Say No to Batu Sandungan!

Ayat bacaan: 2 Korintus 6:3
======================
“Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.”

batu sandungan

Hidup bermasyarakat dalam kemajemukan tidaklah mudah. Apalagi ketika kita menjadi kaum minoritas. Apa yang kita lakukan, bagaimana kita bertingkah laku, semua akan menjadi bahan pengamatan banyak orang. Karena itulah saya selalu berusaha, terutama selama setahun terakhir ini, untuk menjaga diri dari berbagai kelakuan yang buruk. Berhasil atau gagal? Saya tahu masih banyak yang harus dibenahi, karena sebagai manusia saya tidak akan bisa 100% sempurna. Namun setidaknya saya terus berusaha untuk terus menjadi lebih baik lagi. Itu tekad saya, may God keeps on helping me on that. Adalah sangat penting bagi saya untuk terus berproses lebih baik, menjaga setiap langkah saya, agar saya tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Sebuah cerita hari ini saya peroleh dari adik saya yang sedang kuliah di sebuah institut swasta IT di Jawa Barat. Rektor dari universitas itu adalah seorang bergelar pendeta yang artinya juga melakukan pelayanan. Namun alangkah ironisnya ketika kata-kata yang ia keluarkan dan sikapnya di kampus tidak mencerminkan pribadi yang membawa terang dan garam. Demikian katanya dalam sebuah pertemuan di hadapan seluruh mahasiswa/i nya. “Seandainya kampus ini tutup, seandainya kalian semua keluar, saya tidak rugi apa-apa. Saya tetap ditawari banyak peluang yang lebih baik bisa menjadi pilihan saya. Saya tetap hidup melimpah ada atau tidak ada kalian disini.” Wah, wah, wah… bukankah ini sebuah bentuk kesombongan? Tidakkah ia sadar bahwa semua berkat itu berasal dari Tuhan, dan karenanya tidak ada kekayaan atau kelimpahan yang perlu disombongkan?  Belum lagi dalam beberapa kesempatan sikapnya yang merendahkan orang lain, atau melakukan diskriminasi suku dan agama berlangsung di depan banyak orang. Perlu dicatat, bahwa di kampus itu terdapat beragam agama dan suku, baik mahasiswa maupun dosennya. Betapa mengerikannya kekristenan di mata mereka. Bukannya menjadi berkat, saya khawatir kelakuannya sebagai orang teratas di institut itu malah menjadi bahan tertawaan, bahan cercaan, dan  batu sandungan bagi banyak orang.

Kita harus ingat bahwa kedatangan Yesus ke dunia ini pun bertujuan untuk menggenapi kehendak Bapa, dan untuk melayani, bukan untuk dilayani. Tidak ada kamus kesombongan dalam pelayanan Yesus. Dia tidak pernah minta dilayani laksana raja, disediakan karpet merah, hotel mewah, fasilitas-fasilitas lengkap, walaupun Dia sebenarnya jauh lebih dari layak untuk itu. Tapi bukan itu yang menjadi tujuanNya ke dunia. Keselamatan kita, pemulihan hubungan dengan Bapa, itu menjadi prioritasNya. Dan dengan keteladanan luar biasa, Yesus sendiri menunjukkan seperti apa seharusnya anak-anak Tuhan bersikap dan melayani, menjadi hamba Tuhan yang bisa membawa terang dan garam di dunia. Bercermin dari sikap Yesus itu, para pelayanNya seperti Paulus misalnya, menganggap bahwa adalah sangat penting untuk menjaga diri dalam melakukan pelayanan, supaya segala kasih karunia Allah yang telah diterima, segala berkat-berkat yang telah Dia curahkan janganlah sampai menjadi sia-sia. “Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima……Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.” (2 Korintus 6:1,3). Sungguh disayangkan jika lewat diri kita orang bukannya mengenal Kristus Sang Juru Selamat, tapi malah menjadi takut, antipati atau alergi. Sikap ekslusif, sikap merasa paling benar, kesombongan dan sebagainya, over acting, memamerkan kekayaan, semua itu bukanlah sikap yang baik yang dikehendaki Tuhan untuk kita lakukan.

Agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, saya percaya terlebih dahulu kita perlu membuang batu-batu sandungan yang ada di dalam diri dan hidup kita. Adalah sangat perlu untuk terus menjaga hati kita, karena seperti apa hati kita, seperti itu pula terpancar kehidupan kita. (Amsal 4:23). Demikian pula Yesus berkata: “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” (Markus 7:21-23). Inilah batu-batu sandungan dalam diri kita yang terlebih dahulu harus kita singkirkan jika kita mau berusaha untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, hingga bisa menjadi berkat bagi siapapun orang yang kita temui, tanpa memandang siapa mereka, dari mana dan apa latar belakangnya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16). Inilah yang diinginkan Kristus bagi kita. Terang atau tidak akan terlihat dari bagaimana kita hidup. Sudahkah kita hidup sesuai firmanNya dalam kasih, atau malah menjadi batu sandungan bagi banyak orang? Tidak ada gunanya kita rajin berdoa, rajin melayani, rajin membaca Alkitab, rajin meneriakkan nama Tuhan jika tidak didukung perbuatan nyata dalam kehidupan kita. Setiap detik dari hidup kita bisa menjadi kesaksian yang manis, sebaliknya bisa pula menjadi batu sandungan bagi orang lain. Orang bisa mengenal Kristus atau malah membenci Kristus beserta pengikutNya lewat sikap, tingkah laku dan perbuatan kita. Maka adalah penting bagi kita untuk menjaga sikap, tingkah laku dan perbuatan kita dalam hidup bermasyarakat. Say no to batu sandungan!

Hiduplah dengan rendah hati dan penuh cinta kasih, seperti yang Yesus ajarkan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply