Sedikit Bicara, Banyak Mendengar (2)

(sambungan)Selain itu Yakobus juga mengingatkan bahwa mulut harusnya diisi dengan hal-hal positif, memuji Tuhan dan memberkati orang lain, bukan dengan kutuk dan hal buruk lainnya. “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita …

(sambungan)

Selain itu Yakobus juga mengingatkan bahwa mulut harusnya diisi dengan hal-hal positif, memuji Tuhan dan memberkati orang lain, bukan dengan kutuk dan hal buruk lainnya. “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.” (Yakobus 3:9-10). Dan seperti yang sudah saya sampaikan di atas atau di renungan kemarin, Yakobus bahkan mengumpamakan bagaimana lidah yang kecil bisa menjadi bagaikan api yang menghanguskan ribuan hektar hutan seperti yang sering terjadi di berbagai belahan dunia. “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.” (ay 5-6). Bahkan kemudian ia juga berkata bahwa lidah itu buas, tidak terkuasai dan penuh racun yang mematikan. (ay 8). Yakobus tidak berlebihan menyitir akan hal ini, karena fakta membuktikan banyaknya orang yang harus hancur masa depannya karena ketidakmampuan mereka mengontrol lidah atau kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut bukanlah tanpa tujuan. Itu bukan pula suatu kebetulan semata. Mengingat jumlah telinga yang ada dua sedang mulut hanya satu, jelas bahwa Tuhan ingin kita lebih kepada mendengar dan bukan cuma bicara. Pada kenyataannya kita sering lupa akan hal ini. Kita punya dua telinga tapi tidak mempergunakannya secara maksimal kepada hal-hal yang membawa kebaikan, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Perhatikan bagaimana Tuhan menegur bangsa Israel yang dikatakan buta dan tuli. “Engkau melihat banyak, tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga, tetapi tidak mendengar.” (Yesaya 42:20). Ternyata sudah dari dulu telinga yang diberikan Tuhan tidak difungsikan dengan benar. Kalau mundur lebih jauh, sejak Adam dan Hawa pun masalah ini sudah terjadi. Tidak heran jika Yesus berulang kali menyatakan “barang siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” dalam berbagai kesempatan. Kalau untuk mendengar orang saja kita malas, apalagi Tuhan. Tuhan selalu menjaga, mengingatkan bahkan menegur kita, tapi kita terlalu sibuk dalam hal-hal lain untuk mau mendengar perkataanNya. Pada akhirnya yang rugi ya kita sendiri juga.

Telinga boleh sama-sama ada, namun hanya sedikit yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh dan lebih sedikit lagi yang mau melakukan. Dalam Amsal dikatakan: “baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan” (Amsal 1:5). Orang yang bijak itu akan mendengar dan terus menambah ilmu lewat itu. Kalau belum apa-apa sudah membantah, kalau masih punya sifat hanya mau didengar tapi tidak mau mendengar, itu bukanlah ciri orang bijak.

Ketika kepada sesama manusia pun kita harus menjaga perkataan kita, lebih terutama lagi kita harus menjaga perkataan kepada Tuhan. Segala perkataan itu, sekecil apapun tetap harus dipertanggungjawabkan. Yesus mengingatkan demikian: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:36-37). Selain menjaga perkataan dan tidak boros menghamburkannya, ingatlah bahwa alangkah baiknya kita lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Mendengar bisa membuat kita lebih dewasa, lebih bijak dan lebih mengerti. Itu jauh lebih bermanfaat ketimbang hanya berbantah tanpa tujuan selain mencari kepuasan diri sendiri.

Bicara boleh, tapi jangan boros dengan kata-kata yang tidak perlu atau malah merugikan. Dan yang lebih penting lagi, dengarkan baik-baik terlebih dahulu sebelum terburu-buru menjawab. Ayat bacaan kali ini mengatakan itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bodoh, dan kata penulis Amsal itulah yang dilakukan oleh mereka yang bijak.

Listen twice as much as you talk

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply