“Sehingga Manusia Bisa Kembali pada Perasaan Beragama”

paus paulus vi by CNSPengantar Redaksi: Hari Minggu tanggal 19 Oktober 2014 akan menjadi hari penting dalam sejarah Gereja. Pada hari ini, Tahta Suci akan melakukan kanonisasi terhadap mendiang Paus Paulus VI yang dianggap berjasa melanjutkan gagasan Konsili Vatikan II dan kemudian melaksanakannya. Berikut ini adalah tulisan refleksi Don Julián Carrón, Pemimpin Fraternitas Communion and Liberation (CL), atas peristiwa […]

paus paulus vi by CNS

Pengantar Redaksi:

Hari Minggu tanggal 19 Oktober 2014 akan menjadi hari penting dalam sejarah Gereja. Pada hari ini, Tahta Suci akan melakukan kanonisasi terhadap mendiang Paus Paulus VI yang dianggap berjasa melanjutkan gagasan Konsili Vatikan II dan kemudian melaksanakannya.

Berikut ini adalah tulisan refleksi Don Julián Carrón, Pemimpin Fraternitas Communion and Liberation (CL), atas peristiwa ini dan telah dimuat di majalah bulanan terbitan Avvenire berjudul Luoghi dell’ Infinito edisi Oktober 2014.

Rekan Shirley Hadisandjaja Mandelli di Milan, Italia, membantu kita membacanya dalam bahasa Indonesia.
———————

“DUNIA  yang tengah mengalami perubahan besar minta umat Kristiani agar mampu mencari formula-formula atau cara-cara untuk menyampaikan pembaharuan dari Kristianitas dengan bahasa yang mudah dipahami.”

Kalimat di atas dinyatakan oleh Paus Fransiskus. Itu menggambarkan tentang sikap mantan Uskup Agung Montini (belakangan menjadi Paus Paulus VI—red.) saat ia pertama kali tiba di Keuskupan Milan.

Kardinal Montini adalah pribadi yang punya perhatian yang mendalam atas situasi manusia. Ia menyadari bahwa “manusia modern tengah kehilangan perasaan beragama” dan bahwa “rehabilitasi yang rasional dari perasaan beragama itu diperlukan” (1957) agar iman menjadi jawaban yang tepat terhadap kebutuhan-kebutuhan hidup.

Pada tahun-tahun itu, Don Giussani telah melihat pada diri murid-muridnya yang masih belia di Sekolah Tinggi akam hilangnya perasaan beragama yang otentik. Karena itu, mengikuti langkah-langkah Montini, ia lalu menulis buku “Perasaan Beragama” (1957) untuk menunjukkan iman yang masuk akal di hadapan tantangan-tantangan dari budaya sekuler pada zaman itu.

Dalam surat ensiklik yang pertama, Ecclesiam Suam (1964), Paus Paulus VI menggambarkan bagaimana cara mewujudkan tugas ini: “Jika Gereja terus meningkatkan kesadaran diri” maka ia akan mampu untuk “mendengarkan bukan saja apa yang dikatakan orang-orang, tetapi lebih terutama apa yang ada di hati mereka. Kita akan mampu memahami mereka dan menghormati mereka, dan bahkan sejauh memungkinkan, setuju dengan mereka. […] Dialog kita tidak boleh melemahkan tugas terhadap iman kita.”

giussani-Montini

Paus Paulus VI dan Don Gusisani

Dipicu oleh kata-kata ini, Don Giussani menulis beberapa bulan kemudian bahwa, “dialog menyiratkan keterbukaan kepada orang lain […] tetapi dialog juga menyiratkan suatu kedewasaan dalam diriku, suatu kesadaran yang kritis atas siapakah diriku.”

Don Giussani berbagi persepsi dengan Paus Paulus VI perihal tantangan yang bagi Gereja merupakan situasi manusia kontemporer, di dalam “dunia yang tengah mengalami perubahan drastis, dimana sejumlah besar ketentuan-ketentuan diperdebatkan atau dipertanyakan,” sehingga ia pun berbagi titik dari mana dapat memulai kembali.

Terhadap apa yang diartikan oleh Paus Benediktus XVI sebagai “penggalan sejarah,” pergolakan sosial tahun 1968, maka tanggapan mereka sama.

Don Giussani senang mengulang perkataan Sri Paus. Dalam menghadapi kehancuran ini, kita mesti menjawab dengan kepastian bersahaja dari sebuah Kehadiran yang merupakan mata air dari kemanusiaan sejati dan dari harapan: “Dimanakah ‘Umat Allah’, yang sering dibicarakan di masa lalu, dan masih dibicarakan saat ini, dimanakah ‘entitas etnis sui generis’ ini? Bagaimanakah ia terkomposisi? Bagaimanakah ia ditandai? Bagaimanakah ia diatur? Bagaimanakah ia menjalankan ide dan menyegarkan misi di dalam masyarakat di mana ia berada? Kita tahu betul bahwa umat Allah kini, secara historis, memiliki nama yang lebih akrab bagi semua orang: ia adalah Gereja. “(1975).

Dan dalam Evangelii Nuntiandi (1975) ia bersikukuh pada metode misi sebagai satu-satunya yang dapat menjawab kebutuhan pribadi manusia: “Di atas segala hal, Injil harus diberitakan melalui kesaksian” dari umat Kristen, yang “membangkitkan pertanyaan yang menarik di dalam hati orang-orang yang melihat bagaimana mereka hidup. Mengapa mereka seperti ini? Mengapa mereka hidup dengan cara ini?“

Keselarasan dengan Paus Fransiskus juga menakjubkan. “Gereja tidak berkembang dengan cara proselistime, tetapi ‘dengan daya tarik’.”

Don Giussani selalu mengingat dengan rasa syukur semua hal dari Uskup Agung Montini yang kemudian menjadi Paus Paulus VI. Yakni, keterbukaan manusiawi terhadap kebaikan yang ia saksikan tengah terjadi di dalam Gereja, dan bimbingannya yang menerangi. Misalnya mengizinkan dia memulai upaya pendidikan di kalangan kaum muda dari Milan dan kemudian menyertai pembentukan dari Gerakan Katolik CL (Comunion and Liberation). Termasuk kata-kata Paus Paulus VI kepadanya di Pelataran Santo Petrus pada tanggal 23 Maret 1975: “Semangat! Inilah jalan yang tepat”, mengundang dia untuk melanjutkan, seperti yang sudah dilakukannya pada pertengahan tahun 1950-an.

Untuk semua alasan ini, bagaimana mungkin kita tidak sangat bersyukur kepada Bunda Gereja kita yang mengakui kebesaran dari kesaksian Paulus VI kepada Kristus, Dia yang satu-satunya memperhatikan segala kemanusiaan kita.

Kredit foto: Paus Paulus VI (CNS file)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply