Semangat ‘Martir’ Pastor John Prior SVD, Kisah Tahun 1970an

prior2MUNGKIN tidak banyak orang tahu, perjalanan panjang yang pernah ditempuh pastor misionaris John Prior SVD ke Indonesia sungguh menarik didengar dan disimak. Adalah Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo Pr yang membuka ‘kisah lama’ ini, lantaran semangat ‘martir’ seorang misionaris sejati. Pastor John Prior SVD, kata Mgr. Ignatius Suharyo, adalah rohaniwan anggota Kongregasi Serikat Sabda […]

prior2

MUNGKIN tidak banyak orang tahu, perjalanan panjang yang pernah ditempuh pastor misionaris John Prior SVD ke Indonesia sungguh menarik didengar dan disimak. Adalah Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo Pr yang membuka ‘kisah lama’ ini, lantaran semangat ‘martir’ seorang misionaris sejati.

Pastor John Prior SVD, kata Mgr. Ignatius Suharyo, adalah rohaniwan anggota Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD). Ia lahir, besar di Inggris dan ahli sosilogi serta menulis banyak buku.

Demikian awal cerita Mgr. Suharyo dalam homilinya yang singkat,  tentang kisah menarik Pastor John Prior SVD. Kisah itu dimulai dari Inggris. Persisnya dari London di era tahun 1970-an.

Maraton tanpa henti
Penerbangan marathon pertama ditempuh Pastor John Prior langsung dari London (Inggris) menuju Jakarta. “Waktu tahun 1970-an baru ada pesawat Boeing 747 yang bisa membawa ratusan orang penumpang. Pastor John mendarat selamat di Jakarta,” tutur Mgr. Suharyo mengawali kotbahnya dalam misa bersama lingkaran sahabat (PalingSah) di kawasan Bintaro, Tangsel, Sabtu 27 September 2014.  Baca juga: Sungguh, Masihkah Tuhan Membutuhkan Gereja Katolik?

Karena tujuan terakhirnya adalah Flores di NTT, maka Pastor John Prior SVD lalu meneruskan perjalanan terbangnya dengan pesawat local Indonesia. Dari jumbo jet Boeing 747 beralih ke pesawat kecil jenis Fokker F-28. “Waktu itu baru ada F-28,” tutur Mgr. Suharyo menirukan sharing Pastor John Prior SVD dalam sebuah kesempatan berkotbah.

priorj 1

Pastor John Prior SVD: Misionaris anggota Serikat Sabda Allah (SVD) dari Inggris dan kini bekerja di Flores, NTT. (Ist)

Pastor ahli sosiologi dari Inggris ini pun berhasil mendarat mulus di Bandara Ngurah Rai, Denpasar.

Berikutnya adalah terbang dari Bali menuju Maumere, satu-satunya bandara yang telah eksis di NTT pada era tahun 1970-an. “Pastor John lalu terbang menaiiki ‘adiknya’ Fokker 28, yakni F-27 dengan baling-baling. Bisa dibayangkan, pada waktu itu kondisi pesawatnya seperti apa,” kata Mgr. Suharyo.

Nah, Pastor SVD ini pun berhasil mendarat mulus di Bandara Maumere.

Perjalanan ternyata masih jauh di depan. Bersama penduduk local, maka Pastor John Prior pun harus rela naik ‘bus kayu’.

“Dalam kosa kata orang Flores waktu itu, yang dimaksudkan ‘bus kayu’ tak lain adalah truk terbuka dimana tempat duduknya berhadap-hadapan dengan papan kayu. Tanpa alas lebih empuk,” tutur Mgr. Suharyo menirukan kisah Pastor John Prior menjadi misionaris beneran di tanah Flores.

Memanggul koper
Perjalanan dari Maumere menuju kota dimana nanti pastor misionaris ini akan ditempatkan ternyata makan waktu berjam-jam. Setelah tiba di kota kecamatan, masih harus jalan kaki melewati alur jalan setapak di perbukitan.

“Jadi, ceritanya Pastor John yang baru saja datang dari Inggris langsung dari London-Jakarta-Bali-Maumere kali ini harus rela memanggul kopernya sendiri, berjalan mengikuti alur jalan pedesaan di kawasan perbukitan. Beliau terbang marathon dan kini setelah naik ‘busk kayu’ berjam-jam masih harus memanggul kopernya menuju sebuah paroki desa,” papar Mgr. Suharyo.

uskup suharyo

Misa bersama kelompok paguyuban lingkaran sahabat Mgr. Ignatius Suharyo (PalingSah): Peringatan HUT kelahiran ke-5 PalingSah berlangsung di rumah keluarga anggota PalingSah Kaduhu di bilangan Bintaro, Tangsel. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Kisah itu menarik karena ingin menggambarkan betapa harus militant-nya seorang misionaris yang bekerja tanpa kenal lelah dan tak mau berfokus pada balas jasa. Misionaris bekerja demi Tuhan dan Gereja, bukan demi popularitasnya sendiri.

PalingSah, demikian kata Mgr. Suharyo, juga harus menjadi ‘misionaris’ sejati yakni berjuang melaksanakan semangat berbelarasa dengan sekitarnya.

Photo credit: Pastor John Prior SVD (Courtesy Soverdi Surabaya)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply