Seni Menghadapi Ejekan

Ayat bacaan: 2 Petrus 3:3====================”Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya.”Dimanapun kita hidup, dan…

Ayat bacaan: 2 Petrus 3:3
====================
“Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya.”

Dimanapun kita hidup, dan kapan pun masanya, kita akan terus berhadapan dengan orang-orang yang gemar mengejek, menyindir atau menghina. Mereka melakukan itu seolah tidak peduli terhadap perasaan orang lain. Mereka melakukannya tanpa rasa bersalah dan dengan sangat mudah. Ada lagi orang yang hanya tahu melihat hal yang buruk tetapi tidak pernah bisa memuji hal yang baik. Orang seperti ini akan dengan ringan mengkritik sepedas mungkin seolah hanya merekalah yang paling benar dan ditangan mereka semuanya sudah pasti menjadi lebih baik. Saya bukan menganjurkan kita menjadi orang-orang yang anti kritik. Sama sekali tidak. Tetapi kita harus berhati-hati terhadap bentuk-bentuk kritik atau ejekan yang tidak membangun yang bisa jadi membuat mental kita hancur berantakan. Masalahnya, kita tidak bisa setiap saat menghindari orang-orang yang bersifat seperti ini dimanapun kita berada. Tidak tertutup pula kemungkinan kita mengalami itu di dalam keluarga sendiri selama bertahun-tahun, baik antara suami-istri, orang tua-anak atau antar saudara. Di sekolah, di kampus, di tempat kerja dan lain-lain, tidak satupun tempat yang bisa seratus persen bebas dari orang-orang yang gemar mengejek seperti ini. Terkadang hinaan bisa keluar secara spontan, yang menghina sudah lupa, tapi yang dihina bisa merasakan dampaknya dalam waktu lama dan tidak jarang mengakibatkan kepahitan.

Setiap saat ada saja orang-orang yang dengan tega mengeluarkan kata-kata hinaan yang menyakiti diri kita, dan itu bukan hanya masalah masa kini melainkan sudah pula tercatat dalam Alkitab. Petrus menekankan hal penting yang masih berlaku hingga hari ini: “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya.” (1 Petrus 3:3). Menjelang kedatangan Kristus untuk kedua kalinya, kita akan semakin sering berhadapan dengan pengejek-pengejek yang tampil secara nyata dimanapun kita berada. Akan sangat sulit bagi kita untuk menghindarinya, oleh karena itu saya lebih tertarik untuk fokus kepada cara untuk mengatasi kehancuran diri kita dari dalam akibat menerima hinaan. Dalam 1 Petrus 3:3 itu kita melihat bahwa ejekan keluar dari hati orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Dan ini memang sebuah ciri khas atau gaya hidup banyak orang menjelang akhir zaman. Sulit bagi kita untuk menghindari hinaan, namun kita bisa membentengi diri kita agar efeknya jangan sampai menghancurkan hidup kita.

Pertama-tama, mari kita ingat lagi bahwa kita diciptakan Tuhan bukan kebetulan. Tuhan punya rencana yang besar dengan menciptakan kita. Daud menggambarkan keindahan penciptaan manusia oleh Tuhan. “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Mazmur 139:13-14). Dalam Yesaya kita pun bisa membaca: “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yesaya 49:16). Begitu indahnya Tuhan menciptakan manusia. Ia mempedulikan kita, mengasihi kita, bahkan hingga menganugrahkan anakNya yang tunggal demi keselamatan kita. (Yohanes 3:16). Menyadari hal itu, kita hendaknya bisa tetap kuat ketika menghadapi ejekan dan hinaan. Di mata Tuhan, kita berharga. Daud berkata “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.” (Mazmur 27:10). Yang terpenting bukan pandangan manusia yang seringkali menjatuhkan melainkan pandangan Tuhan yang akan selalu menyambut diri kita dengan penuh sukacita.

Yang kedua, kita harus ingat agar jangan menyimpan ejekan atau hinaan itu sampai membusuk dalam hati dan menimbulkan kepahitan atau ketidakpercayaan diri. Amsal Salomo mengingatkan “Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh.” (Amsal 12:16). Orang yang bijak akan mengabaikan hinaan karena mereka mengetahui pandangan Tuhan dibalik penciptaan diri mereka. Jika mau lebih positif, pakailah hinaan itu sebagai alat untuk memotivasi kita agar bisa lebih baik lagi. Jadikan cambuk bukan untuk menyakiti diri sendiri, tetapi pakailah untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan kita. Sulit memang, namun dengan menyelaraskan pandangan kita dengan cara pandang Tuhan, niscaya kita akan mampu melakukannya.

Selanjutnya ada ayat yang berbunyi: “Bila kefasikan datang, datanglah juga penghinaan dan cela disertai cemooh.” (Amsal 18:3). Disini Salomo mengingatkan bahwa hinaan itu biasanya berasal dari dosa. Dalam bahasa Inggris dikatakan “When the wicked comes in (to the depth of evil), he becomes a contemptuous despiser”. Lebih lanjut dikatakan bahwa hanya orang-orang yang tidak berakal budilah yang menghina sesamanya. “Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri.” (Amsal 11:12). Orang-orang seperti ini dikatakan tidak akan luput dari hukuman karena apa yang mereka lakukan sebenarnya sama saja dengan menghina Penciptanya. (Amsal 17:5). Daripada membiarkan hinaan itu menghancurkan diri kita, lebih baik kita anggap itu sebagai sebuah masukan yang bisa membuat kita lebih baik lagi kedepannya. Dan doakanlah mereka yang mengejek itu agar bisa bertobat dan diampuni Tuhan. Benar, kita tidak bisa menghindari hinaan dan ejekan, namun selama apa yang kita perbuat itu telah kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan sesuai dengan firman Tuhan, yakinlah bahwa Tuhan pasti sangat menghargainya. Kita tidak perlu berkecil hati, karena bukan apa kata manusia yang penting, tapi apa kata Tuhan, itulah yang terpenting.

Anak-anak Tuhan tidak perlu tawar hati menghadapi hinaan karena mereka tahu bagaimana Bapa mencintai mereka

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply