Senang Melihat Musuh Jatuh (1)

Ayat bacaan: Yunus 4:1====================”Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.”Dalam dunia bisnis, berbagai konspirasi dirancang dan mata-mata diselundupkan kepada pesaing atau kompetitor yang bahkan belum tentu jahat. Merek…

Ayat bacaan: Yunus 4:1
====================
“Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.”

Dalam dunia bisnis, berbagai konspirasi dirancang dan mata-mata diselundupkan kepada pesaing atau kompetitor yang bahkan belum tentu jahat. Mereka mencoba mengintip apa yang sedang dicoba, kreasi-kreasi baru, inovasi terdepan atau kemana investasi diarahkan sehingga mereka bisa mencoba memotong lebih dahulu. Kalau terhadap kompetitor saja seperti itu, apalagi terhadap musuh. Rata-rata orang senang kalau melihat musuhnya jatuh. Ada rasa puas disana yang semakin besar saat musuh terjatuhnya semakin parah. Kata-kata yang keluar pun biasanya bernada puas. Rasakan, biar tahu rasa, biar kapok, bahkan kata-kata yang lebih kasarpun akan keluar dari mulut kita. Dahulu ada orang yang saya kenal bahkan mentraktir teman-temannya saat seterunya terpeleset jatuh mengalami kesulitan.  Mengapa tidak? Dia sudah menyakitiku kan? Wajar dong kalau aku senang melihatnya jatuh.. itu merupakan alasan yang umum dimiliki banyak orang.

Sebenarnya tidak ada satupun alasan bagi kita orang percaya untuk melakukan hal seperti itu. Mengapa? Karena kita seharusnya memiliki kasih Kristus di dalam diri kita yang sama sekali tidak menyediakan tempat buat bersukacita atas kejatuhan orang lain, bahkan yang telah berbuat jahat terhadap kita. Sekalipun terhadap orang yang jahat, Tuhan mengharuskan kita menyatakan kasih dan tetap mendoakan mereka dan tidak pernah senang kalau kita berlaku jahat atau sekedar senang melihat mereka kesusahan sekalipun, tanpa memandang alasannya.

Kita bisa belajar akan hal ini lewat Yunus. Kita tentu sudah tahu bahwa saat Yunus membangkang dari perintah Tuhan, ia mengalami situasi berbahaya dengan dibuang keluar dari kapal dan ditelan ikan besar. Pengalaman pahit itu seharusnya mampu menyadarkannya, karena Tuhan masih memberinya kesempatan dengan tidak mencabut nyawanya pada saat itu juga. Ia bisa selamat dan keluar dari perut ikan hidup-hidup.

Setelah ia keluar dari perut ikan, Yunus memutuskan untuk taat terhadap perintah Tuhan. Maka ia pergi untuk mengingatkan Niniwe agar bertobat, tepat seperti apa yang diperintahkan Tuhan untuk ia lakukan. Pertobatan bangsa Niniwe pun hadir. Seisi Niniwe berbalik dari tingkah laku yang jahat dan berselubung kain kabung tanda pertobatan. Bukan hanya manusia, tetapi bahkan hingga hewan ternak. Itu merupakan bentuk pertobatan menyeluruh yang sangat langka terjadi. Dan ternyata itu berkenan bagi Tuhan. Tuhan pun mengampuni mereka.

Alkitab dengan jelas menyatakan hal itu. “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.” (Yunus 3:10). Seharusnya Yunus senang dan bahagia karena tugasnya berhasil membawa keselamatan bagi bangsa Niniwe. Seharusnya ia merasa lega bahwa tugas maha berat yang dibebankan kepadanya mampu ia selesaikan dengan baik. Seharusnya Yunus bersukacita melihat begitu banyak manusia yang terluput dari kebinasaan dan beroleh keselamatan. Tapi anehnya, bukan itu yang dirasakan Yunus. Justru sebaliknya, Alkitab mencatat bahwa Yunus malah marah. “Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.” (Yunus 4:1).

Agar kita mengetahui mengapa Yunus marah, ada baiknya kita melihat latar belakang hubungan antara Niniwe dan Israel terlebih dahulu. Niniwe merupakan musuh bebuyutan dari Israel. Lantas buat apa Allah Israel menyelamatkan musuh dari umatNya sendiri? Itulah yang mungkin menjadi isi hati Yunus. Ia mengira bahwa hanya bangsa Israel saja yang mendapat janji Tuhan, dan dengan demikian hanya Israel lah satu-satunya yang berhak diselamatkan. Bangsa lain? Biar saja, toh mereka bukanlah masuk dalam perjanjian. Begitu mungkin pikirnya. Yunus bahkan berterus terang mengungkapkan rasa marahnya melihat Niniwe diselamatkan. Tapi pikiran seperti itu sangatlah keliru. Lewat pohon jarak yang ditumbuhkan dan kemudian layu di hari selanjutnya Tuhan memberi pelajaran kepada Yunus bahwa bukan hanya Israel, tapi bangsa-bangsa lain pun punya kesempatan yang sama untuk menerima kasih karunia Tuhan. “Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” (Yunus 4:10-11). Bukankah Niniwe Tuhan kiga yang menciptakan? Bukankah mereka juga diciptakan menurut gambar dan rupaNya? Jika demikian, bagaimana mungkin Tuhan tidak mengasihi mereka juga?

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply