Seminari Menengah St. Petrus Canisius kembali ke Mertoyudan (5)

SEJAK tahun 1952, pendidikan calon imam di Seminari Mertoyudan mulai kembali berbenah. Kondisi negara Indonesia yang baru saja merdeka juga mulai berangsur-angsur membaik. Pasca Seminari Diaspora dan Perang Revolusi Kemerdekaan, Seminari Mertoyudan dipimpin oleh Pater van der Putten SJ hingga tahun1959.

Salah satu langkah penting yang dilakukan oleh Pater van der Putten SJ adalah memperjuangkan agar seminari mendapatkan pengakuan/ijazah dari Pemerintah Indonesia sebagai Sekolah/Kursus Pendidikan Agama.

Sejak tahun 1953 Seminari Jakarta digabung dengan Seminari Mertoyudan. Setahun kemudian dibangunlah gedung baru untuk kelas VI dan VII.

Pada tahun 1955, masuk pula seminaris dari Purwokerto, dan setahun setelahnya muncul juga seminaris dari Bali. Oleh karena pertambahan jumlah seminaris, Seminari Mertoyudan membangun kembali gedung tambahan pada tahun 1957.

Tahun 1948-1958 merupakan masa pembangunan kembali Seminari Mertoyudan.

Pada tahun-tahun itu dimulai kembali pembangunan gedung, pengadaan alat-alat sekolah, buku-buku, perpustakaan, orkes, sarana olahraga, tonil (teater), akademi (Sidang Akademi), dll. Pada tahun-tahun itu muncul pula suatu acara baru yang disebut sebagai “ Ratrining Bapak-Ibu” yang diadakan setiap tahun untuk mempererat hubungan seminari dengan keluarga-keluarga tempat lahirnya panggilan-panggilan imamat.

Selain itu, mulai dibangun pula kandang ayam, sapi dan babi untuk memenuhi kebutuhan seminari. Pada tahun 1959, Seminari Mertoyudan untuk pertama kalinya mengikuti Ujian Penghabisan SMA (Ujian Akhir Nasional) dengan hasil lulus sebesar 100%.

Pada tahun 1960, Seminari Mertoyudan mulai dipimpin oleh seorang rektor pribumi, Romo A. Soenarja, SJ.

Pada tahun 1960-an, terjadi peristiwa-peristiwa besar yang turut mewarnai perjalanan Seminari Menengah Mertoyudan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Di tingkat nasional,  pada tanggal 9-16 Mei 1960 Konferensi Wali Gereja bersidang di Girisonta  yang membicarakan tentang Hirarki Gereja Indonesia.

Konferensi Wali Gereja mengirimkan surat permohonan kepada Bapa Paus Yohanes XXIII agar mendirikan Hirarki Gereja Indonesia. Permohonan ini ditanggapi dengan baik oleh Bapa Paus yang akhirnya mendirikan Hirarki Gereja Indonesia melalui dekrit Quod Christus pada tanggal 3 Januari 1961. Dengan berdirinya Hirarki Gereja Indonesia, istilah Vikariat dan Perfektur Apostolik diganti dengan Keuskupan Agung dan Keuskupan.

Sejak tahun 1961, Vikariat Apostolik Semarang menjadi Keuskupan Agung Semarang.

Selain peristiwa berdirinya Hirarki Gereja Indonesia, pada tahun-tahun ini juga terjadi peristiwa GANEFO alias Games of the New Emerging Force . Ini  adalah suatu ajang olah raga tandingan olimpiade ciptaan Presiden Indonesi Soekarno pada akhir tahun 1962. Soekarno menyatakan bahwa olahraga tidak bisa dipisahkan dari politik. Melihat adanya GANEFO di Jakarta, Romo Soenarja, SJ (rektor waktu itu) menciptakan GENESE di seminari: “Games of The New Emerging Seminarists”.

Demikian pula juga ada tragedy berdarah G30S/PKI, perubahan pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru, perubahan kurikulum dari gaya baru menjadi gaya baru yang diperbarui; serta perubahan kalender akademis.  (Bersambung)

Photo credit: Buku Kenangan 100 Tahun Seminari Mertoyudan

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: