Semua Dapat Kesempatan

Ayat bacaan: Matius 21:31
=====================
“Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

kesempatan yang sama, bertobat, perempuan sundal, pemungut cukai

Ketika saya dibaptis sekian tahun yang lalu, ada seorang wanita muda yang dibaptis bersama-sama dengan saya berteriak sambil menangis sesaat setelah ia dicelupkan ke dalam air. Hal itu mengagetkan saya, karena jujur sebelumnya saya belum pernah melihat hal seperti itu. Raut wajahnya saya ingat betul sampai sekarang. Ia menangis dan sedikit histeris tapi wajahnya tersenyum. Ia berkata setelahnya bahwa hidupnya dulu bergelimang dosa dan berisi banyak kepahitan. Dulu dia tidak percaya bahwa dirinya punya kesempatan untuk diselamatkan biar bagaimanapun akibat banyaknya dosa di masa lalu yang ia perbuat. Tapi hari ini, katanya, ia menjadi orang merdeka. Ia sudah diampuni, ia menjadi tahir kembali dan menerima kesempatan untuk lahir baru, hidup menjadi pribadi yang telah diperbaharui, lepas dari segala belenggu yang mengikatnya di masa lalu. Karena itulah begitu ia dibaptis, ia sempat histeris saking gembiranya. Ini perasaan yang luar biasa, tidaklah heran ia bereaksi demikian. Ada banyak orang yang mungkin menganggap dirinya sudah terlalu jauh jatuh ke dalam dosa sehingga pintu kesempatan untuk selamat tidak akan mungkin lagi dibukakan baginya. Tapi dengarlah, bahwa siapapun bisa mendapatkan keselamatan selama orang itu mau mempergunakan kesempatan yang masih ada untuk berbalik jalan, mengakui semua perkara di hadapan Tuhan dan bertobat dengan kesungguhan hati yang utuh.

Sedikit melanjutkan apa yang sudah saya tulis kemarin mengenai stereotipe, mungkin ada banyak di antara kita yang terlalu mudah menghakimi orang lain, menganggap bahwa dosa mereka jauh lebih besar dari kita, sehingga terburu-buru menganggap bahwa mereka sudah pasti berakhir di dalam siksaan kekal kelak. Disisi lain, ada pula banyak orang yang merasa kesempatan mereka sudah tertutup. Saya tertarik untuk mengangkat sebuah perumpamaan singkat namun dalam artinya yang pernah diucapkan Yesus sendiri, yaitu perumpamaan tentang dua orang anak. Tuhan Yesus memberikan perumpamaan ini di hadapan para imam-imam kepala dan pemimpin Yahudi yang merasa diri mereka paling alim di antara yang lainnya, yang begitu mudahnya menghakimi orang lain seperti yang tercatat berkali-kali dalam Injil. Yesus berkata demikian: “Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.” (Matius 21:28). Inilah pembuka perumpamaan itu. Ketika anak sulung itu diminta untuk bekerja di kebun anggur, ternyata anak sulung itu menolak. (ay 29). Mungkin anak sulung menganggap bahwa sebagai anak tertua ia sudah pasti mendapatkan segalanya sehingga ia tidak perlu lagi berbuat apapun. Anak sulung itu tahu ia wajib melakukan kehendak ayahnya, tapi ia tidak melakukannya karena merasa dirinya sudah aman. Lalu sang ayah mendatangi anak keduanya dan mengulangi permintaannya. Tanggapan si anak kedua ternyata berbeda. Mulanya menolak, namun kemudian ia menyesal dan menuruti permintaan ayahnya. “Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. (ay 30). Lihatlah ada perbedaan nyata antara keduanya. Yesus pun kemudian menanyakan pendapat para imam dan tua-tua Yahudi: “Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (ay 31). Mengapa? Inilah sebabnya: “Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” (ay 32).

Perbedaan antara yang masuk ke dalam Kerajaan Allah dan yang tidak bukanlah tergantung dari apa yang terjadi di masa lalu, tapi dari bagaimana kita menyikapi hidup ini, apakah dengan menyesali penolakan kemudian berbalik untuk percaya atau tetap menolak untuk itu. Para imam kepala dan pemimpin Yahudi itu tahu persis apa yang telah berulang kali dinubuatkan sebelumnya, namun mereka tidak juga bisa percaya meski sudah langsung bertemu muka dengan Kristus. Sementara di sisi lain, orang-orang berlumur dosa mungkin hidup dalam kegelapan sepanjang hidupnya, namun ketika mereka membuka hati mereka dan bertobat, mau mempercayakan hidup mereka sepenuhnya pada Yesus, maka Kerajaan Allah pun menjadi bagian dari mereka. Ini perumpamaan yang mengajarkan hal penting bagi kita. Kita tidak boleh menghakimi orang lain, menganggap bahwa kita jauh lebih baik dari mereka, dan dari sisi lain kita bisa belajar bahwa setiap orang, yang berlumur dosa sekalipun tetap diberikan kesempatan untuk mendapatkan janji Tuhan akan keselamatan dan menjadi bagian dalam Kerajaan Allah. Ada begitu banyak contoh lain mengenai hal ini, misalnya kisah perumpamaan mengenai orang Farisi dengan pemungut cukai (Lukas 18:9-14). Ketika keduanya masuk ke bait Allah, ada perbedaan nyata dari sikap hati keduanya. Sementara orang Farisi menyombongkan kerajinannya beribadah dan tata cara hidupnya yang dianggapnya paling benar, pemungut cukai merendahkan dirinya habis-habisan. “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (ay 13). Pemungut cukai lah yang akhirnya pulang sebagai orang yang dibenarkan. (ay 14). Sementara mengenai wanita pelacur, kemarin kita sudah melihat bagaimana Rahab yang awalnya merupakan wanita tuna susila kemudian menjadi satu dari sederet pahlawan iman lainnya sekaliber Musa, Abraham, Yusuf dan lain-lain lewat imannya.

Semua orang dapat kesempatan yang sama tanpa terkecuali untuk bertobat. Tidak terkecuali pendosa seperti wanita pelacur atau pemungut cukai sekalipun, yang biasanya akan mendapatkan stereotipe negatif dari masyarakat. Asalkan mereka menyesali perbuatan-perbuatan mereka dan memilih untuk kembali kepada Tuhan, hidup sesuai firmanNya dan tentunya percaya kepada Kristus, maka mereka pun mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan bagian di Kerajaan Allah. Justru kepada kita yang berlumur dosa inilah Yesus datang. “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Lukas 5:32). Dia sudah menyerahkan nyawaNya sendiri untuk menebus dosa-dosa kita di atas kayu salib demi kita semua, agar kita bisa diselamatkan. Kesempatan diberikan secara luas kepada siapapun, tapi ingatlah bahwa kesempatan untuk itu tidak akan ada selamanya. “kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:15). Jangan terlena dengan status kita yang dirasa sudah “aman” ketika kita sudah menerima Kristus, lalu terlena dalam status kita dan lalai dalam menjalankan kewajiban-kewajiban kita seperti halnya anak sulung dalam perumpamaan tentang dua orang anak di atas. Hendaklah kita terus menjaga diri kita, menjauhkan diri kita dari memberi stereotip-stereotip seenaknya dan terus berusaha hidup lebih taat lagi dari hari ke hari. Semua orang punya kesempatan yang sama, tidak peduli apapun latar belakang dan dosa-dosa di masa lalu. Kita yang sudah menyandang status sebagai anak sulung pun bisa terpeleset jika kita tidak berhati-hati. Hari ini mari kita semua melembutkan hati dan taat melakukan apa yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan, agar kita semua bisa bersama-sama mendapat bagian dalam KerajaanNya.

Siapapun yang percaya dan melakukan Firman Tuhan akan mendapat tempat dalam Kerajaan Allah

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply