Ayat bacaan: Kejadian 6:22
======================
“Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.”

Anda tentu masih ingat dengan sinetron Keluarga Cemara yang disiarkan beberapa tahun lalu. Ditengah sinetron-sinetron berisi pesan-pesan negatif seperti perselingkuhan, anak-anak tidak sopan atau ibu kejam yang mengajarkan banyak kekerasan, sikap tidak sopan dan gaya hidup hedon, sinetron yang satu ini tampil bersahaja dalam kesederhanaan. Banyak nilai-nilai baik yang dibawa serial ini terutama dari komunikasi antar anggota keluarga yang sopan dan akrab satu sama lain. Ketika banyak sinetron mengedepankan hidup glamor, kemewahan hidup dan kesenjangan sosial, keluarga Cemara menampilkan sesuatu yang berbeda, akar budaya asli Indonesia yang sekarang justru hilang ditelan gemerlap kehidupan yang katanya gaya modern. Orang tua yang selalu perhatian kepada anak-anaknya, sabar dan penuh tanggung jawab, anak-anak yang patuh dan bagaimana cara menyelesaikan masalah-masalah dengan kehangatan keluarga menjadi bentuk keluarga rukun harusnya bisa menginspirasi banyak keluarga. Tapi pada kenyataannya itu jauh panggang dari api. Apa yang banyak terjadi saat ini adalah keluarga amburadul, acak-acakan, retak disana-sini dan keropos. Apakah sinetron-sinetron tidak mendidik yang menunjukkan bentuk keluarga kacau penuh dengan perilaku tidak beradab yang memicu? Apakah anak-anak yang belum bisa membedakan antara sebuah tontonan dengan kehidupan nyata kemudian menjadi korban dan menghancurkan generasi-generasi muda? Entahlah. Tapi yang pasti, pada hari ini ada banyak keluarga yang diambang kehancuran. Anak-anak yang tidak punya etika, orang tua yang tidak lagi peduli anak dan mengira bahwa uang mampu menjadi penjamin kebahagiaan, pasangan-pasangan yang diujung perceraian, suasana rumah panas yang membuat anggota-anggotanya malas pulang, perselingkuhan dan gaya-gaya hidup hedon tanpa memperhatikan kemampuan finansial karena terjebak pergaulan yang buruk menjadi sesuatu yang biasa saat ini. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri, dengan gadgetnya sendiri. Komunikasi hanya kalau perlu saja, selebihnya urus saja masing-masing. Inilah tragedi kehidupan banyak keluarga saat ini, yang amatlah jauh dari gambaran keluarga yang ada dalam rencana Tuhan ketika menciptakan pria dan wanita.

Ada begitu banyak keluarga yang isinya sudah tidak lagi searah, apalagi satu suara dalam memutuskan sesuatu. Katanya musyawarah mufakat merupakan ciri bangsa ini, tetapi dalam bentuk komunitas terkecil yaitu keluarga saja sudah susahnya minta ampun untuk diterapkan. Mencari kesepakatan dalam memutuskan sesuatu terutama yang penting merupakan hal yang mutlak dalam membina rumah tangga. Memang ada kalanya itu sulit dilakukan, tapi biar bagaimanapun komunikasi dengan dasar kasih jelas diperlukan dalam setiap keluarga agar bisa satu suara atau kompak dalam mengambil solusi dalam setiap permasalahan. Ada banyak bentuk masalah yang muncul dalam sebuah keluarga, mulai dari hal biasa sampai sesuatu yang serius. Tentu sulit untuk sepakat apabila komunikasi dalam keluarga tersendat, tidak berjalan baik atau bahkan terputus bukan?

Adalah wajar apabila semua orang punya pandangan yang akan mengarah kepada penyelesaian yang berbeda pula dalam mengatasi masalah baik besar maupun kecil. Akan tetapi Alkitab menekankan pentingnya sebuah kesatuan dalam sebuah keluarga. Yang penting adalah bagaimana kita mencari sebuah titik temu, agar semua keputusan yang diambil adalah yang terbaik bagi seluruh anggota keluarga, didasarkan pada kesepakatan bersama dan tentunya harus sesuai dengan firman Tuhan. Satu keluarga, satu suara, dan tidak keluar dari koridor ketetapan Tuhan. Dengan menekankan hal itu dalam keluarga saya, saya membuktikan sendiri betapa suasana dalam rumah tangga terasa damai dan bahagia. Masalah tetap ada dan akan selalu ada, tetapi dalam menghadapinya kami seiring dan sejalan. Frekuensi perselisihan bisa berkurang secara drastis. Saling menyalahkan akan sangat minimal kalaupun harus ada. Biarlah semua berjalan seijin Tuhan. Berdoa ntuk mencari jalan yang terbaik sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan secara bersama-sama lalu memutuskan bersama-sama pula, sepakat antar seisi keluarga dan Tuhan. Karena itulah walaupun terkadang keputusan secara pribadi berbeda, namun titik temu pasti selalu ada, dan itulah yang kami pilih untuk dijadikan dasar dalam mengambil keputusan.

Akan halnya kesatuan keluarga, kita bisa meneladani keluarga Nuh. Pada masa itu moral manusia sangat buruk, bahkan dikatakan benar-benar telah rusak di hadapan Allah (Kejadian 6:11). Isi dunia dikatakan hanyalah kejahatan. “Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.” (ay 12). Karena itulah Tuhan memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk di bumi, tapi tidak bagi Nuh dan keluarga, yang dikatakan sebagai orang benar, tidak bercela, dan hidup bergaul dengan Allah. (ay 1). Tuhan menyuruh Nuh yang sudah sangat tua untuk membangun bahtera yang ukurannya super besar. Itu adalah hal yang sangat tidak masuk akal karena pada waktu itu belum ada catatan bahwa hujan pernah turun. Belum ada hujan, belum pernah banjir, untuk apa membuat bahtera raksasa? Mungkin, seperti apa bentuk bahtera pun belum terbayang waktu itu. Tapi Tuhan menyuruh Nuh membuat bahtera raksasa. Apa yang dilakukan Nuh mengikuti perintah Tuhan tentu lucu, aneh atau bahkan dianggap gila bagi orang lain pada masa itu, terlebih jika mengingat bahwa manusia pada saat itu bukanlah manusia-manusia yang baik sifatnya. Nuh dan keluarga tentu diejek habis-habisan ketika membangun bahtera itu. Meski demikian, Alkitab mencatat ketaatan Nuh yang terus mengerjakan hingga selesai. “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.” (ay 22). Menghadapi olok-olok dan menjadi bahan tertawaan selama membangun kapal dalam jangka waktu panjang tentu tidak gampang.

Apa yang membuat Nuh tegar untuk menyelesaikan itu semua? Selain Nuh percaya penuh pada Tuhan, tidak disangsikan bahwa ia pun didukung seluruh keluarganya. Mereka bersepakat mengikuti perintah Tuhan, menjalani tepat seperti apa yang diinginkan Tuhan untuk dilakukan. Mereka bersatu, mereka mendengar, mereka melakukan, bersama-sama. Tanpa itu semua, niscaya Nuh akan mudah patah semangat menghadapi tekanan. Tidak ada satupun ayat yang menyatakan mereka berbantah-bantah, berbeda pendapat atau suara. Mereka semua patuh dan taat baik dalam mengerjakan maupun mengumpulkan hewan-hewan untuk masuk bersama ke dalam bahtera setelah selesai dibangun. Mereka satu suara, seiring dan sejalan. Bukan tidak mungkin pekerjaan Nuh dalam membangun kapal yang luar biasa besar itu pun tidak sendirian, melainkan dibantu oleh seluruh anggota keluarganya. Dan ketika air bah turun, keluarga Nuh pun selamat dan mendapat curahan berkat dari Tuhan. (9:1).

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.