Search Results for: renungan iman katolik

Renungan Harian, Jumat: 02 Desember 2016, Mat.9:27-31

nabi-yesaya

Renungan Harian, Jumat: 02 Desember 2016, Mat.9:27-31 0By admin onDecember 1, 2016Harian, Jendela Alkitab

Mat 9:27 Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.”


Mat 9:28 Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.”


Mat 9:29 Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”


Mat 9:30 Maka meleklah mata mereka. Dan Yesuspun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: “Jagalah supaya jangan seorangpun mengetahui hal ini.”


Mat 9:31 Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.


Renungan


Dalam Kitab Suci, Allah selalu digambarkan sebagai Allahnya orang-orang yang lemah. Kitab Suci sering membandingkan nasib orang lemah dan orang perkasa di hadapan Tuhan yang lemah selalu dibela, sementara yang perkasa dihancurkan. Tentunya ini bukan ungkapan tentang Allah yang pilih kasih. Tetapi sebuah ungkapan iman bahwa di dalam kegelapan dan keputusasaan Tuhanlah harapan terbesar dan satu – satunya.


Nabi Yesaya menyerukan hal ini kepada bangsa terpilih, terutama mereka yang dibelenggu oleh penjajahan dan penindasan, supaya mereka tetap percaya bahwa di dalam Tuhan harapan tak pernah sirna, bahwa keselamatan dan pembebasan akan datang bagi mereka. Kepercayaan dan harapan itu juga yang ditampilkan oleh kedua orang buta yang disembuhkan Yesus . Kepercayaan dan harapan membuat mereka melihat Yesus dan kuasa-Nya meski mata mereka buta dan kegelapan selalu meliputi hidup mereka.


Kepercayaan dan harapan adalah kekuatan yang memampukan kita tetap melihat secercah cahaya dan keselamatan meski hidup kita sedang dirundung kegelapan dan tanpa daya. Dalam setiap kegelapan dan kesesakan orang beriman ditanya oleh Yesus,” Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?”


Tuhan Yesus Kristus, terangilah jalan hidupku dan kuatkan imanku supaya tidak tenggelam oleh kegelapan dan ketidakberdayaan. Amin.


========


Sumber: Buku Ibadat Harian Ofisi Menurut Ritus Roma Diterbitkan Oleh PWI-Liturgi, 1995, Penerbit Nusa Indah Ende.



Tags : , , , ,

Renungan Harian, Sabtu: 26 November 2016, Luk. 21:34-36

iman-katolik-terkini Renungan Harian, Sabtu: 26 November 2016, Luk. 21:34-36 0By admin onNovember 26, 2016Harian, Jendela Alkitab

Luk 21:34 “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.

Luk 21:35 Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini.

Luk 21:36 Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”

Renungan

Tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi esok. Orang hanya dapat menduga, namun tidak berkuasa menentukan kepastian dan kebenaran. Satu hal yang pasti bahwa hidup akan terus berjalan. Hidup mesti diisi dan dimaknai dengan baik melalui tindakan dan perbuatan yang berguna bagi sesama. Sikap hidup yang baik menjadi cara dalam mengisi perziarahan hidup di dunia ini. Perbuatan baik ini mesti ditopang oleh hidup rohani. Doa adalah sikap rohani yang menjadi sarana komunikasi manusia dengan Allah. Karena itu, dalam doa dimungkinkan adanya relasi yang erat antara manusia dengan Allah Sang Pencipta. Kesetiaan beriman dengan mengisi hidup yang bernilai bagi diri dan sesama menghantar kita pada kehidupan abadi, yakni kehidupan baru di langit dan bumi yang baru, dimanaa Krsitus sendiri adalah awal dan akhir ( bdk. Why.21:6).

Dalam dunia dewasa ini, kita pun dihadapkan pada berbagai persoalan yang kerapkali menggerogoti hidup dan semangat iman. Yesus memberikan nasihat untuk selalu setia dalam hidup dan menatanya serta senantiasa mengarahkan relasi kepada-Nya tiada henti. Keteguhan dan kesetiaan demikian akan menghantar kita pada hidup baru dan kekal, dalam kesatuan bersama Kristus sendiri.

Apakah kita sudah menata hidup beriman dengan lebih baik dan dewasa? Sejauh mana kita telah memaknai hidup sebagai seorang Kristiani?

Tuhan Yesus, bukalah hatiku untuk merindukan langit dan bumi yang baru dimana Engkau sendiri berkuasa penuh cinta. Ajarilah aku memahami penyelamatan-Mu dalam segala hal. Amin.

=========

Sumber: Ziarah Batin 2016

 

Tags : , , , ,

Renungan Harian, Rabu: 16 November 2016, Luk. 19:11-28

memulai-sukses-dengan-pekerjaan-kecil Renungan Harian, Rabu: 16 November 2016, Luk. 19:11-28 0By admin onNovember 16, 2016Harian, Jendela Alkitab

LUK 19:11 Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan.

Luk 19:12 Maka Ia berkata: “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali.

Luk 19:13 Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.

Luk 19:14 Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami.

Luk 19:15 Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing.

Luk 19:16 Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina.

Luk 19:17 Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.

Luk 19:18 Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina.

Luk 19:19 Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota.

Luk 19:20 Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan.

Luk 19:21 Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur.

Luk 19:22 Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur.

Luk 19:23 Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya.

Luk 19:24 Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu.

Luk 19:25 Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina.

Luk 19:26 Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.

Luk 19:27 Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”

Luk 19:28 Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.

Renungan

Seorang ibu sedang menjemur padi di halaman rumahnya. Tiba – tiba seekor induk ayam dengan anak – anakanya datang dan mulai mematuk padi yang sedang dijemur. Melihat hal itu si ibu segera mengusir  induk ayam dan anak-ananknya.  Ketika ayam – ayam tersebut berlarian, butir-butir  padi ikut berserakan dan berjatuhan dari tempat jemuran padi. Si ibu dengan sabar dan setia di bawah terik matahari sambil berkerudung handuk memunguti setiap butiran padi yang jauh berserakan. Satu per satu hingga akhirnya tiada lagi padi yang terserak di tanah.

Hal hal kecil dan sederhana sering kali terabaikan, entah karena dianggap kurang penting atau karena sepele. Orang lebih senang mengurus hal hal yang hebat dan luar biasa agar mendapat peranan, pujian atau kepopuleran. Inilah pesan dari perumpamaan Yesus tentang mina hari ini. Yesus mengajarkan sebuah sikap kesetiaan dalam segala perkara hidup ini, Setiap kita dianugerahi keutamaan dan kebaikan. Besar atau kecil, banyak atau sedikit itu bukan soal tetapi yang penting setia. Dalam iman dan kesetiaan inilah anugerah itu mesti kita kembangkan untuk membangun kehidupan di mana pun kita berada.

Ya Tuhan, berilah aku butir-butir kesetiaan dalam memaknai hidup dan anugerah yang telah Kauberikan padaku. Amin.

========

Sumber: Ziarah Batin 2016

 

5 pencarian oleh pembaca:

  1. makna dari alkitab lukas 19:11
Tags : , , ,

Hari Raya Penampakan Tuhan

HR PENAMPAKAN TUHAN: Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12

“Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."

Para nelayan pada umumnya bekerja di malam hari dalam rangka mencari atau menangkap ikan di laut. Mereka juga terampil dalam hal melihat bintang di langit sebagai petunjuk arah, dengan kata lain bintang yang bertebaran di langit pada malam hari bagi mereka sungguh merupakan ‘jalan hidup’ menuju ke keselamatan dan kebahagiaan. Bintang-bintang di langit di malam hari bagi para nelayan juga merupakan kehidupan, dan mungkin bagi kebanyakan orang hanya sekedar keindahan di malam hari. Pada hari ini dalam warta gembira dikisahkan orang-orang majus dari Timur yang melihat bintang sebagai tanda kedatangan Penyelamat Dunia, dan bintang tersebut menjadi petunjuk arah ke mana ia harus mencari tempat dimana Penyelamat Dunia dilahirkan dan berada. Maka dari jauh dengan petunjuk bintang mereka berjalan menuju Yerusalem, dimana bintang yang dilihatnya menunjukkannya. Penampakan Tuhan bagi mereka ditandai dengan simbol bintang, dan memang Sang Penyelamat Dunia kiranya juga boleh dikatakan sebagai Bintang Sejati yang menerangi dan memberi petunjuk jalan bagi semua orang untuk mengarah ke keselamatan atau kebahagiaan sejati. Maka marilah kita yang beriman kepadaNya mawas diri: apakah kita juga dapat menjadi bintang-bintang bagi saudara-saudari kita dalam hidup dan kerja kita setiap hari kapan pun dan dimana pun.

“Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." (Mat 2:2)

Pertama-tama marilah kita lihat kehadiran dan karya Tuhan dalam diri saudara-saudari kita, yang nampak atau menggejala dalam aneka perbuatan baik, yang bermoral dan berbudi pekerti luhur. Apa yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur dalam diri saudara-saudari kita merupakan bintang-bintang yang menunjukkan jalan bagi kita semua untuk menuju ke kebahagiaan atau keselamatan sejati, yaitu kebahagiaan dan keselamatan jiwa manusia. Kami percaya dalam diri saudara-saudari kita dapat kita jumpai lebih banyak apa yang baik daripada tidak baik, yang bermoral daripada yang tidak bermoral, yang berbudi pekerti luhur daripada yang tidak berbudi pekerti luhur. Kita tiru dan hayati dalam diri kita apa yang kita temukan atau jumpai dalam diri saudara-saudari kita agar kita pun juga semakin dapat menjadi bintang-bintang bagi orang lain.

Menjadi bintang pada umumnya menjadi sorotan atau perhatian banyak orang, misalnya bintang penyanyi, bintang pelajar/mahasiswa, dst.. Maka kami berharap anda tidak menjadi malu ketika menjadi perhatian dan sorotan dari banyak orang serta juga tidak menjadi sombong, melainkan hendaknya bersyukur dan berterima kasih serta kemudian menghayati syukur dan terima kasih tersebut dengan berbuat baik kepada mereka yang memperhatikan dan menyoroti. Jika perbuatan baik tak mungkin  dilakukan dengan tindakan-tindakan phisik, baiklah dilakukan secara spiritual, yaitu dengan mendoakan mereka. Dengan kata lain menjadi bintang berarti juga menjadi pendoa sejati, yaitu orang yang senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan kapan pun dan dimana pun.       

Kami berharap kepada anda semua tidak meniru sikap raja Herodes, yang pura-pura juga ingin melihat dan berbakti kepada Sang Penyelamat Dunia, namun sebenarnya dalam hatinya iri dan merasa disaingi karena konon ada raja baru yang muncul dan lebih berwibawa. "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” (Mat 3:8), demikian kata-kata raja Herodes kepada para majus yang datang menghadapnya. Irihati dan kebohongan Herodes dikemas dalam kata-kata yang indah, dan memang begitulah sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehar-hari dalam diri orang yang irihati dan bohong. Para penjahat pada umumnya menggunakan kata-kata mesra dan indah untuk mengelabui sasarannya. Maka dengan ini kami juga berharap kepada anda untuk peka, hati-hati dan cermat terhadap kata-kata mesra dan indah, jangan-jangan hal itu merupakan jebakan atau rayuan bagi kita untuk menjadi korban kejahatan dan mungkin juga bagi para gadis menjadi korban perkosaan.

Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus,yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus” (Ef 3:2-3a.5-6)

Menjadi orang beriman atau beragama pertama-tama bukan karena ikatan darah atau suku, melainkan karena Roh yang dianugerahkan kepada kita. Dengan kata lain yang unggul dalam hidup beriman atau beragama adalah mereka yang hidup dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga cara hidup dan cara bertindaknya menghasilkan buah-buah Roh Kudus seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus kita juga memiliki tugas merasul, maka marilah kita hayati dan sebarluaskan buah-buah Roh Kudus di atas dalam hidup dan kerja kita sehari-hari kapan pun dan dimana pun.

Kita juga diingatkan “bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus”. Warta Injil diperuntukkan bagi seluruh manusia atau bangsa di dunia tanpa pandang bulu atau SARA. Peringatan di atas ini mengajak dan mengingatkan kita semua bahwa bukan ikatan darah atau suku, yang diutamakan dalam keanggotaan Umat Allah, melainkan ikatan dalam Roh Kudus, artinya budi pekerti luhur atau kecerdasan spiritual yang menjadi ikatan. Sekali lagi kami ingatkan bahwa Yesus Kristus adalah Penyelamat dunia, Ia datang untuk menyelamatkan seluruh dunia. Atas dasar iman inilah para Gembala Gereja Katolik di dalam Konsili Vatikan II berani menyatakan atau mengajarkan bahwa “mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendakNya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan” (Vatikan II: LG no 16).

Para majus yang menerima penampakan bukan orang Yahudi. Secara konkret yang menjadi anggota Gereja Katolik pada masa kini mayoritas juga bukan orang Yahudi dan tergerak untuk menjadi anggota Gereja Katolik karena kesaksian iman mereka yang telah menjadi anggota Gereja Katolik, yang telah menampakkan rahmat Allah melalui cara hidup dan cara bertindaknya setiap hari. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian, entah keyakinan atau agamanya apapun, untuk lebih mengutamakan penghayatan iman bukan pengungkapan iman, dengan kata lain lebih mengutamakan cara hidup dan cara bertindak yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur daripada ajaran, wacana atau omongan. Marilah kita hayati tugas merasul (berdkwah) dengan dan melalui cara hidup dan cara bertindak, bukan dengan omongan atau provokasi.

Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya! Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin

 (Mzm 72:10-13)

Ign 8 Januari 2012

Tags : , , , , ,

19 Mei

“Kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah”

(Kis 18:23-28; Yoh 16:23b-28)

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa." (Yoh 16:23b-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Allah telah mengasihi kita dengan total melalui Yesus Kristus yang telah mempersembahkan DiriNya sampai wafat di kayu salib dan kemudian dibangkitkan dari mati. Maka selayaknya jika kita harus mengasihi Yesus serta percaya bahwa Ia datang dari Allah ke dunia untuk menyelamatkan seluruh dunia seisinya. Sebagai bukti bahwa kita mengasihi Yesus adalah kita dipanggil untuk meneruskan karya penyelamatan dunia dengan berpartisipasi dalam seluk beluk dunia alias dengan sepenuh hati ‘mendunia’. Memang hidup ‘mendunia’ pada masa kini kita harus menghadapi aneka macam tantangan, masalah dan hambatan, maka baiklah dengan penuh percaya kita mohon kepada Allah agar Ia senantiasa menyertai dan mendampingi kita dimana pun kita berada atau kemana pun kita pergi. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikanNya kepadamu dalam namaKu”, demikian sabda Yesus. Memohon sesuatu kepada Allah atas nama Yesus kiranya berarti mohon karunia Roh Kudus, sebagaimana sedang kita hayati pada hari-hari ini dalam rangka Novena Roh Kudus. Mohon karunia Roh Kudus berarti mohon agar dianugerahi keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan, seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23), sehingga cara hidup dan cara bertindak kita dijiwai oleh keutamaan-keutamaan tersebut. Pada masa kini yang perlu kita hayati dan sebarkan antara lain adalah ‘kesetiaan’, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang tidak atau kurang setia pada iman, panggilan dan tugas pengutusannya, yang nampak dalam aneka bentuk pelanggaran tata tertib dan aturan setiap hari.

·   Dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.” (Kis 18:28), demikian berita perihal Apolos yang berpartisipasi dalam pewartaan Kabar Baik, bahwa Yesus adalah Mesias, Penyelamat Dunia yang dinantikan semua orang. Kitab Suci memang merupakan refleksi atas iman kepada Yesus Kristus, Mesias, Penyelamat Dunia. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk menyebarluaskan iman kita dimana pun dan kapan pun, dan untuk itu ada kemungkinan kita harus menghadapi aneka bantahan atau sanggahan perihal iman kita. Ketika berusaha menanggapi bantahan atau sanggahan hendaknya berpedoman pada apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, maka untuk itu kami berharap kepada kita semua untuk dengan tekun dan rajin membaca apa yang tertulis di dalam Kitab Suci serta merenungkannya. Bacalah Kitab Suci setiap hari agar memperoleh kekuatan dan inspirasi untuk penghayatan iman maupun memperjuangkan aneka kebenaran. Ingatlah dan sadari bahwa para santo-santa atau tokoh-tokoh di dalam Gereja Katolik sungguh hidup dan bertindak berdasarkan sabda Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, sehingga mereka sungguh setia dalam penghayatan iman maupun panggilan dan tugas pengutusan. Baiklah dalam rangka Novena Roh Kudus dimana juga dibacakan Kitab Suci kita dengarkan dan renungkan dengan baik, sehingga kita dapat memahami apa yang tertulis di dalam Kitab Suci serta kemudian menjadikannya pedoman atau inspirasi dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun, sehingga kita senantiasa siap sedia menghadapi aneka bantahan atau sanggahan iman kita.

“Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! Allah memerintah sebagai raja atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus. Para pemuka bangsa-bangsa berkumpul sebagai umat Allah Abraham. Sebab Allah yang empunya perisai-perisai bumi; Ia sangat dimuliakan” (Mzm 47:8-10)

Ign 19 Mei 2012

Tags : , , , , ,

Mengenal Kasih

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:1
========================
“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”

mengenal kasih Instrumen musik seperti gong atau canang (cymbal) bisa membuat sebuah komposisi menjadi semakin unik, apalagi ketika dipadukan dengan instrumen-instrumen modern elektrik, maka kesan yang timbul akan jauh berbeda. Ada banyak musisi jazz yang mulai melirik penggunaan instrumen-instrumen pelengkap ini untuk menambah rasa dan warna dalam musik mereka. Gong atau canang tidak bisa dipakai untuk memainkan notasi seperti halnya piano, saxophone atau gitar. Tapi pada penggunaan yang tepat kedua instrumen ini akan melengkapi kesempurnaan sebuah komposisi. Tapi coba bayangkan seandainya gong atau canang ini dibunyikan tanpa pola, asal-asalan dan seenaknya. Tentu yang muncul adalah bunyian nyaring (cymbal) atau berdengung (gong) tanpa arti yang malah akan mengganggu pendengaran kita.

Saya ingin menyambung renungan kemarin tentang kasih. Jika kemarin saya sudah menggambarkan betapa besarnya peran kasih dalam kehidupan ini, hari ini kita akan melihat lebih lanjut kasih seperti apa yang sebenarnya mampu membuat perbedaan itu. Paulus menjabarkan itu semua secara lengkap dan jelas dalam 1 Korintus 13. Mari kita lihat seperti apa kasih yang sebenarnya.

“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” (1 Korintus 13:1). Paulus mengatakan, meski dia bisa berkata-kata dengan berbagai bahasa yang ada di dunia ini bahkan bahasa malaikat sekalipun, tapi jika ia tidak memiliki kasih terhadap orang lain, maka ia tidak lebih dari bunyi gong dan canang tanpa makna, yang hanya berbunyi tapi tidak punya arti apa-apa. Lalu kita lihat ayat berikutnya. “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (ay 2). Paulus adalah orang yang punya begitu banyak karunia. Dia memiliki karunia bernubuat, dia punya pengetahuan yang sangat dalam mengenai rahasia surgawi dan kita tahu bahwa Paulus adalah sosok yang memiliki iman yang kuat. Ia menyebutkan iman seperti yang digambarkan Yesus, dimana iman yang sebesar biji sesawi saja akan mampu memindahkan gunung untuk tercampak kelaut seperti yang bisa kita baca dalam Matius 21:21 dan Markus 11:23. Tidakkah semua itu luar biasa? Mungkinkah orang yang memiliki karunia selengkap itu dikatakan tidak berguna? Tapi Paulus menekankan, bahwa sehebat apapun orang itu, sebesar apapun kemampuan rohani seseorang, mereka tetap saja tidak ada gunanya jika tidak mempunyai kasih. Selanjutnya Paulus berkata: “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” (ay 3). Suka amal? Banyak menyumbang untuk gereja? Atau bahkan merelakan diri untuk dibakar karena agama yang anda anut? Rela mati dibom demi kepercayaan? Semua itu tidaklah ada manfaatnya sama sekali jika tidak ada kasih. Banyak orang yang salah menangkap pesan ini. Mereka mengira bahwa semakin banyak kita memberi sumbangan, maka itu berarti kita semakin mengasihi. Padahal sebenarnya ada begitu banyak motif dibalik sebuah pemberian. Lihat apa kata Yesus. “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6:2). Pemberian bisa didasarkan karena mengharapkan sebuah imbalan atau balas jasa, mengharapkan pujian, agar keinginan kita dipermudah dan sebagainya. Atau malah mengira kita bisa menyuap Tuhan dengan melakukan pemberian yang besar. Dan ini seringkali dilakukan banyak orang. Tapi perhatikanlah, pemberian sebesar apapun, bahkan menyerahkan diri kita sendiri sekalipun jika tidak didasari kasih tidak akan membawa manfaat apa-apa. Tuhan tidak melihat besar kecilnya pemberian. Apa yang Dia lihat adalah motif di balik sebuah pemberian itu. Itulah sesungguhnya yang akan membedakan apakah Tuhan berkenan atau tidak lewat pemberian kita itu. Dan dasar yang berkenan bagi Tuhan adalah kasih. Pemberian yang didasari kasih yang tulus, sekecil apapun itu, meski hanya sebuah senyum sekalipun, itu akan dihargai Tuhan.

Paulus menjabarkan apa saya yang menjadi bagian dari kasih yang sungguh-sungguh ini. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7). Inilah gambaran dari buah-buah yang dihasilkan oleh kasih yang sesungguhnya. Inilah sebentuk kasih yang bisa membawa perubahan nyata. Kasih seperti inilah yang mampu membuat perbedaan. Ketika kita memiliki kasih yang seperti ini, kita akan melihat langsung betapa kasih itu tidak akan pernah gagal. We’ll see how love never fails to make a difference. We’ll see how love never fails to succeed in every aspects of our lives. Iman, pengharapan dan kasih merupakan tiga hal yang sangat penting untuk kita miliki. Paulus menyebutkannya demikian. Tapi jangan lupa bahwa ia menekankan: “yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (ay 13). Pengetahuan dan nubuatan pada suatu saat akan lenyap, pengharapan dan iman akan selesai ketika kita sudah sampai di hadapan tahta Allah dengan selamat dan sudah melihat segala bukti dengan sempurna kelak, namun kasih akan terus bersama kita dalam kehidupan kekal. Karenanya kasihpun disebutkan Paulus sebagai yang terbesar. “Kasih tidak berkesudahan.” (ay 8).

Penting bagi kita untuk mengetahui kasih seperti apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan untuk kita aplikasikan dalam hidup. Dia sudah memberikan itu semua lewat Roh Kudus (Roma 5:5). Sekarang keputusan ada di tangan kita. Apakah kita mau mengaplikasikannya dalam setiap sisi kehidupan kita, mencurahkan kasih Allah kepada orang lain juga, atau kita hanya mau menyimpannya untuk diri sendiri saja. Sesungguhnya kedua hukum yang terutama, mengasihi Allah dan manusia itu haruslah berjalan secara bersamaan. Bayangkan jika kita hanya terus menyumbang untuk Tuhan namun melupakan sesama kita yang sedang tertimpa kesusahan. Kita membuka dompet lebar-lebar untuk pembangunan gereja, namun tetangga kita yang ditimpa masalah tidak kita pedulikan. Atau sebaliknya, kita rajin menyumbang sesama, namun tidak mau mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Itu bukanlah bentuk kasih yang penuh.Lakukan keduanya sejalan, dan dasarkan dalam kasih, bukan kepentingan-kepentingan lainnya.

Pengharapan terhadap dunia yang fana ini akan sia-sia. Tapi kasih yang bersumber dari Allah, yang dikaruniakan lewat Roh Kudus itu mampu membebaskan. Meski kita bisa berbicara dalam berbagai bahasa, hebat dalam menyampaikan berita dari Tuhan, memiliki pengetahuan hingga rahasia-rahasia firman Tuhan, memiliki iman yang sanggup mencampakkan gunung ke laut, sangat royal menyumbang bahkan rela dibakar sekalipun demi kepercayaan yang kita anut, jika kita tidak mempunyai kasih maka semuanya akan sama sekali tidak berguna, sia-sia atau percuma. Tuhan Yesus mengingatkan “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:21-23). Dan Tuhan menghendaki kita untuk hidup dengan kasih, di dalam kasih. Jika bentuk kasih yang sebenar-benarnya ini yang kita miliki, disanalah orang akan bisa melihat kemuliaan Tuhan secara nyata. Itulah yang akan membedakan kita dari dunia ini. Hari ini mari kita baca baik-baik dan renungkan kemudian perkatakan 1 Korintus 13 ini. Dan mulailah mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Kasih seperti itu sudah dicurahkan Tuhan bagi kita, tinggal kita yang mengeluarkan, mengolah dan memakainya untuk bisa menjadi berkat bagi siapapun tanpa terkecuali. Only then you will witnesss that love really never fails.

Sehebat apapun kita, tanpa kasih semua hanya akan sia-sia

5 pencarian oleh pembaca:

  1. gambaran tentang kasih yang tak terbatas
  2. tuliskan ilustrasi tentang kasih yang tak terbalas
Tags : , , , , ,

8 Mei

Apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu”

(Kis 14:19-28; Yoh 14:27-31a)

” Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku. Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku” (Yoh 14:27-31a)

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Apa yang disebut dengan kenikmatan fisik memang berbeda dengan kenikmatan spiritual. Sebagai orang berinab hendaknya lebih mengutamakan kenikmatan spiritual daripada fisik dan tentu saja jika dapat menikmati keduanya secara serentak atau integral lebih baik, mengingat dan memperhatikan kita masih hidup di dunia secara fisik. Kenikmatan fisik itu misalnya dalam hal seks, makanan maupun minuman, tidur dst.., sedangkan kenikmatan spiritual ada di dalam hati, jiwa dan akal budi: kenikmatan fisik bersifat sementara tetapi kenikmatan spiritual bertahan lama atau bahkan dinikmati sampai mati atau dipanggil Tuhan. Maka jika kita mendambakan kenikmatan yang bertahan lama atau sampai mati hendaknya meneladan Yesus yang “mengasihi Bapa dan melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepadaNya”. Dengan kata lain marilah kita melaksanakan kehendak dan perintah Allah, yang secara konkret hal ini dapat kita hayati dengan setia menghayati janji-janji yang pernah diikrarkan  Atau baiklah kita juga dapat mewujudkan perintah dan kehendak Allah dengan cara: “dalam dan dengan semangat iman kita hidup dan melakukan apapun, termasuk dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”. Dalam kegiatan sehari-hari seperti makan, minum, istirahat/tidur, rekreasi dst.. hendaknya dalam dan dengan iman. Hayati segala sesuatu dalam Tuhan atau temukan Tuhan dalam segala sesuatu. “Damai sejahtera lahir dan batin, fisik dan spiritual” menjadi dambaan semua orang, kita semua, maka marilah kita usahakan bersama-sama dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Kami juga berharap kepada mereka yang masih mendambakan kenikmatan fisik melulu untuk mengembangkan dan meningkatkan ke kenikmatan spiritual atau rohani.

·   Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis 14:21-22). “Bertekun dalam iman serta berusaha untuk masuk dalam Kerajaan Allah”  memang tak akan terlepas dari aneka macam bentuk penderitaan atau kesengsaraan, dan penderitaan maupun kesengsaraan yang lahir dari kesetiaan pada iman maupun usaha masuk dalam Kerajaan Allah alias lebih dikuasai oleh Allah merupakan jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka hadapilah dalam keteguhan iman. “Jer basuki mowo beyo” = Hidup mulia dan damai sejahtera butuh perjuangan dan pengorbanan. Ada kecenderungan banyak orang masa kini, yang diawali di dalam keluarga-keluarga, untuk memanjakan anak-anak atau generasi muda, dan hal ini antara lain didukung oleh aneka produk tehnologi yang membanjiri warga atau masyarakat, antara lain makanan atau minuman yang memanjakan lidah kita, tangan maupun semua anggota tubuh kita yang lain. Aneka makanan dan minuman instant telah menina-bubukkan lidah kita, dan kiranya tak lama kemudian jika diibiarkan cara hidup dan cara bertindak kita akan dikuasai oleh orang-orang yang bersikap mental materialistis dan kemudian kita juga akan memiliki sikap mental materilistis. Usaha untuk bertekun dalam iman hemat saya untuk masa kini memang harus dimulai dari makanan dan minuman, artinya berusaha makan dan minum apa-apa yang menyehatkan tubuh, sehingga tubuh sungguh handal. Kehandalan tubuh akan memudahkan untuk hidup dan bertindak dijiwai oleh iman. Kami berharap para orangtua tidak memanjakan lidah anak-anaknya dengan aneka macam jenis makanan instant dan yang tidak sehat.

Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu” (Mzm 145:10-12)

Ign 8 Mei 2012

Tags : , , , , ,

Minggu Paskah II – Kis 2:42-47; 1Ptr 1:3-9; Yoh 20: 19-31

Mg Paskah II (HM Kerahiman Ilahi:
Kis 2:42-47; 1Ptr 1:3-9; Yoh 20: 19-31

"Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
Dalam Era Reformasi yang ditandai dengan gerakan demokrasi dan hak azasi manusia masa kini, karena keterbatasan kedewasaan pribadi manusia sering berkembang menjadi aneka bentuk kekerasan dan tawuran  untuk mempertahankan pendapat atau cita-cita kelompok atau pribadi. Aneka kekerasan tidak hanya terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tetapi juga dalam hidup berkeluarga, dimana terjadi kekerasan antar suami-isteri atau orangtua terhadap anak-anaknya. Memang menurut saya aneka kekerasan yang terjadi di masyarakat merupakan pengembangan atau pendalaman kekerasan yang terjadi di dalam keluarga, maka baiklah kami mengingatkan dan mengajak kita semua yang berkeluarga atau hidup berkomunitas, marilah kita jauhkan aneka bentuk kekerasan di dalam keluarga atau komunitas. Untuk itu marilah, pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi hari ini,  kita renungkan atau refleksikan sabda Yesus yang telah bangkit dari mati kepada para rasul di bawah
 ini.

"Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." (Yoh 20:22-23) 
Para rasul menerima anugerah Roh Kudus dan diberi kuasa atau wewenang untuk mengampuni dosa orang. Kuasa atau wewenang yang demikian itu untuk masa kini juga dimiliki oleh para imam, maka dengan ini pertama-tama kami mengajak dan mengingatkan rekan-rekan imam untuk menjadi saksi kerahiman ilahi. Hendaknya para imam penuh kasih pengampunan dan belas-kasih kepada umatnya, tidak mudah marah terhadap umat, dan tentu saja di antara para imam sendiri hendaknya saling mengampuni dan berbelaskasih. Semoga kasih pengampunan yang diwartakan dan disalurkan di dalam atau melalui kamar pengakuan ketika ada umat yang mengaku dosa juga menjadi cara hidup dan cara bertindak imam di luar kamar pengakuan dosa.

Berbicara perihal kerahiman hemat saya tak boleh melupakan rekan-rekan perempuan yang memiliki rahim, dimana ketika mereka menjadi ibu di dalam rahimnya tumbuh berkembang buah kasih. Dalam dan dengan kerahiman serta kasih kiranya rekan-rekan calon ibu atau para ibu ‘mendampingi’ buah kasih yang tumbuh berkembang di dalam rahimnya. Maka kami berharap kepada rekan-rekan perempuan juga dapat menjadi saksi atau teladan dalam hal kerahiman ilahi, menjadi penyalur kerahiman  Allah kepada sesama atau saudara-saudarinya.

Bahasa Latin dari ‘kerahiman’ adalah misericordia yang dapat berarti kasihan, belas-kasih, kerahiman, kerelaan, kemurahan, kedermawanan, maka menghayati kerahiman ilahi dapat kita wujudkan dengan menghayati keutamaan-keutamaan dari arti misericordia tersebut. Mungkin yang baik kita hayati pada masa kini adalah kedermawanan, yang berarti dengan kerelaan hati dan murah hati memberi derma kepada mereka yang sungguh membutuhkan, entah berupa tenaga, waktu atau harta benda/uang. Berbagai musibah dan bencana alam pada masa kini terjadi bertubi-tubi, yang menimbulkan cukup banyak korban yang membutuhkan bantuan dari para dermawan. Marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa harta benda atau uang pada dasarnya bersifat social, maka semakin memiliki harta benda atau uang hendaknya semakin social, tidak pelit. Tentu saja kami berharap kepada mereka yang terlibat atau berpartisipasi dalam aneka LSM atau berkarya di bawah naungan Departemen Sosial dapat menjadi
 teladan dan penggerak dalam hidup social atau kedermawanan. Jangan mengkomersielkan lembaga untuk korupsi atau mencari keuntungan pribadi. Sebagai manusia ciptaan Allah kita semua juga dipanggil untuk hidup social dan bersahabat satu sama lain. Maka selanjutnya marilah kita renungkan atau refleksikan sapaan Petrus di bawah ini.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”
 (1Pet 1:3-7)
Sebagai orang beriman kita semua diingatkan untuk membuktikan ‘kemurnian iman’ kita masing-masing. Emas dimurnirkan dengan api, emas murni tidak akan meleleh karena panas api yang membara. Paulus mengumpamakan iman kita bagaikan emas, maka baiklah untuk memurnikan iman kita marilah kita sungguh mendunia, berpartisipasi dalam seluk beluk dunia, karena sebagaimana dikatakan oleh Yakobus “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17). Jika kita sungguh mendunia, berpartisipasi dalam seluk beluk dunia akan kelihatan apakah iman kita sungguh tangguh, handal dan murni, karena mendunia tanpa iman akan amburadul hidupnya, semakin mendunia harus semakin beriman. Dalam seluk beluk dunia sarat dengan masalah, hambatan dan tantangan-tantangan, maka memurnikan emas berarti berani menghadapi masalah, hambatan atau tantangan yang ada., tidak melarikan diri.

Ketika iman kita murni, maka hidup bersama sebagai umat beriman akan meneladan cara hidup jemaat atau umat Perdana, yaitu ” Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kis 2:42-45). Kebersamaan hidup dan kerja kita sungguh menarik, memikat dan mempesona orang lain, sehingga banyak orang tergerak untuk mendekat dan bersahabat dengan kita, sebagaimana terjadi juga dalam jemaat perdana: ” mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan”(Kis 2:47). Marilah dengan rendah
 hati dan bantuan rahmat Allah kita senantiasa berusaha agar cara hidup dan cara bertindak kita ‘disukai semua orang’.

“Aku ditolak dengan hebat sampai jatuh, tetapi TUHAN menolong aku. TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku. Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: "Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan, Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya”
(Mzm 118:13-15.22-24)
               
Jakarta, 1 Mei 2011

Tags : , , , , ,

5 Okt – Gal 1:13-24; Luk 10:38-42

"Tuhan tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?”

(Gal 1:13-24; Luk 10:38-42)

 

“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Luk 10:38-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kisah Warta Gembira di atas ini sering menjadi inspirasi motto “Ora et laora” (=berdoa dan bekerja) atau “contemplativus in actione” (=menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan). Mayoritas waktu dan tenaga kita kiranya lebih untuk bekerja daripada berdoa, maka baiklah kita mawas diri sejauh mana selama bekerja kita dijiwai oleh iman kita, sehingga dapat menghayati segala sesuatu dalam Tuhan. Memang ada orang bekerja keras tanpa kenal lelah dengan harapan dipuji orang lain, dengan kata lain bekerja untuk mencari pujian, dan ketika tidak dipuji atau tidak diperhatikan orang lain tidak mau bekerja atau marah-marah, mengeluh atau menggerutu seperti Marta. Menghayati segala sesuatu dalam Tuhan berarti dalam apapun yang kita kerjakan atau alami kita senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan, dan dengan demikian kita hidup dan bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan. Hidup dan bekerja bersama Tuhan meskipun secara phisik dan sosial sendirian pasti tidak mengeluh atau menggerutu ketika harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah, melainkan tetap sabar, tenang, bergairah dan ceria.  Memang agar dapat demikian kita tidak boleh melupakan untuk menyisihkan waktu dan tenaga secara khusus setiap hari untuk berdoa, berkomunikasi secara  pribadi dengan Tuhan. Doa orang yang setia dan taat pada panggilan dan tugas pengutusannya alias bekerja keras sesuai dengan kewajibannya pada umumnya lebih berkwalitas daripada mereka yang bermalas-malas dalam melaksanakan tugas pengutusan. Sekali lagi kami ingatkan bagi kita semua bahwa hidup dan bekerja kehilangan kegairahan dan keceriaan kehilangan maknanya dan dengan demikian tidak menarik dan mempesona bagi orang lain.

·   “Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya.Dan mereka memuliakan Allah karena aku” (Gal 1:23-24), demikian sharing pengalaman iman Paulus kepada umat di Galatia, kepada kita semua orang beriman. “Memberitakan iman” itulah kiranya yang baik kita renungkan atau refleksikan. Pemberitaan iman pertama-tama adalah melalui perilaku atau tindakan bukan omongan atau wacana. Maka marilah kita mawas diri apakah tindakan atau perilaku kita setiap hari sungguh memberitakan iman. Sebagai tanda bahwa cara hidup dan cara bertindak kita atau perilaku kita memberitakan iman adalah mereka yang melihat atau menyaksikan atau kena dampak perilaku kita tergerak untuk memuliakan Allah alias semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah. Dengan ini kami mengingatkan kita semua: hendaknya jangan membanggakan diri sebagai yang beragama, memiliki kedudukan atau jabatan khusus dalam hidup dan bekerja bersama, aktif dalam aneka kegiatan keagaamaan dst…jika perilaku kita tidak baik, tidak bermoral. Keunggulan hidup  beriman atau sebagai murid Yesus Kristus adalah dalam tindakan atau perilaku yang baik dan berbudi pekerti luhur. Maka kami mengajak anda sekalian yang mengerti dan menguasai aneka nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan kehidupan secara intelektual, kami harapkan dengan rendah hati mentranformasikan nilai atau keutamaan tersebut kedalam tindakan atau perilaku. Semakin tahu banyak nilai atau keutamaan hendaknya juga semakin berperilaku dan bertindak baik, berbudi pekerti luhur. Dengan kata lain kami berharap kepada para pemimpin atau atasan dalam kehidupan dan kerja bersama dimanapun untuk menjadi teladan dalam penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan kehidupan alias menjadi saksi-saksi iman dalam hidup sehari-hari.

 

“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.” (Mzm 139:1-3)

 

Jakarta, 5 Oktober 2010

5 pencarian oleh pembaca:

  1. TAFSIRAN GAL 1:13-24;LUK 10:38-42
Tags : , , , , ,

All’s Well That Ends Well

Ayat bacaan: 2 Timotius 4:7
=====================
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

all's well that ends well,sengsara, tahan uji, serupa dengan Kristus, mahkota kehidupan Sudah tiga hari koneksi internet macet baik di rumah maupun di kampus tempat saya mengajar. Mungkin karena providernya sama, masalah yang sama pun menimpa kedua tempat dimana saya selalu bekerja. Karena koneksi ngadat, urusan mengelola situs jazz yang seharusnya selesai dalam waktu 10 menit menjadi 10 jam. Itu baru untuk satu postingan. Sementara bahan yang harus di post bukan cuma satu. Saya sempat kelabakan dan merasa kesal dengan situasi ini. Namun puji Tuhan, ternyata Dia tanggap dengan kondisi saya. Tadi sore di tengah kesulitan yang saya alami, saya diingatkanNya untuk tetap memelihara iman. Maksudnya, saya tidak boleh kecewa dan kesal berlarut-larut. Memiliki iman yang teguh akan Kristus tentu mendatangkan kasih dan sukacita ke dalam hati kita dalam kondisi apapun. Iman akan membuat kita tidak akan berpanjang-panjang dengan keluh kesah. Masalah boleh datang, kesulitan boleh bertambah. Repot? Sudah barang tentu. But it’s okay. Karena dalam kerepotan itu ternyata ada banyak pelajaran yang saya dapatkan. Ketika saya mendapat kesulitan untuk mengakses fitur-fitur bantuan di situs saya, ternyata saya mendapatkan “ilmu baru” bagaimana mengakali itu dengan melakukan update secara manual. Jika koneksi tidak rusak, rasanya saya tidak akan mendapatkan ilmu baru ini. Karena itulah, tadi sore jika ada orang yang melihat saya, tentu ia akan merasa aneh dan lucu. Di tengah kesulitan yang timbul dalam bekerja, bukannya emosi atau bersungut-sungut, tapi sebaliknya saya malah senyum, bernyanyi-nyanyi kecil dengan bersemangat. Terima kasih Tuhan yang telah melimpahkan sukacita kembali ke dalam hati saya, meski tengah mengalami kesulitan. Memang waktu kerja saya menjadi jauh lebih lama, tapi ada ilmu yang saya dapat, dan saya berhasil mengalahkan rasa kesal dengan sukacita dahsyat dari Tuhan. Dengan sukacita itu pula, saya malam ini bersyukur karena akhirnya koneksi kembali normal. Setidaknya saat ini, setelah tiga hari bermasalah. All’s well that ends well.

All’s well that ends well, itu yang saya dengar di dalam hati saya malam ini setelah koneksi kembali normal. Ternyata ini adalah ungkapan bijak yang pernah dijadikan judul sebuah sandiwara teater oleh Shakespeare di awal tahun 1600 an. Kata bijak ini menggambarkan bahwa tidak masalah jika kita mengalami persoalan jika hasil akhirnya baik. Problems do not matter so long as the outcome is good. As long as we have the happy ending. Ini konsep Tuhan pula dalam hidup anak-anakNya yang tetap bertekun dan tidak hilang pengharapan ketika badai menerpa.

Apa yang dialami Yusuf (kitab Kejadian pasal 43-45) atau Ayub (dalam kitab Ayub) adalah contoh bagaimana badai penderitaan bisa menerpa bertubi-tubi, bahkan bisa menimpa hidup orang-orang yang dekat dengan Tuhan. But in the end, everything ended up well, for the Lord is good. Sebab Tuhan itu baik. (Mazmur 100:5). Apa yang dijanjikan Tuhan adalah segala sesuatu yang indah pada waktunya. (Pengkotbah 3:11). Mungkin kita tidak mempunyai cukup kemampuan untuk mengerti “masterplan” Tuhan tentang diri kita secara utuh, namun percayalah jika kita terus bertekun dan tegar dalam menghadapi masalah, segala sesuatu akan indah pada waktunya. Ada kalanya kita didera persoalan, mungkin bertubi-tubi, tapi di balik itu semua akan ada banyak hal yang bisa kita jadikan bahan pelajaran, bahkan mampu membuat kita menjadi lebih kuat dan tahan uji. Itulah hal yang juga dijelaskan Paulus kepada jemaat Roma. “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Roma 5:3-4). Itu sebabnya mengapa kita dianjurkan, dan bisa, untuk terus bersyukur dan bersukacita ketika sedang masuk ke dalam fase hidup yang sedang diamuk gelombang pasang dan angin kencang. Ada banyak orang yang mengira bahwa ketika masalah menerpa hidup mereka, maka itulah akhir dari segala-galanya. Ada yang menyerah, ada yang mengambil jalan pintas, ada juga yang memilih untuk mengakhiri hidupnya. Nanti dulu! Itu bukanlah akhir dari segalanya. Apa yang menjadi tujuan akhir kita adalah menjadi sama dengan Kristus dan terus memelihara iman hingga mencapai garis akhir, dimana kita akan dihadiahi mahkota kehidupan dan diganjar kehidupan kekal bersama dengan Bapa di Surga. Menjadi sama dengan Kristus, seperti yang dikatakan Paulus dalam kitab Roma. “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” (Roma 8:29). Dan menjaga iman sampai akhir, itu ia tuliskan dalam suratnya untuk Timotius. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (2 Timotius 4:7-8).

Mengacu kepada kisah Yusuf yang hampir dibunuh saudara-saudaranya dan dijual sebagai budak, “all’s well that ends well” berlaku. Ketika kemudian bertemu kembali dengan saudaranya, Yusuf tidak mendendam. Ia bahkan mengampuni dan menyelamatkan mereka. Ketika saudara-saudaranya ketakutan melihat Yusuf, ia pun berkata “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” (Kejadian 45:5). Lihatlah Yusuf mampu memandang dari perspektif pandang Bapa. Yusuf menyadari bahwa meskipun saudara-saudaranya begitu tega memperlakukannya dengan kejam, tapi ia tahu pasti bahwa ada Tuhan yang sedang dan terus bekerja dalam hidupnya untuk mendatangkan sesuatu yang indah. Dan memang itu yang terjadi. All’s well that ends well. Itu adalah hasil yang dicapai Yusuf, yang lulus ujian dengan nilai sangat memuaskan. Jika Yusuf sanggup, mengapa kita tidak? Ingatlah bahwa segala permasalahan bukanlah akhir dari segala-galanya. Masalah boleh timbul, tapi kita harus terus bertekun dalam menghadapi ujian. Dalam kondisi appaun, kita harus terus berupaya untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus, dan pada akhirnya kita akan dihadiahi mahkota kehidupan, diangkat untuk berada bersama-sama dengan Bapa di Surga, dan pada saat itulah semua akan berakhir dengan indah. Tetaplah bersyukur dan teruslah bersukacita memuji Tuhan.  So, it’s okay to face a problem. Problems do not matter so long as the outcome is good. And for the Lord is good, everything will be beautiful in the end.

Sengsara mendatangkan ketekunan yang akan membuat kita terlatih untuk lebih kuat agar mampu mencapai garis akhir dengan tetap memelihara iman

Tags : , , , , ,