Sembuh dari Ebola, Pooly Kembali Lagi ke Afrika Barat Merawat Pasien Ebola

pooleyPENYEBARAN Ebola di luar kendali. Pooley, perawat yang selamat pun lalu berkisah: “Bahagia rasanya masih hidup, sedikitnya yang dapat kulakukan adalah kembali ke Afrika”. Inilah kisah perawat berusia 29 tahun asal Inggris: kondisi darurat dihadapi dengan tangan kosong, penemuan atas penyakit, kecemasan, lalu kesembuhan. Sekarang keputusan untuk memulai kembali. Ebola terus menyebar di seluruh negara […]

pooley

PENYEBARAN Ebola di luar kendali. Pooley, perawat yang selamat pun lalu berkisah: “Bahagia rasanya masih hidup, sedikitnya yang dapat kulakukan adalah kembali ke Afrika”.

Inilah kisah perawat berusia 29 tahun asal Inggris: kondisi darurat dihadapi dengan tangan kosong, penemuan atas penyakit, kecemasan, lalu kesembuhan. Sekarang keputusan untuk memulai kembali.

Ebola terus menyebar di seluruh negara di Afrika Barat. Yang mati akibat serangan virus ini mencapai lebih dari 2.300 jiwa dari total lebih dari 4.000 keseluruhan orang-orang yang terjangkit. Otoritas di Sierra Lione dan Liberia telah memutuskan melakukan karantina terhadap seluruh warga sejak tanggal 18-21 September.

Sembari menggambarkan detilnya, William Pooley menyatakan hendak kembali ke Afrika Barat. Ia adalah perawat Inggis yang terjangkit Ebola di Sierra Lione, namun berhasil keluar dari negara itu akhir bulan Agustus berkat evakuasi dan berkat perawatan di Royal Free Hospital di London.

Diwawancarai oleh The Guardian, ia mengatakan bahwa masih banyak yang harus dikerjakan di wilayah-wilayah itu dan ia yang merasa beruntung ingin turun tangan membantu. “Mengetahui bahwa aku bisa pulang dan tidak dirawat di Afrika memberikan kepadaku banyak harapan”, katanya dalam konferensi pers setelah kesembuhan dirinya.

Menyaksikan “pesawat yang sedang menungguku dan tim Inggris adalah hal yang sangat menakjubkan, melegakan,” tambahnya.

Pooley mengingat bahwa ketika ia harus “menjelaskan kepada ibu dan ayah bahwa aku telah tertular Ebola. Itu sungguh mengerikan”. Sebagai pasien, ia tahu apa yang sudah menantinya: Ebola mampu memberikan kepada manusia sebuah “kematian yang mengerikan”, sehingga baginya “kecemasan akan gejala-gejala penyakit itu mungkin lebih besar daripada kematian”.

Tapi meskipun sukacita dalam keberhasilan dari perawatan dan untuk kemenangan atas penyakit itu, tatapan Pooley dirudung kesedihan ketika kenangan-kenangan kembali pada hari-hari ia berjalan di Sierra Lione: “Bagiku,” katanya, “adalah hal yang istimewa menatap mata dari yang menderita.”

Untuk itulah perawat ini mengumumkan “ingin melakukan sesuatu,” dan untuk “lebih bertekad untuk kembali ke sana.”

Ia mendesak pemerintahan PM Cameron dan Presiden Obama untuk “menunjukkan sedikit kepemimpinan” dan jangan membuang-buang waktu.

Ia minta Sierra Lione bersedia menerima kedatangan dari “banyak pekerja medis internasional.”

Ia menyatakan punya “banyak ide” untuk membantu membendung kondisi yang darurat itu. Tapi terlebih lagi ia siap untuk berangkat sendiri ke Afrika. Menyatakan rasa syukur yang mendalam atas dukungan yang telah diterima dari London dan dari seluruh dunia, Pooley merasa “bahagia masih hidup”.

“Sedikitnya yang bisa kulakukan adalah kembali dan membalas budi,” terangnya.

Kredit foto: Courtesy of Michael Duff/The Guardian

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply