Sebentuk Kepedulian

Ayat bacaan: Galatia 6:2
====================
“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

kepedulian, tolong menolong

Seberapa jauh kita peduli pada nasib orang lain? Kemiskinan terpampang dimana-mana disekitar kita. Hampir di setiap lampu merah kita melihat pengemis dan pengamen yang menadahkan tangannya meminta sedikit dari apa yang kita punya. Mungkin mudah bagi kita untuk berkata “masih sehat kok minta-minta… kerja dong..” Di sisi lain kita melihat ada banyak yang sudah sarjana sekalipun tapi masih sulit mendapat pekerjaan. Atau kita mungkin mudah berkata “itu akal-akalan saja.. itu ada agennya yang mencari uang dengan memanfaatkan rasa kasihan orang lain..” Mungkin ya, saya tidak menutup kemungkinan bahwa ada orang-orang yang berlaku demikian, memanipulasi perasaan orang dan mempekerjakan orang-orang tidak mampu demi meraup keuntungan. Tapi saya kembali kepada pertanyaan di awal renungan ini. Seberapa jauh kita peduli pada nasib orang lain? Diluar segala kemungkinan akan kemalasan atau manipulasi, apakah kita peka terhadap jeritan penderitaan orang lain? Apakah dengan memberi sedikit, katakanlah lima ratus rupiah, kita akan serta merta jatuh miskin? Sementara lima ratus rupiah itu mungkin sangat berarti bagi mereka yang kekurangan. Dan pastinya, di mata Tuhan apa yang kita lakukan itu sungguh mulia.

Ada begitu banyak orang yang sangat butuh bantuan saat ini. Bukan hanya soal uang, tidak selalu mengenai kelaparan, tapi juga yang disebut Bunda Teresa sebagai “kemiskinan sejati” (the real poverty, the greatest poverty), yaitu orang-orang yang tidak dipeduli, tidak dicintai, bahkan tidak diinginkan. Berkaca dari pelayanan Yesus Kristus, kita melihat bahwa Yesus tidak memandang enteng penderitaan siapapun. Dia melakukan begitu banyak mukjizat kepada berbagai orang dari latar belakang yang berbeda. Yesus bergerak berdasarkan kasih dan belas kasihan, tanpa melihat apakah orang itu orang Yahudi atau tidak, teman atau tidak, kenal atau tidak, dan sebagainya. Yesus pun rela dianiaya dan mati di atas kayu salib untuk menebus semua orang. Menganugrahkan sebuah keselamatan, pemulihan hubungan dengan Allah kepada semua orang, terlepas apakah orang itu orang baik atau tidak, siapapun mereka. Kristus mati bagi semua orang, termasuk mereka, anda dan saya. (2 Korintus 5:15). Itulah bentuk kasih Kristus yang sungguh luar biasa. Sebagai orang yang percaya pada Kristus, tidakkah aneh jika kita tidak mencerminkan kasih Kristus, setidaknya sedikit dari besarnya kasih Kristus jika kita belum mampu mencerminkan sepenuhnya? Yesus memberi keteladanan penting akan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang lain yang mengalami kesusahan.

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2). Demikian pesan yang disampaikan kepada jemaat Galatia. Kerinduan untuk membantu adalah salah satu perwujudan nyata dari adanya kasih Kristus dalam hidup kita. Hal ini ditegaskan lagi pada ayat berikut: “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2). Kerinduan untuk membantu sesama itu hendaklah dinyatakan secara tulus, bukan karena maksud-maksud tersembunyi, karena punya agenda tersembunyi dibelakangnya, karena ingin mendapatkan pujian dari orang dan lain-lain, seperti yang ditulis dalam Roma. “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” (Roma 12:9). Pesan kasih ini begitu penting. Yesus mengajarkan : “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34). Kita diminta untuk bisa mencapai sebuah tingkatan untuk mengasihi orang lain bukan hanya seperti kita mengasihi diri kita sendiri, namun terlebih lagi seperti bagaimana Yesus sendiri telah mengasihi kita. Dan salah satu bentuk kasih itu akan terlihat dari kerinduan kita untuk membantu sesama. Hati yang penuh kasih akan gelisah ketika melihat ada orang yang membutuhkan bantuan, dan akan penuh dengan sukacita ketika bisa berbuat sesuatu untuk menolong mereka. Bukan atas jumlah nominal atau persentase waktu yang kita curahkan buat membantu, tapi dari kesungguhan dan ketulusan kita atas kasih Yesus yang hidup di dalam diri kita.

Mungkin hidup kita sendiri belum cukup mapan, mungkin kita sendiri masih kesulitan, namun sebentuk hati yang penuh kasih akan tetap berempati ketika melihat orang yang butuh pertolongan. Sedikit bantuan dari kita bisa berarti besar bagi mereka, dan hal itu bernilai tinggi di mata Tuhan. Sudahkah kita memiliki hati yang dipenuhi kasih Yesus? Bertolong-tolonglah, karena dengan demikian kita memenuhi hukum Kristus.

Nyatakan kasih Kristus lewat membantu orang lain yang membutuhkan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: