Senang Melihat Musuh Jatuh

Ayat bacaan: Yunus 4:1
====================
“Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.”


senang melihat musuh jatuhBagaimana perasaan hati kita ketika melihat orang yang tidak kita sukai jatuh? Kebanyakan orang akan senang melihatnya. Apalagi jika orang itu pernah menyakiti hati kita. Kata-kata yang keluar pun biasanya bernada puas. Rasakan, biar tahu rasa, biar kapok, bahkan kata-kata yang lebih kasarpun akan keluar dari mulut kita. Ketika saya mengingatkan seorang teman yang merasa puas melihat seterunya jatuh, ia pun berkata “mengapa tidak? Dia sudah menyakitiku kan? Wajar dong kalau aku senang melihatnya..” Secara manusiawi mungkin ya, tetapi tidak ada alasan bagi kita orang percaya untuk melakukan hal seperti itu. Mengapa? Karena kita seharusnya memiliki kasih Kristus di dalam diri kita yang sama sekali tidak menyediakan tempat buat beria-ria terhadap kejatuhan orang lain, bahkan yang telah berbuat jahat terhadap kita sekalipun.

Hari ini mari kita lanjutkan kisah Yunus. Setelah ia keluar dari perut ikan dan kemudian memutuskan untuk taat terhadap perintah Tuhan, ia pun pergi untuk mengingatkan Niniwe agar bertobat. Dan pertobatan bangsa Niniwe pun hadir. Seisi Niniwe berbalik dari tingkah laku yang jahat dan berselubung kain kabung tanda pertobatan. Bukan hanya manusia, tetapi ternak-ternak pun demikian. Melihat itu, Tuhan pun mengampuni mereka. “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.” (Yunus 3:10). Apa yang wajar menjadi respon Yunus melihat hal ini? Seharusnya ia gembira. Seharusnya ia merasa lega, bahwa tugas maha berat yang dibebankan kepadanya mampu ia selesaikan dengan baik. Seharusnya Yunus merasa bahagia melihat begitu banyak manusia yang terluput dari kebinasaan dan beroleh keselamatan. Tapi bukan itu yang menjadi respon Yunus. Justru sebaliknya, Alkitab mencatat respon Yunus adalah seperti ini: “Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.” (Yunus 4:1).

Niniwe merupakan musuh bebuyutan dari Israel. Buat apa Allah Israel menyelamatkan musuh umatNya sendiri? Itu mungkin yang menjadi isi hati Yunus. Ia mengira bahwa hanya bangsa Israel saja yang mendapat janji Tuhan, dan dengan demikian hanya Israel lah satu-satunya yang berhak diselamatkan. Yunus bahkan berterus terang mengungkapkan rasa marahnya melihat Niniwe diselamatkan. Tapi pikiran seperti itu sungguh salah. Lewat pohon jarak yang ditumbuhkan dan kemudian layu di hari selanjutnya Tuhan memberi pelajaran kepada Yunus bahwa bukan hanya Israel, tapi bangsa-bangsa lain pun layak untuk dikasihi Tuhan. “Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” (Yunus 4:10-11). Bukankah mereka pun Tuhan yang menciptakan? Bukankah mereka juga diciptakan menurut gambar dan rupaNya? Jika demikian, bagaimana mungkin Tuhan tidak mengasihi mereka juga?

Yunus memang mentaati perintah Tuhan, namun hatinya ternyata masih sama kerasnya seperti saat ia melarikan diri dari penugasan Tuhan. Di dalam hatinya ia masih tetap menginginkan kehancuran Niniwe. Itu bukanlah sikap yang diinginkan Tuhan untuk kita miliki. Ada banyak orang-orang yang pernah, sedang dan akan menyakiti kita di kemudian hari. Terhadap mereka kita tidak diperbolehkan untuk mendendam apalagi mengutuk. Justru yang diinginkan Tuhan adalah sebentuk kasih yang didalamnya terdapat pengampunan tanpa batas. Kita juga dituntut untuk selalu berbuat baik bagi mereka, bahkan mendoakan mereka. “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu… kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. (Lukas 6:27,35). Dalam Injil Matius dikatakan “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Ini merupakan perintah penting yang digariskan Tuhan untuk kita amalkan dalam kehidupan kita. Mungkin berat bagi kita, tapi ingatlah bahwa ada Roh Kudus di dalam diri kita yang akan memampukan kita untuk berbuat demikian.

Tuhan mengasihi semua ciptaanNya di dunia ini. Siapapun manusianya, baik atau jahat, semuanya tetap layak untuk diselamatkan. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yohanes 3:16-17). Kasih Allah itu besar bagi siapapun tanpa terkecuali, bukan hanya terhadap Israel saja. Kedatangan Yesus pun bukan hanya untk menyelamatkan segelintir umat pilihan, tapi berlaku untuk siapa saja yang percaya padaNya, tanpa pandang bulu, tanpa terkecuali. Tuhan Yesus berkata “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Yohanes 10:16). Semua ini menggambarkan besarnya kasih Allah kepada seluruh umat manusia di bumi ini. Dia rindu untuk melihat pertobatan dari bangsa-bangsa agar selamat. Jika Tuhan memiliki persepsi demikian, mengapa kita malah harus bersenang hati melihat kehancuran orang lain? Mari kita menjaga hati kita agar tidak terperosok kepada pemahaman keliru seperti Yunus. Tetaplah berbuat baik, jangan terpengaruh oleh provokasi atau pancingan-pancingan dari orang yang berlaku jahat, tetapi doakanlah mereka dan ampuni. Jika seteru atau orang yang menyakiti kita jatuh, jangan bersenang hati, tapi justru kita harus menunjukkan empati dan berusaha menolong semampunya. Jika itu sulit, berdoalah dan minta agar Roh Kudus memampukan kita untuk melakukannya. Dari Yunus kita bisa belajar, meski kita sudah melakukan tindakan yang benar, tetapi kita masih mungkin berbuat kesalahan jika kita tidak menjaga hati kita agar tetap seturut kehendak Allah. Mari miliki hati yang lembut dan penuh kasih, karena Allah pun memperlakukan kita semua dengan cara seperti itu.

Damai sejahtera dan sukacita akan selalu ada jika kita mentaati Tuhan dengan segenap hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: