Semangat Dominikus ditanamkan sejak taman kanak-kanak di Larantuka

TK


Rasa prihatin terhadap anak-anak usia dini atau yang berusia 4 hingga 6 tahun yang belum diperhatikan di desa, telah menggugah Theodorus Tegalusi Kelen, seorang tokoh masyarakat yang juga pensiunan guru dan pernah menjadi kepala sebuah SD, untuk mendirikan taman kanak-kanak di desa Riangpuho, paroki paling ujung Timur, tepatnya di kepala burung atau Tanjung Bunga, Keuskupan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, tanggal 8 Agustus 1988.


Hampir 10 tahun kemudian, tepatnya tahun 1997, ketika para suster Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia masuk ke Keuskupan Larantuka (1997) dan diberi kepercayaan oleh Uskup Larantuka untuk berpastoral di Kecamatan Tanjung Bunga, tepatnya di Paroki Waiklibang, TK yang bernama Fernandez itu diserahkan oleh paroki kepada para suster OP untuk dikelola.


Suster M Marcelina OP (alm) yang pertama datang ke sana lalu menerima sekolah itu dan mengganti namanya menjadi TK Santo Dominikus, sesuai nama pendiri Ordo Pewarta yakni Santo Dominikus, dan menjalankannya dengan kekhasan Dominikan. Kini TK itu dipimpin oleh awam, yakni Elisabeth Naru Nitit.


Sesuai visi untuk menciptakan “anak Flores Timur yang sehat, cerdas, aktif dan kreatif dalam memajukan Gereja, Bangsa dan Negara serta Budaya Lamaholot,” maka TK itu berupaya menemani anak-anak untuk memiliki dasar iman dan takwa, untuk menjadi anak pembelajar dan berbelarasa, bersih dan sehat, dan melakukan kegiatan yang mendukung kreativitas anak serta menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran.


Dalam pembicaraan dengan PEN@ Katolik, Pengelola TK Santo Dominikus, Suster Reny OP, menegaskan bahwa TK itu menerapkan Kurikulum Berbasis Dominikan. “Artinya, kegiatan-kegiatan belajar mengajar dalam TK itu kami kaitkan dengan semangat Santo Dominikus, sehingga anak-anak di TK ini menerapkan semangat Santo Dominikus dalam hidupnya,” jelas suster itu.


Menurut suster itu, mungkin terlalu tinggi memakai istilah Kurikulum Berbasis Dominikan, “Tapi yang saya maksud adalah dalam kegiatan harian ‘Bermain Sambil Belajar’ anak-anak itu kami terapkan enam Semangat Santo Dominikus yaitu semangat doa, belajar atau studi, bela rasa, mulai dari apa yang ada, demokrasi, dan persaudaraan serta kegembiraan.”


Tapi kurikulum yang sesungguhnya diterapkan adalah Kurikulum 2013 sesuai program pemerintah, “yang memang unggul karena menggunakan sistem pembelajaran saintifik yakni mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengkomunikasikan, dan cocok untuk kalangan kami di desa,” karena dengan kurikulum itu, Suster Reny OP melihat anak-anaknya “lebih kreatif, inisiatif, dan mandiri.”


Untuk menumbuhkembangkan peserta didik, menurut Suster Reny, anak-anak diikutsertakan secara aktif dalam program tahunan, antara lain, Hari Dominikus, Hari Proklamasi dan hari nasional lain, hari raya keagamaan (Natal, Paskah dan Idul Fitri), serta kegiatan satu hari bersama para suster dan ibu guru di sekolah. “Dengan program-program itu, peserta didik lebih gembira, senang ke sekolah, dan semakin mandiri sesuai usia mereka.”


Suster Reny mengaku semua program dilaksanakan sesuai jadwal, namun keterbatasan dana masih menjadi kendala. “Tapi apa boleh buat, jalan saja, asal anak-anak senang dan sukacita dalam Tuhan,” tegas suster.


Yang penting, menurut Suster Reny OP, sejak usia dini anak-anak TK itu sudah diperkenalkan dengan tradisi-tradisi Gereja dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan Gereja seperti Jalan Salib, Program APP, dan kegiatan SEKAMI, “bahkan dibiasakan dengan doa, enam Semangat Dominikus, 5 S (senyum, Sapa, Salam Sopan, Santun).” Anak-anak diminta mengucapkannya setiap hari dan menjalankannya.


Hal lain yang dibiasakan adalah menabung lewat celengan hingga tabungan di bank, demo masak ubi dan pisang kukus, menanam jagung, membersihkan dan panen, serta membuat anak-anak sangat mandiri dengan mewajibkan mereka datang dan pergi ke TK tanpa diantar orangtua atau wali.(aop/pcp)


TK 2TK 4TK 5TK 3

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: