Seminari Mertoyudan pada Kurun Perubahan Pasca Konsili Vatikan II (6)

DI tingkat Gereja Universal, Konsili Vatikan II berlangsung dari tahun 1963-1965. Salah satu pembaharuan yang muncul setelah Konsili Vatikan II dan amat berdampak dalam pendidikan seminari adalah perubahan liturgi dan bahasa pengantar dalam perayaan misa.

Romo A. Soenarja SJ menjabat  Rektor Seminari Mertoyudan dari tahun 1960-1965. Era kepemimpinan Romo Soenarja amat kental diwarnai dengan disiplin klasik dan spiritualitas konvensional. Pasca kepemimpinan Romo Soenarja, Seminari Mertoyudan dipimpin oleh duet Jesuit yang mulai membuat pembaharuan gaya Konsili Vatikan II yakni Pater Carolus Carri SJ dan Romo Tan Soe Ie SJ.

Pater Carri adalah sosok imam yang suka bicara tegas, ceplas-ceplos, sementara Romo Tan SJ tampil sebagai sosok imam yang militan, kreatif, inovatif dan sangat menyukai karya. Kedua sosok imam ini amat mempengaruhi terjadinya perubahan wajah Seminari Mertoyudan saat itu.

Sejak tahun 1957, Seminari Mertoyudan mulai menerima semakin banyak murid tamatan SD. Pendidikan seminari dibagi ke dalam 7 kelas: CP/Candidatus Probatus (kelas I-setara dengan kelas I SMP),  Figura Minor (kelas II),  Figura Maior (kelas III), Gramatica (kelas IV-setara dengan kelas I SMA), Syntaxis (kelas V), Poesis (kelas VI), Rhetorica (kelas VII).

Selain menerima murid dari tamatan SD, Seminari juga menerima murid tamatan SMP dan SMA. Murid tamatan SMP dimasukkan ke dalam BC (By Course) SMP sementara tamatan SMA dimasukkan ke dalam kelas BC SMA. Mereka akhirnya digabungkan dengan murid tamatan SD (yang telah masuk ke dalam CP) setelah mereka sampai ke kelas VII (Rhetorica). Hal ini berlangsung hingga tahun 1968. Setelah tahun 1968, Seminari Mertoyudan tidak lagi menerima murid tamatan SD.

Pada dekade 1970-an, Seminari Mertoyudan mengalami pembenahan tentang jenjang pendidikan yang harus dialami oleh para seminaris. Para staf Seminari, Bapak Uskup: Kardinal Darmoyuwono, dan Provinsial Serikat Jesus membicarakan tentang jenjang/lama pendidikan seminaris di Seminari Mertoyudan antara 4 atau 5 tahun. Semenjak Seminari Mertoyudan hanya menerima seminaris dari lulusan SMP, pendidikan Seminari Mertoyudan dijalani oleh seminaris selama 5 tahun (satu tahun kelas persiapan, tiga tahun pendidikan SMA, dan satu tahun persiapan memasuki Seminari Tinggi atau Novisiat).

Kuliah dulu baru masuk seminari
Masa satu tahun tambahan setelah SMA ini diadakan ketika melihat situasi seminaris yang kebanyakan belum begitu siap untuk masuk ke jenjang pendidikan imamat selanjutnya. Jenjang pendidikan ini disebut dengan Propadeuse.  Pada tahun 1972, muncul perubahan kembali dengan menghapus kelas propadeuse ini dan pendidikan Seminari dilaksanakan selama 4 tahun dengan mengadakan evaluasi hingga tahun 1975. Salah satu wujud pembenahan tersebut adalah sejak tahun 1971, seminaris lulusan SMA bertempat tinggal di Yogyakarta dan mengikuti kuliah di IKIP Sanata Dharma hingga memperoleh gelar sarjana muda.

Pada tahun 1972, seminaris lulusan SMA dikembalikan lagi untuk dididik di Mertoyudan. Namun pada tahun 1974, lulusan SMA yang hendak masuk seminari ini ditampung di Wisma Realino Yogyakarta. Pada tahun 1976 dibangun gedung tambahan untuk lulusan SMA ini dan sejak saat itu, seminaris lulusan SMA disatukan kembali di Mertoyudan.

Pada tahun 1970-1980, pembenahan model pendidikan dan pembinaan tetap berlangsung. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pembicaraan terus-menerus tentang profil lulusan Seminari Mertoyudan. Salah satu pembenahan itu dilakukan dengan mengadakan lokakarya tentang pendidikan Seminari antara Staf Seminari Mertoyudan, lembaga-lembaga yang akan menerima lulusan Seminari dan Lembaga Konsultasi Gerejani pada tanggal 17-21 Desember 1977. Tujuan dari lokakarya ini adalah untuk melalukan survei kekurangan-kekurangan sejauh ada dalam pendidikan dan pengajaran serta mengusulkan tindakan-tindakan perbaikannya.

Akreditasi

Tahun 1981-1987, Seminari Mertoyudan dipimpin oleh Romo M. Soenarwidjaja SJ.  Sebelumnya, Rektor Seminari dijabat Romo Julius Darmaatmadja SJ (kelas menjadi Uskup Agung Semarang dan berikutnya Uskup Agung Jakarta dan mendapat gelar kehormatan sebagai kardinal).  Romo Darmaatmadja SJ menggantikan Romo Th. Helsloot SJ.  Sebelumnya, duduklah Romo Suradibrata SJ sebagai Rektor.

Perkembangan yang terjadi pada kurun masa 1981-1987 antara lain:

  • Seminari Mertoyudan memperoleh akreditasi “disamakan”;
  • Seminari Mertoyudan menambah satu bangunan lagi yakni satu unit perpustakaan pada tanggal yang diresmikan pada tanggal 27 April 1987.

Pengganti Romo M. Soenarwidjaja SJ adalah Romo  JB. Sugiyarto, SJ (1988-1991), Seminari Mertoyudan menerbitkan Pedoman Pembinaan Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan yang masih diberlakukan secara ad experimentum hingga 2004. Pedoman Pembinaan Seminari Menengah ini diterbitkan untuk mendukung berkembangnya pola pembinaan dan pengajaran bagi para seminaris. Pada tahun-tahun ini, jenjang pendidikan Seminari pun mengikuti jenjang pendidikan SMA pada umumnya.

Romo JB. Sugiyarto SJ menyerahkan estafet kepemimpinan Seminari Mertoyudan kepada Romo Y. Maryana  SJ (1991-1997). Dinamika formatio masih berlanjut dan semakin menampakan perubahan-perubahan yang cukup berarti berkaitan dengan visi misi pendidikan seminari. Pedoman pembinaan seminari yang muncul pada tahun 1988 tetap dilanjutkan sebagai garis besar pembinaan.

Pada tahun 1994, model kurikulum pendidikan sekolah umum berubah menggunakan sistem caturwulan. Romo Y. Maryana SJ digantikan oleh Romo I. Warnabinarja  SJ (1997-2000).

Hanya sampai kelas dua

Pada tahun-tahun kepemimpinan Romo Warnabinarja, SJ, situasi bangsa Indonesia mengalami krisis moneter yang memunculkan Orde Reformasi pada tahun 1998. Selanjutnya, kepemimpinan Seminari Mertoyudan dipercayakan kepada Romo FX. Adisusanto SJ (2000-2005). Pada kepemimpinan Romo FX. Adisusanto SJ, mulai digulirkan fokus pembinaan pertahun yang diungkapkan oleh Romo Rektor dalam Lectio Brevis di awal tahun pelajaran.

Selain itu, pada tahun 2000, Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo, dalam kunjungannya ke Seminari Mertoyudan menegaskan bahwa Seminari Menengah Mertoyudan adalah pendidikan khusus bagi para pemuda Katolik yang menyatakan diri hendak menjadi imam. Penegasan ini diikuti dengan keputusan staf Seminari Mertoyudan tentang pemutusan panggilan bagi seminaris kelas 2. Dengan kata lain, para seminaris yang akhirnya memutuskan tidak melanjutkan ke arah imamat hanya diperkenankan mengikuti pendidikan seminari hingga kelas 2 saja.

Pada masa kepemimpinan Romo FX. Adisusanto SJ, tepatnya pada akhir Juni 2004, Pedoman Pembinaan Seminari Menengah Mertoyudan yang dimunculkan pada tahun 1988 pun mulai disahkan sebagai Pedoman Pembinaan yang baku bagi para seminaris Seminari Mertoyudan dengan memperhatikan Pedoman Pembinaan Calon Imam di Indonesia Bagian Seminari Menengah dari Komisi Seminari Konferensi Wali Gereja Indonesia yang terbit pada tahun 2001, Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang, dan Anggaran Dasar Seminari Menengah St. Petrus Canisius.

Pedoman Pembinaan Seminari Menengah St. Petrus Canisius ini diberlakukan mulai tahun pelajaran 2004/2005 hingga ada perubahan atau revisi kembali. Mulai tahun pelajaran 2004/2005 ini juga, kurikulum pendidikan umum berubah dari sistem caturwulan ke sistem semester.

Sejak tahun 2005, Seminari Menengah Mertoyudan dipimpin oleh Romo A. Gustawan SJ (2005-2011). Pembenahan-pembenahan terus dilakukan demi menunjang perkembangan pembinaan calon imam yang semakin kontekstual dengan situasi bangsa dan Gereja Lokal. Pembenahan-pembenahan itu terjadi seiring dengan munculnya pertemuan-pertemuan pembina seminari per-regio yang diselenggarakan oleh Komisi Seminari Konferensi Wali Gereja Indonesia. Pada masa kepemimpinan Romo Antonius Gustawan, SJ, Seminari Mertoyudan menambah dua bangunan baru: Kapel Medan Pratama (Kapel Maria) yang dibangun pada tahun 2007 dan Rumah Musik  yang dibangun pada tahun 2008.

Mulai tahun 2011 sampai sekarang Seminari Mertoyudan berada di bawah pimpinan Romo I. Sumarya SJ.  (Bersambung)

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply