Saul, Rabbi Yahudi, Tubuh Rohani dan Teologi Pohon Tomat

tomatTANGGAL 25 – Januari lalu, Gereja merayakan bertobatnya St. Paulus. Dia pernah melihat “tubuh rohani” yang terbentuk dari “cahaya” di Gerbang kota Damsyik. Waktu Saulus bertanya: Siapakah Engkau? Cahaya itu menjawab: Akulah Yesus yang kamu aniaya itu. (Kis. 9: 5). Pengalaman itu begitu berkesan bagi Paulus sampai dalam Kis diceritakan sebanyak tiga kali: Kis. 9: 1 – 18; Kis. 22:  6 – 16; Kis. 26: 12 – 16. “Tiba-tiba…pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku…”.   Saulus sudah pernah melihat “tubuh yang terbentuk dari cahaya” itu. Dan dalam banya kesempatan lain Paulus berbicara tentang “tubuh rohani” atau “tubuh sorgawi” dan dia menjelaskan tentang “kebangkitan tubuh” atas cara yang jelas dan tegas: “Hai orang-orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati lebih dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandung atau biji lain. T Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain daripada daging ikan. Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari kemuliaan tubuh duniawi. Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati: ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan; ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan; Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan; Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah; yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah.” (1 Kor. 15: 35 – 44).   “Tubuh Rohaniah” itu contradictio in terminis (bertentangan di dalam istilahnya itu sendiri). Tubuh ya tubuh, rohani ya rohani. (Tubuh koq rohani) Tidak mungkin ada tubuh rohaniah. Kalau rohaniah itu bukan tubuh, bukan jasmaniah. Tetapi Paulus berani memakai istilah yang kontradiktif itu karena ia pernah melihat: “Tubuh Rohaniah” itu yang terbentuk bukan dari daging melainkan dari “Cahaya” yang lebih terang dari pada matahari.   Kebetulan hari Jumat tgl. 23 Janunari lalu, dr. Eli Lasut (mantan bupati Talaud yang pernah mengalami penderitaan penjara Sukamiskin Bandung selama 5 tahun) berceramah tentang pengalaman pergumulan imannya selama di dalam penjara. Umat katolik kleak yang menjadi dokter dan menjadi bupati itu “berteologi” dari dalam penjara untuk membahas tema-tema iman. Dua tema yang ingin saya angkat di sini ialah: “Manusia diciptakan dari debu tanah” dan “Kebangkitan Badan – Kebangkitan Kristus”.   Dr. Eli Lasut menjelaskan bahwa sungguh mengagumkan bahwa Alkibat itu benar adanya. Dalam Kej. 1: 7 dikatakan; “Tuhan membentuk manusia itu dari debu tanah.” Eli Lasut mengatakan, mungkin lebih tepat dikatakan: Tuhan membentuk manusia dari tanah dan air. Karena tubuh kita ini terdiri dari unsur-unsur tanah dan air (40 % tanah dan 60 % air). Semua unsur yang terdapat dalam tubuh kita seperti: Kalsium, Kalium, Magnesium, Titanium dll (dr. Eli membuat daftar lengkap dari segi medis) itu ada di dalam tubuh kita. Jadi kalau orang mau cari bijih besi, kapur, kandungan emas, bahkan titanium zat pembuat bom nuklir itu, ada di dalam tubuh kita. Jadi sungguh benar bahwa secara obyektif tubuh kita dan tanah itu mempunyai unsur-unsur senyawa yang sama. Kita memang berasal dari debu tanah.   Kebetulan tadi saya jalan ke belakang seminari dan melihat frater sedang menyiram pohon tomat. Pohon tomat itu cepat sekali besar dan kalau orang tidak melihat 3 hari saja, sudah akan kaget. Pohon tomat cepat besar, tetapi juga cepat mati, karena lebih banyak unsur air di dalamnya. Lalu diskusi dengan frater itu ingat penjelasan dr. Eli Lasut dalam ceramah itu. Sama juga dengan tubuh manusia yang terdiri dari tanah dan air, hanya bertahan 70 tahun atau 80 jika kuat (Maz. 90: 10). Frater bilang: kalau Tuhan memakai bahan baja, mungkin kita bisa tahan 500 tahun. Saya billang: iya betul. Payah Tuhan ini, menciptakan manusia tidak fit, sehingga cepat mati. Coba bahannya bukan dari demi tanah, maka kita lebih lama hidup. Kalau perempuan itu bahannya dari tulang rusuk; jadi mestinya lebih kuat! Tetapi tulang rusuknya Adam dari tanah juga, jadi sama saja.   Ceramah dr. Eli Lasut berjudul: “God is Energy, Rahasia di Balik Penciptaan”. Dia menjelaskan tentang kisah penciptaan, tentang Jadilah Terang. Apa itu terang dan energi. Gelap pekat itu sama sekali tidak baik. Terang itu baik. Tetapi dari mana asalnya terang? Eli mengaku bahwa ia berdiskusi banyak tentang fisika dan energi dalam penjara dengan ahli nuklir lulusan Jerman yang juga terjerat kasus hukum dan ada di dalam penjara bersama-sama dengan dia. Jadi, ia mendapatkankan ilmu fisika gratis dan ia hubungkan dengan latar belakang medisnya sebagai dokter.   Tubuh manusia itu mengandung tenaga listrik. Setiap sel butuh manusia mengandung 0.24 mikro volt, dia bilang. Jadi tubuh manusia juga mengandung energi listrik. God is Energy. Human body is enegy.   Lalu dr. Eli Lasut bicara tentang “tubuh dasar” dan “tubuh alkalis”. Ia merentangkan kedua tangannya dan mengatakan: “kalau tubuh saya ini meleleh atau mencair karena terdi dari unsur tanah dan air, maka saya akan hilang lenyap. Tubuh dan tulang-tulang saya habis. Begitulah yang terjadi kalau saya mati. Tetapi itu hanya tubuh alkalis saya yang hilang. Masih ada “tubuh dasar” yaitu roh dan jiwa saya. Roh dan jiwa itu adalah “tubuh roh”. Selama ceramah Eli hanya mengatakan “Roh” atau “tubuh roh”. (Eli belum pernah terucap (tacumu) tubuh rohani. Di akhir ceramah saya bilang kepada Eli: St. Paulus memakai istilah: Tubuh Rohani, bukan tubuh roh).   Beda antara “tubuh alkalis” dan “tubuh dasar” dia berikan contoh: “Waktu saya (Eli Lasut) mendarat di bandara Sam Ratulangi, ribuan masa menjabut saya dan langsung kenal saya Eli Lasut. Padahal sudah 5 tahun mereka tidak melihat saya. Tetapi heran, Maria Magdalena, Yesus baru mati 3 hari, ia sudah tidak kenal Dia lagi. Maria Magdalena mengira Yesus: tukang kebun, penjaga taman, atau malah menuduh dia yang mencuri jenasah-Nya. Begitu pula dua murid ke Emaus (Eli Lasut bilang pondok emaus… dan para frater tertawa); dan juga Petrus dan Yohanes di tepi pantai. Mengapa mereka tidak mengenal Yesus? Karena tampil bukan dengan “tubuh alkalis” melainkan dengan “Tubuh Rohani”. Tema Tubuh Rohani itu membuat saya ingat akan St. Paulus karena ia adalah ahlinya untuk menjelaskan Tubuh Rohani itu. Paulus sudah melihat “Tubuh Rohani”  yang mulia dan yang bangkit itu yang terentuk dari cahaya. Tubuh itu tidak terbentuk lagi dari tanah dan air, melainkan dari Energi dan Cahaya.   Sebagai teolog, saya menyimak penjelasan Eli Lasut dengan cermat dan argumentasinya semakin menguatkan iman. Betapa hal-hal rohani itu bisa sesuai dengan pengertian ilmu fisika tentang materi. Penjelasan Eli kalau ditambahkan satu kata saja: menjadi indah sekali untuk iman: God is the Energy of Love. Allah adalah Energi Cinta. Energi itu bukan listrik atau medan agnet atau panas, melainkan Cinta yang penuh daya dan begitu intens sehingga mengangung kekuatan yang dahsyat. Dr. Eli Lasut belum menyebut bahwa Energi itu adalah “Kekuatan Cinta”. Dengan menambahkan “Cinta” maka Allah menjadi personal dan relasional; dan ini sesuai dengan gambaran Allah dalam kekristenan.   Eli menjelaskan juga apa artinya panas dan api penyucian. Dalam ilmu fisika, kalau orang mau memisahkan unsur-unsur yang menyatu maka diperlukan dua cara: diberikan tekanan yang lebih besar dari kekuatan pengikat itu atau dipanaskan. Begitu pula kalau Roh Manusia ingin dipisahkan dari ikatannya dengan hal-hal duniawi supaya bisa menyatu dengan Roh Allah; maka diperlukan cara untuk memisahkan ikatan itu. Semakin kuat ikatan itu, semakin besar pula energi yang diperlukan dan itu akan menyebabkan semakin panas. Dan itulah Api penyucian. Api penyucian adalah panas yang ditimbulkan akibat kuatnya ikatan Roh Manusia dengan hal-hal dunia. Dan kalau roh manusia berhasil dilepaskan dari ikantannya dari hal-hal duniawi, maka ia kemudian menyatu dengan Roh Allah yang menjadi asal-usulnya. Ingat, dalam Kej. 2: 7: Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Energi kehidupan yang diberikan oleh Allah itu kekal, dan itu sesuai dengan hukum kekekalan energi dalam fisika. Energi itu memang kekal, tidak bisa hilang, hanya berubah bentuknya. Dalam fisika memang diakui energi itu hanya mengambil bentuk-bentuk yang berbeda, namun ia tidak pernah bisa hilang.   Eli menjelaskan bahwa dalam organ tubuh manusia ada bagian-bagian yang bekerja secara otomatis karena digerakkan oleh energi yang ada di dalam tubuh manusia itu sendiri. Ia tidak bisa diperintahkan oleh syaraf atau oleh otak: misalnya: denyut jatung. Kita tidak bisa bilang: hai jatung… istirahat dulu sebentar… tidak bisa. Ia akan berdenyut terus; demikian pula dengan aliran darah ke seluruh tubuh yang dipompa oleh jantung itu. Organ itu bergerak bukan karena kita, melainkan karena Tuhan yang adalah Energi kehidupan.   Energi yang tidak bisa hilang (kekekalan energi) itu bisa juga disalurkan dan mengalir kepada orang lain. Lalu Eli berkeyakinan bahwa doa itu adalah cara menyalurkan energi positif. Kalau kita mendoakan seseorang, maka kita menyalurkan energi positif kepadanya. Demikian pula kalau kita mendoakan orang yang sudah meninggal, maka doa itu pasti ada efeknya untuk rohnya. Asal kita dengan sungguh-sungguh dan serius mendoakannya, maka saudara kita yang sudah meninggal itu pasti lebih cepat untuk masuk ke sorga. Karena kita tambah energi positif untuk memisahkan rohnya dari ikatannya pada hal-hal duniawi dan membuat dia lebih cepat bersatu dengan Allah. Terus terang: Ceramah dr. Eli Lasut ME (dokter yang belajar ekonomi dan pernah jadi bupati termuda dan bicara teologi itu) semakin menguatkan iman saya. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)    

tomat

TANGGAL 25 – Januari lalu, Gereja merayakan bertobatnya St. Paulus. Dia pernah melihat “tubuh rohani” yang terbentuk dari “cahaya” di Gerbang kota Damsyik.
Waktu Saulus bertanya: Siapakah Engkau? Cahaya itu menjawab: Akulah Yesus yang kamu aniaya itu. (Kis. 9: 5). Pengalaman itu begitu berkesan bagi Paulus sampai dalam Kis diceritakan sebanyak tiga kali: Kis. 9: 1 – 18; Kis. 22:  6 – 16; Kis. 26: 12 – 16. “Tiba-tiba…pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku…”.
 
Saulus sudah pernah melihat “tubuh yang terbentuk dari cahaya” itu. Dan dalam banya kesempatan lain Paulus berbicara tentang “tubuh rohani” atau “tubuh sorgawi” dan dia menjelaskan tentang “kebangkitan tubuh” atas cara yang jelas dan tegas: “Hai orang-orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati lebih dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandung atau biji lain. T
Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain daripada daging ikan. Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari kemuliaan tubuh duniawi.
Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati: ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan; ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan; Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan; Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah; yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah.” (1 Kor. 15: 35 – 44).
 
“Tubuh Rohaniah” itu contradictio in terminis (bertentangan di dalam istilahnya itu sendiri). Tubuh ya tubuh, rohani ya rohani. (Tubuh koq rohani) Tidak mungkin ada tubuh rohaniah. Kalau rohaniah itu bukan tubuh, bukan jasmaniah. Tetapi Paulus berani memakai istilah yang kontradiktif itu karena ia pernah melihat: “Tubuh Rohaniah” itu yang terbentuk bukan dari daging melainkan dari “Cahaya” yang lebih terang dari pada matahari.
 
Kebetulan hari Jumat tgl. 23 Janunari lalu, dr. Eli Lasut (mantan bupati Talaud yang pernah mengalami penderitaan penjara Sukamiskin Bandung selama 5 tahun) berceramah tentang pengalaman pergumulan imannya selama di dalam penjara. Umat katolik kleak yang menjadi dokter dan menjadi bupati itu “berteologi” dari dalam penjara untuk membahas tema-tema iman. Dua tema yang ingin saya angkat di sini ialah: “Manusia diciptakan dari debu tanah” dan “Kebangkitan Badan – Kebangkitan Kristus”.
 
Dr. Eli Lasut menjelaskan bahwa sungguh mengagumkan bahwa Alkibat itu benar adanya. Dalam Kej. 1: 7 dikatakan; “Tuhan membentuk manusia itu dari debu tanah.” Eli Lasut mengatakan, mungkin lebih tepat dikatakan: Tuhan membentuk manusia dari tanah dan air. Karena tubuh kita ini terdiri dari unsur-unsur tanah dan air (40 % tanah dan 60 % air).
Semua unsur yang terdapat dalam tubuh kita seperti: Kalsium, Kalium, Magnesium, Titanium dll (dr. Eli membuat daftar lengkap dari segi medis) itu ada di dalam tubuh kita. Jadi kalau orang mau cari bijih besi, kapur, kandungan emas, bahkan titanium zat pembuat bom nuklir itu, ada di dalam tubuh kita. Jadi sungguh benar bahwa secara obyektif tubuh kita dan tanah itu mempunyai unsur-unsur senyawa yang sama. Kita memang berasal dari debu tanah.
 
Kebetulan tadi saya jalan ke belakang seminari dan melihat frater sedang menyiram pohon tomat. Pohon tomat itu cepat sekali besar dan kalau orang tidak melihat 3 hari saja, sudah akan kaget. Pohon tomat cepat besar, tetapi juga cepat mati, karena lebih banyak unsur air di dalamnya.
Lalu diskusi dengan frater itu ingat penjelasan dr. Eli Lasut dalam ceramah itu. Sama juga dengan tubuh manusia yang terdiri dari tanah dan air, hanya bertahan 70 tahun atau 80 jika kuat (Maz. 90: 10). Frater bilang: kalau Tuhan memakai bahan baja, mungkin kita bisa tahan 500 tahun. Saya billang: iya betul. Payah Tuhan ini, menciptakan manusia tidak fit, sehingga cepat mati. Coba bahannya bukan dari demi tanah, maka kita lebih lama hidup. Kalau perempuan itu bahannya dari tulang rusuk; jadi mestinya lebih kuat! Tetapi tulang rusuknya Adam dari tanah juga, jadi sama saja.
 
Ceramah dr. Eli Lasut berjudul: “God is Energy, Rahasia di Balik Penciptaan”. Dia menjelaskan tentang kisah penciptaan, tentang Jadilah Terang. Apa itu terang dan energi. Gelap pekat itu sama sekali tidak baik. Terang itu baik. Tetapi dari mana asalnya terang? Eli mengaku bahwa ia berdiskusi banyak tentang fisika dan energi dalam penjara dengan ahli nuklir lulusan Jerman yang juga terjerat kasus hukum dan ada di dalam penjara bersama-sama dengan dia. Jadi, ia mendapatkankan ilmu fisika gratis dan ia hubungkan dengan latar belakang medisnya sebagai dokter.
 
Tubuh manusia itu mengandung tenaga listrik. Setiap sel butuh manusia mengandung 0.24 mikro volt, dia bilang. Jadi tubuh manusia juga mengandung energi listrik. God is Energy. Human body is enegy.
 
Lalu dr. Eli Lasut bicara tentang “tubuh dasar” dan “tubuh alkalis”. Ia merentangkan kedua tangannya dan mengatakan: “kalau tubuh saya ini meleleh atau mencair karena terdi dari unsur tanah dan air, maka saya akan hilang lenyap. Tubuh dan tulang-tulang saya habis. Begitulah yang terjadi kalau saya mati.
Tetapi itu hanya tubuh alkalis saya yang hilang. Masih ada “tubuh dasar” yaitu roh dan jiwa saya. Roh dan jiwa itu adalah “tubuh roh”. Selama ceramah Eli hanya mengatakan “Roh” atau “tubuh roh”. (Eli belum pernah terucap (tacumu) tubuh rohani. Di akhir ceramah saya bilang kepada Eli: St. Paulus memakai istilah: Tubuh Rohani, bukan tubuh roh).
 
Beda antara “tubuh alkalis” dan “tubuh dasar” dia berikan contoh: “Waktu saya (Eli Lasut) mendarat di bandara Sam Ratulangi, ribuan masa menjabut saya dan langsung kenal saya Eli Lasut. Padahal sudah 5 tahun mereka tidak melihat saya. Tetapi heran, Maria Magdalena, Yesus baru mati 3 hari, ia sudah tidak kenal Dia lagi. Maria Magdalena mengira Yesus: tukang kebun, penjaga taman, atau malah menuduh dia yang mencuri jenasah-Nya. Begitu pula dua murid ke Emaus (Eli Lasut bilang pondok emaus… dan para frater tertawa); dan juga Petrus dan Yohanes di tepi pantai. Mengapa mereka tidak mengenal Yesus? Karena tampil bukan dengan “tubuh alkalis” melainkan dengan “Tubuh Rohani”.
Tema Tubuh Rohani itu membuat saya ingat akan St. Paulus karena ia adalah ahlinya untuk menjelaskan Tubuh Rohani itu. Paulus sudah melihat “Tubuh Rohani”  yang mulia dan yang bangkit itu yang terentuk dari cahaya. Tubuh itu tidak terbentuk lagi dari tanah dan air, melainkan dari Energi dan Cahaya.
 
Sebagai teolog, saya menyimak penjelasan Eli Lasut dengan cermat dan argumentasinya semakin menguatkan iman. Betapa hal-hal rohani itu bisa sesuai dengan pengertian ilmu fisika tentang materi. Penjelasan Eli kalau ditambahkan satu kata saja: menjadi indah sekali untuk iman: God is the Energy of Love. Allah adalah Energi Cinta.
Energi itu bukan listrik atau medan agnet atau panas, melainkan Cinta yang penuh daya dan begitu intens sehingga mengangung kekuatan yang dahsyat. Dr. Eli Lasut belum menyebut bahwa Energi itu adalah “Kekuatan Cinta”. Dengan menambahkan “Cinta” maka Allah menjadi personal dan relasional; dan ini sesuai dengan gambaran Allah dalam kekristenan.
 
Eli menjelaskan juga apa artinya panas dan api penyucian. Dalam ilmu fisika, kalau orang mau memisahkan unsur-unsur yang menyatu maka diperlukan dua cara: diberikan tekanan yang lebih besar dari kekuatan pengikat itu atau dipanaskan. Begitu pula kalau Roh Manusia ingin dipisahkan dari ikatannya dengan hal-hal duniawi supaya bisa menyatu dengan Roh Allah; maka diperlukan cara untuk memisahkan ikatan itu. Semakin kuat ikatan itu, semakin besar pula energi yang diperlukan dan itu akan menyebabkan semakin panas.
Dan itulah Api penyucian. Api penyucian adalah panas yang ditimbulkan akibat kuatnya ikatan Roh Manusia dengan hal-hal dunia. Dan kalau roh manusia berhasil dilepaskan dari ikantannya dari hal-hal duniawi, maka ia kemudian menyatu dengan Roh Allah yang menjadi asal-usulnya. Ingat, dalam Kej. 2: 7: Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
Energi kehidupan yang diberikan oleh Allah itu kekal, dan itu sesuai dengan hukum kekekalan energi dalam fisika. Energi itu memang kekal, tidak bisa hilang, hanya berubah bentuknya. Dalam fisika memang diakui energi itu hanya mengambil bentuk-bentuk yang berbeda, namun ia tidak pernah bisa hilang.
 
Eli menjelaskan bahwa dalam organ tubuh manusia ada bagian-bagian yang bekerja secara otomatis karena digerakkan oleh energi yang ada di dalam tubuh manusia itu sendiri. Ia tidak bisa diperintahkan oleh syaraf atau oleh otak: misalnya: denyut jatung. Kita tidak bisa bilang: hai jatung… istirahat dulu sebentar… tidak bisa. Ia akan berdenyut terus; demikian pula dengan aliran darah ke seluruh tubuh yang dipompa oleh jantung itu. Organ itu bergerak bukan karena kita, melainkan karena Tuhan yang adalah Energi kehidupan.
 
Energi yang tidak bisa hilang (kekekalan energi) itu bisa juga disalurkan dan mengalir kepada orang lain. Lalu Eli berkeyakinan bahwa doa itu adalah cara menyalurkan energi positif. Kalau kita mendoakan seseorang, maka kita menyalurkan energi positif kepadanya. Demikian pula kalau kita mendoakan orang yang sudah meninggal, maka doa itu pasti ada efeknya untuk rohnya.
Asal kita dengan sungguh-sungguh dan serius mendoakannya, maka saudara kita yang sudah meninggal itu pasti lebih cepat untuk masuk ke sorga. Karena kita tambah energi positif untuk memisahkan rohnya dari ikatannya pada hal-hal duniawi dan membuat dia lebih cepat bersatu dengan Allah.
Terus terang: Ceramah dr. Eli Lasut ME (dokter yang belajar ekonomi dan pernah jadi bupati termuda dan bicara teologi itu) semakin menguatkan iman saya.
Kredit foto: Ilustrasi (Ist)
 
 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply