Senyum dan Sukacita

Ayat bacaan: 2 Kor 7:4
==================

“…Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah.”

Tadi siang salah satu mahasiswa bimbingan saya menghadapi sidang. Dalam presentasinya dia kelihatan super gugup sampai2 mukanya pucat. Setelah sidang selesai, saya bertanya pada dia, apa yang menyebabkan dia sampai begitu gugupnya. Dan katanya, ada satu dosen penguji yang senyumnya bikin down. Loh, bikin down gimana? katanya senyum yang terasa mengintimidasi, sehingga dia kehilangan kepercayaan diri. Saya berpikir, bahkan sebuah senyum pun bisa membuat orang kehilangan percaya diri instan. Benar juga ya.. senyum itu bisa muncul dalam berbagai bentuk, sifat dan alasan, juga dapat memberi pengaruh yang berbeda2. Ada senyum yang menenangkan, ada yang menyenangkan, ada yang penuh kasih.. tapi ada juga yang kecut,terasa pura2, sinis, senyum menyeringai, kejam dan lain2. Iseng, saya pun menanyakan lagi pada bimbingan saya itu, “tapi saya kan senyum2 juga selama sidang? berarti mengintimidasi juga dong? Dia menjawab, “beda pak… senyum bapak sebaliknya, selalu bikin tenang.” Puji Tuhan… artinya senyum yang selama ini keluar dari rasa sukacita di hidup saya tidak diartikan berbeda di dunia.

Senyum yang berasal dari sukacita… Sukacita adalah salah satu buah Roh (Gal. 5:22),
anugerah Kristus (Yoh. 15:11), dan salah satu elemen dalam Kerajaan Allah (Rm. 14:17). Bentuk sukacita ini sulit didefenisikan secara manusia, karena prosesnya memang berasal dari Tuhan. Sukacita tidak akan terpengaruh oleh kondisi kehidupan, karena rasa sukacita ini memancar keluar dari dalam. Maka, seseorang yang bersukacita akan dapat tersenyum dalam badai, angin ribut, atau gelombang hidup sekalipun. Lihatlah rasul Paulus yang kaya dalam penderitaan, biar bagaimanapun ia tetap mengakui bahwa ia mempunyai sukacita melimpah.

Saya teringat salah satu cerita dari kotbah salah seorang pendeta di gereja saya. Ada seorang pengusaha yang sedang berlibur ke kota lain. Pada hari minggu dia bermaksud mencari gereja terdekat dari hotelnya, dan ketika dia melihat seorang polisi, dia pun meminta informasi dimana dia dapat beribadah. Polisi itu berkata, ada banyak gereja disekitar hotel, tapi menganjurkan satu gereja yang letaknya justru paling jauh dari lokasi. Maka si pengusaha bertanya, mengapa polisi itu memilih gereja yang jauh itu? Sang polisi berkata, “saya memang bukan Kristen, tapi saya selalu melihat orang2 yang keluar dari gereja itu sepertinya orang2 yang paling bahagia. Mereka selalu tersenyum gembira. Mungkin gereja seperti ini yang anda cari.”

Betapa indahnya senyum yang keluar dari ungkapan rasa sukacita. Di saat-saat penuh kesulitan, ketidakstabilan dan semakin beratnya perjuangan hidup, tentu dunia sangat membutuhkan banyak bantuan. Dan sadarkah anda, jika dengan sebuah senyum tulus yang berasal dari sukacita kita akan dapat meringankan beban orang banyak? This world needs us, and while we’re thinking what’s best to give, why don’t we just smile first?

Senyuman yang berawal dari sukacita bersumber dari Roh Kudus yang tinggal dalam setiap orang percaya.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment