Seimbang (2)

 (sambungan)

Dari seorang Paulus yang sibuk dalam pelayanan kita mendapat pesan yang tegas mengenai keharusan untuk bekerja dan tidak malas. “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. (2 Tesalonika 3:10). Ada banyak orang yang lupa bahwa untuk menuai berkat Tuhan kita tidak boleh berpangku tangan dan terus malas-malasan, menunggu berkat jatuh dari langit tanpa kita melakukan apapun. Mereka hanya terus meminta dengan berdoa, tetapi tidak berbuat apa-apa sama sekali. Ketika berkat tidak kunjung tiba, mereka malah berani menyalahkan Tuhan. Padahal kemalasan merekalah yang sesungguhnya menghambat tercurahnya berkat Tuhan itu atas diri mereka. Perhatikanlah janji berkat dalam Ulangan 28:1-14 yang banyak menggambarkan bahwa Tuhan memberkati kita lewat usaha yang kita lakukan. “Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu…” (ay 3-5) dan seterusnya. Kemalasan akan mendatangkan kemiskinan, dan itu sudah dikatakan sejak dahulu dalam Amsal 6:9-11.

Di sisi lain terus bekerja tanpa memperhatikan keluarga, kesehatan dan kerohanian pun akan menyebabkan datangnya kegagalan dalam hidup kita. Sebuah pepatah latin mengingatkan kita akan pentingnya menyeimbangkan bekerja dan berdoa yang sudah sangat kita kenal, Ora et Labora. Yesus sudah menunjukkan pentingnya untuk meluangkan waktu bersaat teduh, menikmati keintiman hubungan dengan Tuhan meski di tengah kesibukan menjalani rutinitas, deadline-deadline dan target-target dalam pekerjaan. Keluarga pun tidak boleh diabaikan. Dari kisah Imam Eli kita bisa melihat bagaimana figur seorang ayah yang hanya sibuk melayani orang lain tapi tidak mempedulikan keluarga terutama anak-anaknya membuat sebuah keluarga menjadi hancur berantakan. 1 Samuel 2:11-26 menggambarkan dengan jelas bagaimana anak-anak Imam Eli, seorang imam  yang terpandang bertumbuh lebih mirip preman ketimbang memiliki kualitas selayaknya anak imam.

Lalu berolahraga, itu pun merupakan hal yang sangat penting untuk kita perhatikan. Lihatlah ayat berikut: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:8). Latihan badani, kata Paulus, itu berguna. Olahraga itu penting. Tetapi ibadah berguna dalam segala hal, karena mengandung janji bukan saja dalam hidup yang sekarang kita jalani tetapi juga kepada kehidupan yang akan datang. Ayat ini merangkum pentingnya menjaga kesehatan kita sekaligus mengingatkan agar kita tekun melatih diri secara teratur untuk beribadah setiap hari. Betapa seringnya kita terlalu sibuk kepada pekerjaan dan hal-hal lain yang menyita waktu lalu melupakan pentingnya menjaga kebugaran. Padahal firman Tuhan berkata: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (1 Korintus 6:19). Jika demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menjaga kondisi tubuh kita agar tetap prima, karena kita harus mempertanggungjawabkan pula pada suatu saat nanti kepada Pemiliknya. Dan ayat selanjutnya mengingatkan kita: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (ay 20).

Perhatikanlah bahwa hidup kita memerlukan keseimbangan dalam banyak hal untuk bisa maksimal dalam menjalankan panggilan Tuhan dan memenuhi rencanaNya bagi kita. Tidak mempedulikan tugas kita dalam mewartakan Injil dan menjadi kesaksian bagi orang lain pun menunjukkan sebuah kehidupan yang berat sebelah pula. Jangan lupa bahwa kepada kita semua telah diberikan sebuah Amanat Agung yang harus kita jalankan selama berada di muka bumi ini. Bekerja itu penting, melayani pekerjaan Tuhan pun merupakan hal yang seharusnya tidak kita abaikan. Satu hal lain yang tidak kalah penting adalah menjaga integritas, memberi keteladanan sesuai dengan apa yang kita ajarkan, menjadi contoh dan memberi keteladanan dengan melakukan sendiri apa yang kita katakan. “Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.” (Titus 2:7). Ketika kita mengajar anak-anak atau orang lain, perhatikan baik apakah cara hidup kita sudah sesuai dengan apa yang kita ajarkan atau tidak. Karena firman Tuhan mengatakan “Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (Ulangan 6:8-9).

Tidaklah mudah untuk menjalani hidup seperti kehendak Tuhan. Ada banyak hal yang harus kita lakukan, dan kita harus mampu menemukan keseimbangan yang tepat dari semuanya. Mengambil waktu-waktu teratur untuk bersekutu dengan Tuhan, bekerja secara normal, mempertahankan hidup sebaik-baiknya, menjaga keharmonisan keluarga, membimbing anak-anak untuk tumbuh dengan rasa takut atau hormat akan Tuhan, melayani dan menjaga kesehatan semua harus dijalankan secara seimbang. Konsepnya mungkin terlihat rumit, namun seperti halnya belajar naik sepeda, itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin bisa kita capai. Ada proses yang harus kita tempuh untuk dapat menemukan titik keseimbangan dari semuanya, dengan keseriusan dan kesungguhan kita akan bisa mendapatkannya. Jika kita bisa mempelajari keseimbangan dalam hal berlatih naik sepeda, mengapa tidak untuk hidup?

Tanpa keseimbangan sulit bagi kita untuk menjalani kehidupan secara maksimal

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: