BERIKUT ini adalah profil sekilas tentang data Keuskupan Weetebula, Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT):

Alamat:
Jl. El Tari-Weetebula/Radamata,
Kabupaten Sumba Barat Daya 87254
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)
Telp: +62 387-24061
Fax: +62 387-24062

Statistik
Denominasi Gereja: Katolik
Jumlah wilayah pelayanan: empat (Sumba Barat, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya)
Jumlah paroki /stasi: 24 paroki
Jumlah anggota jemaat: 143.122 orang
Jumlah anggota hidup bakti/religius: 90 imam, 11 bruder, 75 suster dari berbagai kongregasi religius

Badan pengurus
Pimpinan: Bapak Uskup Diosis Weetebula Mgr. Edmund Woga, CSsR
Sekretaris: Fr. Paskalis Loys
Ekonom: Pastor Julius Kuway, SVD

Gereja Katolik Waingapu Sumba

Gereja Katolik Paroki Sang Penebus Waingapu, Keuskupan Weetebula, Pulau Sumba, NTT (Ilustrasi/Ist)

Tentang Gereja di Pulau Sumba
Luas teritori daratan mencakup kawasan seluas 11.050 kilometer persegi.
Wilayah administratif gerejani menncakup empat kabupaten yaitu Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat, dan Kabupaten Sumba Barat Daya.

Populasi
Umat katolik di Keuskupan Weetebula di Pulau Sumba mayoritas terdiri dari masyarakat katolik etnik Flores dan sebagian lainnya Jawa.
Pada tahun 2008, Keuskupan Weetebula – yang melayani empat kabupaten: Sumba Barat, Sumba Timur, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya – memiliki jumlah penduduk 644.164. Dari jumlah penduduk ini, Umat Katolik terdiri atas 22,2 persen atau 143.122 orang, Muslim 4,13 persen atau 263.608 orang, Protestan 60,8 persen atau 391.739 orang, Hindu 0,12 persen atau 742 orang, dan penganut Marapu (kepercayaan tradisional) 12,73 persen atau 81, 953 orang.

Keuskupan Weetebula mengelola sebanyak 24 paroki.

Sejarah Gereja lokal
Kristianitas di Pulau Sumba pertama kali diperkenalkan oleh para imam misionaris Jesuit pada tanggal 21 April 1889. Sejak mendarat pertama kali di Pulau Sumba, dua imam Yesuit dan seorang bruder Yesuit bekerja dan menetap di Sumba.

Namun pada tahun 1898 di misi katolik di Pulau Sumba ditutup dan para misionaris Yesuit ditarik kembali harus pulang ke Jawa.

Imam-imam misionaris Sabda Allah (SVD) kemudian datang ke Sumba pada tahun 1929. Tiga belas imam SVD dan bruder SVD mulai bekerja di Pulau Sumba selama kurun waktu tahun 1929-1957.

Gereja Katolik Sang Penebus Waingapu Sumba (Ist)

Pada tanggal 16 Mei 1957, misi katolik di Pulau Sumba diambil oleh para imam misionaris Redemptoris (CSsr). Para imam SVD kembali ke Pulau Flores. Sejak itu, sejumlah bruder dan suster dari berbagai kongregasi religius mulai datang dan menetap bekerja di Pulau Sumba.

Pada tanggal 20 Oktober 1959, Prefektur Apostolik Weetebula dibentuk dan beberapa lama kemudian lalu statusnya diangkat menjadi diosis/keuskupan pada tanggal 6 Februari 1969.

Pastor dari Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) Gerulfus Kherubim Pareira diangkat menjadi Uskup pertama untuk Diosis Weetebula dan menerima tahbisan episkopal pada tanggal 25 April 1986. Namun dua tahun kemudian, Mgr. G. Kherubim Pareira SVD diangkat menjadi Uskup Diosis Maumere pada tanggal 19 Januari 2008.

Penggantinya Pastor Edmund Woga CSsR dari Kongregasi Redemptoris. Beliau ditunjuk Vatikan pada tanggal 4 April 2009 dan menerima tahbisan episkopal pada tanggal 17 Juli 2009.

Photo credit:

  • Mgr. Edmund Woga CSsr bersama Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira SVD, kini Uskup Diosis Maumere, Flores, NTT. (Dok. Dion Bata)
  • Gereja Paroki Sang Penebus di Waingapu, Keuskupan Weetebula, Pulau Sumba. (Ilustrasi/Ist)

Tautan:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.