Sebatang Bambu dan Bapak Pemulung

Ayat bacaan: Lukas 10:27
=====================
“Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

mengasihi Tuhan, mengasihi sesama, bambu, pemulung

Pagi tadi saya mendapat sebuah pelajaran penting. Ada sebatang buluh bambu terletak memanjang tepat di depan jalan kecil yang menurun curam di depan rumah saya. Bambu itu sudah dibelah sehingga bentuknya tipis saja, tapi memanjang dari satu sisi ke sisi yang lain. Melihat itu, saya sempat berpikir, apakah buluh bambu itu bisa mencelakakan orang? Rasanya tipis begitu, tidak akan membahayakan siapa-siapa, pikir saya. Tapi bagaimana jika ada yang terpeleset? Itu pun menjadi pemikiran saya selanjutnya. Ketika saya masih berpikir, lewatlah seorang pemulung dari bawah. Melewati bambu itu, dia langsung memungut dan membuangnya ke tepi. Karena saya berdiri di situ, ia kemudian tersenyum dan berkata, “takut ada yang terpeleset nanti..” Saya pun tertegun. Ketika saya sibuk dengan berpikir, ia memilih melakukan hal yang jauh lebih baik, langsung memungut dan menyingkirkan dari jalan. Ia tidak perlu berpikir untuk melakukan itu, dan memang seharusnya untuk urusan segampang itu tidak ada yang perlu dipikirkan terlebih dahulu. Bapak pemulung itu benar. Dia tidak berpikir ada atau tidak orang yang bisa celaka karenanya, dia tidak berpikir orang dengan latar belakang apa yang akan lewat setelahnya dan mungkin bermasalah dengan bambu itu, dan sebagainya. Dia melakukan apa yang seharusnya dia lakukan, dan itu sangat mudah. Seharusnya saya segera memungut dan memindahkan bambu itu ke tepi, terlepas dari ada atau tidak orang yang bisa celaka karenanya. Ternyata saya masih kurang sigap untuk masalah kepedulian, dan apa yang saya alami hari ini saya jadikan sebuah pelajaran berharga.

Seringkali kita hanya sibuk memusatkan diri hanya satu sisi saja. Kita rajin berdoa, rajin beribadah, tidak lupa saat teduh, membaca alkitab, mengasihi Tuhan dan sebagainya. Padahal selain mengasihi Tuhan, kita juga harus mengasihi sesama kita. Itu inti dasar kekristenan yang tidak bisa dipisahkan. Kedua-duanya haruslah sejalan. Di satu sisi kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, disisi lain kita juga mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Demikian kata Yesus: “Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:37-40). Lihatlah adanya kesatuan dari kedua hukum yang sudah mencakup seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi sebelumnya. Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama haruslah berjalan serentak beriringan.

Mari kita lihat Lukas 10:25-37. Seorang ahli Taurat menanyakan kepada Yesus mengenai bagaimana kita bisa memperoleh hidup yang kekal. Ia sebenarnya tahu apa jawabannya, karena ketika Yesus kembali bertanya kepadanya, ia bisa menjawab dengan benar. “Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”(Lukas 10:27). Dan Yesus pun membenarkan jawabannya. Di perikop ini Yesus lalu memberi perumpamaan yang sungguh menggugah, yaitu tentang orang yang dirampok dan dicederai ketika ia sedang berada dalam perjalanan dari Yerusalem menuju Yerikho. Dalam keadaan sekarat ia ditinggalkan tergeletak di tengah jalan. Lalu lewatlah seorang imam, tapi imam ini hanya melewati dirinya. Mungkin imam ini harus buru-buru ke bait Allah untuk berkotbah atau melayani. Hubungan dengan Tuhan dianggapnya jauh lebih penting daripada menolong orang yang sekarat itu. Kemudian orang Lewi lewat di tempat yang sama, ia pun melewati orang tersebut. Mungkin orang Lewi, yang berbicara mengenai hamba-hamba Tuhan pun sedang buru-buru hendak melayani, sehingga memilih untuk pura-pura tidak melihat. Tapi datanglah orang Samaria yang dianggap orang berdosa. Tanpa basa basi dan berpikir panjang lebar ia langsung memilih untuk menolong orang yang sekarat itu, tergerak oleh belas kasihan. (ay 33). Tanpa memikirkan siapa orang yang ia tolong, dari golongan mana dan apa kepercayaannya, ia segera mengobati luka dan membawa si orang yang terluka ini ke penginapan untuk dirawat, bahkan meninggalkan sejumlah uang kepada pemilik penginapan untuk merawat orang yang tidak dia kenal tersebut. (ay 34-35). Itulah sesama manusia menurut versi Tuhan. Sesama manusia tidak memandang latar belakang agama, suku, budaya, status, kedudukan dan sebagainya, tapi berbicara mengenai orang yang menganggap sesamanya seperti dirinya sendiri. Ini bentuk pengajaran Tuhan Yesus mengenai kasih terhadap sesama manusia.

Kepada jemaat Galatia Paulus berpesan demikian: “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” (Galatia 6:10). Kita diminta untuk tidak jemu-jemu berbuat baik (ay 9) kepada siapapun. Memang terutama kepada saudara seiman, namun bukan berarti kita harus menutup mata dari orang lain, karena pesan Paulus jelas menyebutkan agar berbuat baik kepada semua orang, tanpa terkecuali. Lebih dari itu, ketika kita melakukan segala sesuatu untuk orang lain, sekecil apapun, yang paling hina sekalipun, bukankah kita juga melakukannya untuk Tuhan? Artinya jelas, bahwa mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama adalah berhubungan, dan haruslah berjalan seimbang dan seiring. Percuma jika kita hanya fokus pada hubungan kita dengan Tuhan, rajin memuji, rajin berdoa, rajin saat teduh, rajin membaca firman, rajin beribadah, namun melupakan sesama kita. Sebaliknya adalah sia-sia pula apabila kita hanya berbuat baik tapi tidak mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita. Keduanya haruslah sejalan. Belajar dari kisah bapak pemulung dan sebatang bambu di atas, marilah kita tanggap terhadap hal-hal kecil sekalipun sebagai bentuk kasih kita kepada sesama. Jangan berhenti pada berpikir, jangan cuma berhenti pada rasa kasihan, tapi mulailah untuk berbuat sesuatu. Menyingkirkan batang bambu misalnya, bukanlah pekerjaan sulit dan makan waktu lama, tapi itu akan sangat membantu pemakai jalan yang akan melewatinya. Dari hal-hal kecil seperti itu pun kita bisa menunjukkan kasih kepada sesama manusia. Let’s start doing something to glorify God, no matter how simple or easy it may be,  it will mean a lot to Him.

Belajar melakukan hal-hal kecil akan membawa kita kepada hal-hal besar

Cari Uang Online

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply