Semanis Madu

Ayat bacaan: Yehezkiel 3:3
====================
“Lalu firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu.” Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.”

makan gulungan kitab, yehezkiel, manis seperti madu


Makanan apa yang tidak bisa basi? Jawabannya adalah madu. Madu yang asli, yang belum diencerkan dan dicampur apa-apa akan tahan disimpan dalam jangka waktu tidak terbatas di lemari biasa. Madu adalah pemanis yang sangat baik dan lebih manis daripada gula pasir dan tidak mengandung kolesterol. Kandungan fruktosa madu lebih manis 25% dibanding gula pasir. Kalau bicara gizi, madu termasuk komplit. Untuk kesehatan, kesegaran, mengembalikan stamina hingga kecantikan, madu terbukti punya khasiat buat itu semua. Rasanya pun nikmat dan disukai hampir semua orang. Dengan berbagai keunggulan ini, tidak heran kalau madu harganya tergolong mahal.

Yehezkiel diutus Tuhan untuk menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa yang keras hati dan kepala batu. Ini bukan tugas gampang! Saking sulitnya tugas ini, Tuhan merasa perlu menyuruh Yehezkiel untuk memakan gulungan kitab suci! Kenapa harus sampai seperti itu? Karena ini pekerjaan yang teramat sangat sulit. Tuhan berkata adalah jauh lebih mudah menyampaikan firman kepada bangsa-bangsa yang berbahasa asing dan berat lidah (dalam bahasa inggrisnya disebut “hard language”, bahasa yang sulit untuk dipelajari) ketimbang menyampaikan pada bangsa sendiri, bangsa Israel. (Yehezkiel 3:5-7). Saya rasa tidak ada orang yang mau disuruh makan gulungan kitab, tapi Yehezkiel menurutinya. Apa rasanya? Menurut Yehezkiel, rasanya manis seperti madu. Walaupun yang akan disampaikan Yehezkiel bagi bangsa Israel adalah penghukuman Allah bagi bangsa yang bebal, tapi yang dirasakan Yehezkiel adalah manis seperti madu.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah Yehezkiel bukanlah kita harus ikut makan alkitab. Yang bisa kita ambil adalah kerajinan kita “mencerna” alkitab setiap hari. Menyegarkan rohani kita yang lelah lewat firman Tuhan. Seperti madu, firman Tuhan pun tidak akan pernah basi, dan manis rasanya bagi hidup kita. Banyak orang tidak merasa penting untuk menghafal ayat-ayat di alkitab, padahal jika kita rajin membaca dan menghafal beberapa ayat, setidaknya ada yang terbangun dan tumbuh dalam hidup kita. Memang kita tidak harus menghafal seluruh isi alkitab, dan bukan soal kehebatan menghafalnya yang penting, tapi fokuslah pada kebutuhan akan ayat-ayat yang menjadi berkat dalam hidup kita, yang dapat mengingatkan kita akan kasih Tuhan yang hidup di dalam diri kita. Untuk hidup kita bukan hanya butuh makan makanan jasmani, tapi juga makanan rohani, rhema alias perkataan-perkataan Tuhan, seperti yang dikatakan Yesus yang tertulis pada injil Matius. “Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4). Pikiran kita harus selalu penuh dengan kebenaran firman Tuhan, agar apa yang kita pikirkan,katakan dan lakukan pun adalah hal-hal yang tidak jauh dari firman Tuhan pula. Rajin membaca alkitab setiap hari akan membuat diri kita penuh “madu” Tuhan yang menyegarkan, menyehatkan dan membuat hidup kita lebih manis dari sebelumnya. So, don’t try to eat the bible literally, but do eat the words and keep it in your heart and mind.

Seperti madu yang penuh khasiat dan manis rasanya, demikianlah firman Tuhan berperan dalam hidup kita

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment