Sejarah Iman Umat Katolik Batuputih, Ogan Komering Ulu (OKU)

Untuk Tulisan 3a

MENYUSURI setiap kelok jalan di tepi Sungai Lengkayap ke arah hulu seolah memanjakan mata dengan aliran air sungai dan hijaunya pemandangan. Tak terasa sudah 7 Km berlalu dari Kota Baturaja, ketika sebuah tangga dengan tulisan di dekatnya menyapa penglihatan: Gereja Sang Penebus Batuputih.

Sebuah ikon langsung menuntun pikiran bahwa Batuputih adalah kampung yang penduduk aslinya beragama Katolik. (Baca juga: Bangun Persatuan Antar Umat Paroki Sang Penebus Batuputih, Ogan Komering Ulu di Sumsel)

Menapaki tangga gereja, seperti menapaki metamorfosis perjuangan iman umat Katolik Batuputih. Dari yang awalnya ‘percaya secara kritis’ menjadi ‘Katolik yang mumpuni’. Pada waktu itu, Batuputih ditinggali kurang lebih 750 penduduk asli. Kehidupan masyarakatnya lebih banyak menggantungkan nasib pada hasil hutan seperti karet, kopi, duku dan durian serta bercocok tanam di ladang.

Sebelum mengenal Katolik, semua penduduk Batuputih beragama Islam. Tradisi Islam yang sangat kental mempengaruhi adat istiadat dan kebiasaan masyarakat Batuputih. Penduduk makin kritis dan menikmati ajaran para Kiai yang mereka undang untuk memperdalam ilmu ke-Tuhanan. Hingga suatu saat, mereka penasaran mengapa para Kiai yang mereka undang selalu menghentikan pengajarannya ketika sampai pada Tasawuf.

Berguru pada kiai
Mereka kemudian berusaha mencari Kiai yang berilmu tinggi untuk menjawab rasa penasaran itu. Kiai Mohammad Sa’id dari Sarang Elang (OKI)-lah yang akhirnya memberikan pengajaran melalui pantun dan juga membantu penduduk Batuputih menemukan jawaban dari rasa penasaran mereka. Dalam pengajaran, Kiai Mohammad Sa’id menyampaikan beberapa nubuat: dusun Batuputih akan menjadi Batu Pasih dan akan lebih terkenal dari dusun-dusun lain di sekitarnya.

Kemudian Batuputih akan dipimpin oleh bujang dan gadis yang berpakaian putih. Bujang dan gadis yang dimaksud adalah para pastor, frater dan suster. Di Batuputih akan didirikan gedung yang putih, yang tidak lain adalah gedung gereja. Lalu pada suatu waktu, sang Kiai menunjuk ke sebuah kebun damar sambil berkata, ”Berhati-hatilah kamu, pada suatu waktu Batuputih akan ditimpa dua bahaya besar. Tetapi kamu jangan takut, kamu semua akan selamat dan kelak tanah ini akan menjadi ‘suku selamat’.

Benar, akan terjadi bahaya besar seperti yang dikatakan Sang Kiai. Pada 1947 terjadi pertempuran hebat antara RI melawan Belanda di Batuputih. Pertempuran itu memakan banyak korban jiwa. Sepekan setelahnya terjadi banjir besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam kedua peristiwa besar tersebut, penduduk Batuputih selamat. Kini tanah tersebut menjadi tempat pemakaman umat Katolik dan berdiri sebuah gua Maria.

Kiai Mohammad Sa’id juga mengajarkan bahwa yang mengadili umat manusia pada hari kiamat adalah Nabi Isa Almasih, nabinya orang Kristen. Rasa penasaran semakin besar terutama mengenai pengadilan terakhir. Dalam situasi seperti itu, kaum tua-tua kembali berkumpul dan bermusyawarah untuk mencari jalan keluar.

Untuk Tulisan 3b

Ibu-ibu umat Paroki Batuputih di Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan. Mereka sibuk namun senang hati menyiapkan makan-minum untuk para tamu menjelang dilakukannya peresmian gedung pastoran dan balai Paroki Sang Penebus Batuputih. (Dok. Komsos Keuskupan Agung Palembang)

Yang tertua
Untuk mencari solusi, sejumlah tokoh masyarakat seperti Abdul Hulik, Damseh, Idrus Alwie dan Alisuni yang kemudian disebut ‘Tokoh Gereja Perdana’ mengambil keputusan untuk meminta petunjuk kepada Tuan Luyks, Residen yang berkedudukan di Baturaja. Ia seorang Belanda beragama Protestan. Ia menawarkan agama Kristen seraya bertanya, ”Kamu mau Kristen yang mana?”

Dalam ketidaktahuan, mereka menjawab “Kristen yang tertua.”

Tuan Luyks lalu menghubungi imam Katolik di Palembang. Kemudian pada 16 Maret 1948 sekitar pukul 08.00, tibalah seorang imam katolik di Batuputih. Ia adalah Pastor Theodorus Borst SCJ. Kedatangan sang pastor yang dikawal tentara Belanda disambut gembira oleh penduduk Batuputih.

Pertemuan lalu diadakan. Bertempat di depan rumah Abdul Hulik, pertemuan berlangsung. Dalam pertemuan sang pastor bertanya, ”Siapa di antara kamu yang menghendaki agama tertua?”

Dengan mengacungkan jari serempak mereka menjawab, ”Kami inilah.”

Sambil tersenyum, sang pastor memberikan beberapa penjelasan mengenai permasalahan mereka.

Waktu itu tercatat sekitar 80 orang laki-laki dan perempuan mengikuti pertemuan. Lalu pastor mengajak mereka berdoa. Untuk pertama kalinya, doa Bapa Kami terucap oleh penduduk Batuputih. Pastor mengucapkan kata demi kata secara perlahan kemudian penduduk mengikutinya sampai selesai. Setelah berdoa, pastor membagikan sikapulir (medali suci). Di akhir pertemuan pastor menyarankan supaya mereka segera mengirim utusan untuk menemui Bapa Uskup di Talang Jawa, Palembang, Sumatera Selatan.

Pada 18 Maret 1948, berangkatlah tiga orang utusan di antaranya Abdul Hulik, Damseh dan Alwie ke Palembang dan menemui Mgr. Mekkelholt SCJ.

Uskup lalu bertanya, ”Apa sebab kamu mau agama Katolik? Dan saudara tahu dari mana? Atau mungkin kamu sesat?”

Mereka menjawab, ”Ini adalah kemauan kami sendiri. Kami telah mendapat pengajian dari Kiai Sarang Elang.”

Mendengar jawaban itu, Bapa Uskup ingin bertemu dengan Kiai tersebut.

Untuk Tulisan 3a

Batu jejak merupakan penanda fisik atas sejarah iman yang berlangsung panjang di Batuputih, OKU. Salib biru inilah pertanda dimana di sini telah dimakamkan para perintis berdirinya komunitas umat katolik Sang Penebus Batuputih di OKU. (Dok. Komsos Keuskupan Agung Palembang)

Ketiga utusan lalu menjemput sang Kiai. Bapa Uskup kemudian berdialog dengan Kiai Mohammad Sa’id. Selama dua pecan, ketiga utusan belajar tentang agama Katolik. Setelah Paska tahun 1948, mereka kembali ke Batuputih untuk mengajar agama Katolik. Walau bekal pengetahuan masih sangat minim, mereka memiliki kemauan dan semangat untuk maju. Mereka mengajarkan doa-doa harian dan bertanya jawab tentang pokok-pokok ajaran Katolik dari buku Katekismus kepada penduduk yang masih buta huruf.

Kemudian tak lama setelah itu, Pastor Th. Borst SCJ datang dan menetap di Baturaja sebagai pengasuh anak yatim piatu. Pastor Th. Borst sering berkunjung ke Batuputih. Bersama ‘Tokoh Gereja Perdana’ pastor mengunjungi keluarga calon baptis. Pastor juga tertarik dengan pemberantasan buta huruf (PBH) yang saat itu dipelopori oleh Abdul Hulik.

Merintis jejak

Pertengahan 1948, datang Yakob Tambuwan, seorang guru asal Manado. Bukan hanya menjadi guru tetapi juga menjadi katekis. Secara gotong royong penduduk Batuputih mendirikan sekolah. Sejak saat itu juga setiap pekan dirayakan misa. Bidang kesehatan juga mendapat perhatian.

Waktu terus berlalu, berbagai karya pelayanan terus bertambah dan semakin mengalami kemajuan. Pada 31 Oktober 1948 terjadi peristiwa bersejarah bagi perkembangan Gereja Katolik di Batuputih. 24 orang Ogan dari 5 keluarga dipermandikan oleh Pastor Th. Borst SCJ.

Sebelumnya memang terjadi baptisan tetapi baptisan tersebut untuk orangtua yang sakit dan bayi yang baru lahir. Maka 31 Oktober 1948 dimaknai sebagai lahirnya Gereja Katolik di tanah Ogan. Kini tanggal tersebut dirayakan sebagai hari ulang tahun Paroki Sang Penebus Batuputih. (Baca juga: Pemberkatan Balai dan Pastoran Batuputih, Ogan Komering Ulu, Sumsel)

Menjadi Katolik berarti berserah diri untuk mengasihi semua orang, tetapi belum tentu dikasihi oleh semua orang. Perselisihan dengan umat non-Katolik juga perpecahan dalam keluarga terjadi seperti tanur api. Orang mencaci maki dan mengejek umat Katolik. Ucapan sinis terdengar. Seperti ‘orang Kristen kafir, orang Kristen beragama Belanda’. Pastor dikatakan hantu siang. Namun umat Katolik tidak mempedulikannya.

Dalam situasi demikian, datanglah Pastor Leo Kwanten SCJ yang belum fasih berbahasa Indonesia. Usaha untuk meningkatkan mutu kehidupan umat Katolik terus berlanjut. Perkembangan yang pesat menyebabkan tanur api semakin membara. Kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal. Kejadian yang menimpa Pastor Leo Kwanten SCJ pada 1957 misalnya. Karena disuruh minum susu oleh sang pastor, si anak menangis dan mengadu kepada orangtuanya.

Orangtua si anak naik pitam. Bersama anggota keluarga lainnya mereka mendatangi pastoran. Mereka tidak lagi mendengar penjelasan sang pastor. Mereka menganiaya Pastor Leo. Enam tusukan bersarang ditubuh sang pastor. Umat Katolik sangat marah dan mereka ingin membalas dendam. Mgr. Mekkelholt menyurutkan kemarahan umat dan menasihati umat, agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Pengorbanan Pastor Leo menjadi saksi cinta dan pengorbanan seorang gembala untuk Gereja Batuputih. Pastor Leo kemudian pulih dan kembali melayani umat. Berbagai gangguan tidak membuat hati umat Katolik ciut, justru sebaliknya mereka semakin berani dan bersatu membangun iman. Semakin hari kegiatan gereja semakin meningkat. Tradisi Katolik terus ditanamkan dan berkembang melalui berbagai kegiatan.

Pastor yang melayani umat Katolik Batuputih juga mengalami pergantian dari waktu ke waktu. Saat ini, Paroki Sang Penebus Batuputih dilayani oleh dua imam yakni Romo Stefanus Supardi Pr dan Romo Martinus Widianto Pr.

Metamorfosis perjuangan iman bukan hanya mengubah bentuk, tetapi juga memurnikan iman dan harapan umat Batuputih. Iman telah mengubah Batuputih. Harapan telah membentuknya. Maka ketika menapaki tangga gereja, yang tampak adalah heningnya gereja serta megahnya balai dan pastoran yang menuntun langkah untuk terus bersyukur.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: