Selasa, 19 Agustus 2014: Lebih Mudah Seekor Unta Masuk ke Lobang Jarum, Mat 19:23-30

giraffe

TUHAN Yesus bersabda:” Aku berkata kepadamu, sungguh sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk kedalam Kerajaan Surga. Sekali lagi aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor untuk masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk kedalam Kerajaan Surga.”

Tidak mudah untuk memahami seekor unta bisa masuk ke lubang jarum. Dengan sengaja Yesus mengajak para pendengarnya untuk berfikir. Jarum yang biasa adalah jarum yang digunakan oleh ibu-ibu untuk menjahit, sedangkan Jarum yang lain adalah nama pintu gerbang Bait Allah di Yerusalem, yang bukan pintu utama.

Pintunya itu agak kecil. Kalau ada peziarah yang masuk dengan membawa unta, barang-barang muatannya harus dibongkar dulu, sehingga badan unta juga bisa masuk. Tuhan Yesus menggunakan kiasan ini untuk mengatakan bahwa orang kaya itu sulit untuk masuk kedalam Kerajaan Sorga, seperti kalau unta harus masuk lubang jarum, karena harta yang dibawanya lebih banyak dari barang yang dibebankan pada onta. Itu artinya bahwa orang kaya itu tidak mudah untuk masuk ke dalam kerajaan surga kalau kekayaannya tidak dilepaskan.

Mengapa? Karena harta kekayaan yang dimiliki itu kadang menjadi Tuhan sendiri dalam hidupnya, yang selalu dicari, yang didambakan, yang dipuji-puji dan dipandang sebagai andalan kebahagiaannya.

Sekarang ini di masyarakat kita ada orang yang menggunakan kekayaannya yang berlimpah-limpah untuk membeli kekuasaan. Bahkan orang kuasa itu lalu dapat bertindak semena-mena terhadap sesamanya, karena merasa tidak ada yang bisa mengalahkan. Orang dapat menginjak-injak keadilan dengan membayar.

Tetapi kita semua tahu bahwa kekayaan bukanlah Tuhan, kekuasaan manusia juga bukan Tuhan. Dua-duanya dapat binasa. Maka kuasa dan kekayaan tidak bisa diharapan sebagai jaminan kebahagiaan. Sebaliknya orang yang berani meninggalkan segala-galanya, termasuk keluarga dan sanak saudaranya, karena orang itu memilih Tuhan sendiri sebagai kekayaannya, karena yakin bahwa ia akan memperoleh hidup yang kekal.

Orang yang meninggalkan kekayaannnya bukan berarti menganggap bahwa kekayaan tidak artinya, tetapi kekayaan dibuat untuk membahagiakan orang lain. Orang itu berani berbagi dan menolong sesamanya yang membutuhkan.

Berbagi milik kepunyaannya untuk orang lain merupakan ungkapan iman dan kepercyaan kepada Tuhan yang telah memberikan hidup ini.

Kredit foto: Kawanan jerapah (Courtesy of Serengeti Book)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: