Sedikit Bicara, Banyak Mendengar

Ayat bacaan: Pengkotbah 4:17-5:1
=========================
“Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat. Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit.”

sedikit bicara, menghampiri tahta Allah

Ada sebuah ungkapan yang pernah saya dengar, kira-kira bunyinya begini: “the more you talk, the more you expose yourself.” Semakin banyak kita bicara, semakin terbukalah diri kita dengan segala kelemahannya. Ada juga yang pernah berkata, “the more you talk, the more stupidity fly out.” Ada beberapa orang yang mengaplikasikan ungkapan-ungkapan ini secara terlalu sempit, sehingga mereka menjadi pelit kata, dan hanya bicara ala kadarnya. Sebaliknya ada yang terlalu banyak menghamburkan kata, sehingga dianggap kebanyakan omong kosong. Berbagai pemilihan kepala daerah dan calon legislatif terlalu sering memberi janji-janji muluk, orasi berapi-api yang menyatakan jika mereka terpilih, bukan saja rakyat daerah yang dipimpinnya, tapi seolah-olah dunia ini pun akan langsung makmur. Dan ketika mereka terpilih, janji hanyalah tinggal janji, karena tidak ada yang berubah secara substansial. Dalam kerohanian, ada banyak pula orang yang bernazar macam-macam agar doanya dikabulkan. Tapi begitu dikabulkan? Jangankan melakukan nazarnya, berterimakasih pun lupa.

Salomo mengingatkan agar kita menjaga langkah, sikap, perbuatan, ucapan dan perkataan ketika kita menghampiri tahta Allah. Adalah lebih baik untuk mendengar apa kata Tuhan dalam doa-doa kita, daripada melemparkan segepok daftar permintaan pada Tuhan. Apalagi kalau pakai janji macam-macam. “kalau Tuhan kabulkan, aku akan begini, begitu…” terlalu banyak janji muluk, dan ketika saatnya tiba, janji-janji itu tidak ada satupun yang terpenuhi. Ayat berikutnya dalam Pengkotbah melanjutkan lebih jauh. “Karena sebagaimana mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan, demikian pula percakapan bodoh disebabkan oleh banyak perkataan.” (Pengkotbah 5:2). Lalu dengarlah mengenai nazar: “Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya.” (ay 3-4).

Ketika kepada sesama manusia pun kita harus menjaga perkataan kita, lebih terutama lagi kita harus menjaga perkataan kepada Tuhan. Segala perkataan itu, sekecil apapun tetap harus dipertanggungjawabkan. Yesus mengingatkan demikian: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:36-37). Jika perkataan saja sudah begitu penting, lebih penting lagi sebuah janji, apalagi jika janji itu ditujukan pada Tuhan. Karena itu, hendaklah kita tidak mengumbar terlalu banyak perkataan dan permintaan dalam setiap doa kita. Latihlah diri agar bisa menjadi pendengar yang peka saat menghampiri Tuhan, karena Dia adalah Tuhan yang sangat mengetahui  segala sesuatu yang kita butuhkan. Seperti halnya prinsip berdoa yang diajarkan Tuhan Yesus : “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” (Matius 6:7), biarlah kata-kata kita sedikit agar kita bisa mendengar apa yang hendak Dia katakan dan tawarkan dalam keheningan.

Adalah lebih penting untuk mendengar perkataan Tuhan daripada menumpuk daftar permintaan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply