak akan pernah bisa memberikan sikap seperasaan, sepenanggungan, menyayangi, mengasihi dan rendah hati jika kita tidak merasa penting untuk menjadi pendengar yang baik. Tuhan saja mau mendengarkan kita, alangkah keterlaluan apabila kita menolak mendengarkan orang lain. Jika keluarga sendiri saja sudah tidak ingin didengar apalagi orang lain. Itu bukanlah sikap yang baik bagi kita orang percaya. Tidak saja baik bagi kita untuk mau mendengarkan orang lain, terlebih kita harus mau mendengarkan Tuhan pula. Kecenderungan manusia dalam berdoa adalah untuk membawa daftar permintaan atau permohonan. Doa diisi dengan percakapan yang dibangun searah, kita hanya ingin didengar Tuhan dan dikabulkan tapi mengabaikan pentingnya untuk mendengarkan Tuhan. Itupun bukan hal yang baik untuk dilakukan. Kita boleh meminta, tapi terlebih kita harus mau mendengarkan perkataan, nasihat atau bahkan teguran Tuhan. Tuhan sudah memberi dua telinga, hendaklah kita bersyukur dan mempergunakannya dengan baik. Tentu tidak perlu Tuhan harus membesarkan telinga kita terlebih dahulu agar kita mau patuh bukan? Hendaklah kita terus melatih diri sebagai orang yang mau memberikan sebagian dari waktunya untuk menjadi pendengar yang baik.

Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengarkan kita, hendaknya kita pun demikian terhadap orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply