SenyumNya Tak Pernah Berubah

7 Juli - RmA 4SEJAK Kemarin siang saatku mengikuti Ibadat Nona yakni Ibadat Siang sesudah Tengah hari pukul empat belas tiga puluh di Kapel Pertapaan Rawaseneng sudah kulihat Beliau dan kami bertatapan dalam Senyum penuh Kasih senyumNya tak pernah berubah seperti senyum Bapa Surgawi kendati kita Lemah berdosa (tampaknya Beliau pangling) maka Pagi ini sebelum Ibadat Tertia yakni Ibadat Siang sebelum Tengah hari kembali Beliau tersenyum dan kali ini dengan lambaian Tangan (karena Beliau sudah ingat dan yakin pula) kubungkukkan badan tanda Salam hormat penuh Cinta dari bangku tempatku duduk (karena kami dibatasi jarak Klausura di Kapel) dan sesudah Ibadat usai melangkahlah Beliau ke arahku dan kami pun berjabat Tangan kuciumlah Tangan Beliau penuh Hormat dan Cinta terima kasih Abas Gonzaga (kita sama punya Nama Suci : Santo Aloysius Gonzaga) dan Beliau pun mulai berbicara + aku jan Pangling tenan + sampai Kapan di sini + kok tidak tidur di Dalam + sekarang sudah ada Kamar + di Dalam mendengar perkataan Beliau dan merasakan KehangatanNya aku Tertunduk penuh Haru – sampai nanti siang, jawabku dan Beliau pun ngendika + pulang besok Saja + cerita-cerita dulu untuk Kami – waduh Maaf besok kuharus Misa di Paroki pagi dan siang – sahutku + kapan ada waktu untuk Kami spontan kuintip jadwalku – tanggal 30-31 Juli ya + terima Kasih + tapi harus Nginap – sembah Nuwun Romo Abas lalu Kami berpisah + oh ya Selamat HUT Imamat ya – sembah Nuwun Romo Abas itulah Dialog kami + Romo Abas Gonzaga dan – aku dan kumerasa amat Terharu dalam Bahagia oleh senyumNya yang tak pernah berubah Itu senyum yang Tulus penuh Kasih bukan senyum yang menghakimi apalagi senyum yang membunuh Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

7 Juli - RmA 4

SEJAK Kemarin siang saatku
mengikuti Ibadat Nona
yakni Ibadat Siang
sesudah Tengah hari
pukul empat belas tiga puluh
di Kapel Pertapaan Rawaseneng
sudah kulihat Beliau
dan kami bertatapan
dalam Senyum penuh Kasih

senyumNya tak pernah berubah
seperti senyum Bapa Surgawi
kendati kita Lemah berdosa

(tampaknya Beliau pangling)

maka Pagi ini
sebelum Ibadat Tertia
yakni Ibadat Siang
sebelum Tengah hari
kembali Beliau tersenyum
dan kali ini
dengan lambaian Tangan

(karena Beliau sudah ingat
dan yakin pula)

kubungkukkan badan
tanda Salam hormat penuh Cinta
dari bangku tempatku duduk

(karena kami dibatasi
jarak Klausura di Kapel)

dan sesudah Ibadat usai
melangkahlah Beliau ke arahku
dan kami pun berjabat Tangan
kuciumlah Tangan Beliau
penuh Hormat dan Cinta

terima kasih Abas Gonzaga
(kita sama punya Nama Suci
: Santo Aloysius Gonzaga)

dan Beliau pun mulai berbicara
+ aku jan Pangling tenan
+ sampai Kapan di sini
+ kok tidak tidur di Dalam
+ sekarang sudah ada Kamar
+ di Dalam

mendengar perkataan Beliau
dan merasakan KehangatanNya
aku Tertunduk penuh Haru
– sampai nanti siang, jawabku

dan Beliau pun ngendika
+ pulang besok Saja
+ cerita-cerita dulu untuk Kami

– waduh Maaf besok
kuharus Misa di Paroki
pagi dan siang – sahutku

+ kapan ada waktu untuk Kami

spontan kuintip jadwalku
– tanggal 30-31 Juli ya

+ terima Kasih
+ tapi harus Nginap

– sembah Nuwun Romo Abas

lalu Kami berpisah
+ oh ya Selamat HUT Imamat ya
– sembah Nuwun Romo Abas

itulah Dialog kami
+ Romo Abas Gonzaga dan
– aku

dan kumerasa amat Terharu
dalam Bahagia
oleh senyumNya
yang tak pernah berubah Itu
senyum yang Tulus
penuh Kasih

bukan senyum yang menghakimi
apalagi senyum yang membunuh

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply